Happy Salma dan Yuni Jie Anggap Perimenopause Jadi Momen ''Self-Love''
Happy Salma dalam acara HER: Intelligent Beauty: The Kartini Collective Edit di Jakarta, Kamis (16/4/2026).(-)
15:05
19 April 2026

Happy Salma dan Yuni Jie Anggap Perimenopause Jadi Momen ''Self-Love''

- Fase perimenopause sering kali dihadapi dengan rasa cemas oleh perempuan karena perubahan hormon yang tidak menentu.

Gejala fisik seperti perut terasa begah atau bloating hingga gangguan emosional, kerap membuat masa transisi menuju menopause ini terasa menyiksa secara psikis bagi mereka yang menjalaninya.

Aktris dan produser teater, Happy Salma, memandang fenomena alami ini dari sudut pandang yang sangat berbeda.

Bagi perempuan berusia 46 tahun ini, fase tersebut justru menjadi momen refleksi untuk menjalin hubungan yang lebih mendalam dengan diri sendiri serta sang pencipta.

"Ini adalah sebenarnya momen yang paling baik banget untuk kualitas hidup kalau menurut saya adalah di usia-usia sekarang saya," kata Happy dalam acara "HER: Intelligent Beauty: The Kartini Collective Edit" di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

"Karena itu, kita kepada Sang Pencipta menjadi lebih romantis, terhadap diri kita menjadi romantis, menjadi sahabat-sahabat atau keluarga kita, lebih appreciate," tutur Happy.

Baca juga: Perimenopause: Gejala, Beda dengan Menopause, dan Cara Mengatasinya

Transformasi penerimaan diri dan perubahan fisik

Mengenali gejala perimenopause dan "brain fog"

Banyak perempuan mengalami kesulitan memahami apa yang terjadi pada tubuh mereka saat memasuki usia akhir 30-an atau awal 40-an.

Happy menceritakan bagaimana ia mengamati perjuangan kakak-kakaknya dalam menghadapi fase yang minim informasi ini. Hal tersebut mendorongnya untuk membuat ruang aman bagi perempuan melalui "Kian Podcast".

"Saya mengikuti bagaimana struggling-nya mereka untuk menghadapi dirinya dengan sesuatu yang mereka juga tidak paham, dan hanya sedikit sekali informasi yang menggali tentang kesenyapan atau kesendirian para perempuan di usia-usia tersebut," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa gejala perimenopause bahkan bisa dimulai sejak usia 35 tahun, yang ditandai dengan perubahan siklus menstruasi hingga kondisi psikis yang lebih sensitif.

Salah satu tantangan yang paling nyata adalah kemunculan brain fog atau kabut otak yang mengganggu konsentrasi.

Sebagai seniman yang terbiasa menghafal naskah puluhan halaman, Happy merasakan dampak ini secara langsung.

Baca juga: Gejala Perimenopause yang Lazim Dialami Wanita Usia 40 Tahun

Desainer interior Yuni Jie dalam acara HER: Intelligent Beauty: The Kartini Collective Edit di Jakarta, Kamis (16/4/2026).- Desainer interior Yuni Jie dalam acara HER: Intelligent Beauty: The Kartini Collective Edit di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

"Katanya perimenopause ini ada yang namanya brain fog ya, akhirnya kita kayak berkabut semua kepala kita tiba-tiba bisa lupa. Nah hal-hal semacam itu bagaimana untuk kita mengenali tubuh," ungkap Happy.

Menjadikan olahraga sebagai bentuk self-love

Kesadaran untuk mencintai diri sendiri sering kali muncul saat tubuh mulai memberikan sinyal-sinyal ketidaknyamanan.

Selain Happy, desainer interior Yuni Jie juga mengaku mulai merasakan perubahan aneh pada tubuhnya saat memasuki usia 40 tahun.

Keadaan tersebut memaksanya untuk mengambil tindakan nyata demi menjaga kedamaian pikiran dan kebugaran fisik.

Baca juga: Trik Bugar di Usia 40 an ala Marsha Timothy dan Mita Soedarjo

"Saya mulai merasakan perimeno, perubahan di badan yang sangat aneh, mulai bloating, mulai berasa pegal-pegal badan, dan seterusnya. Jadi saya harus mengambil tindakan dan waktu untuk mencintai diri saya kembali," ujar Yuni.

Meski sebelumnya ia mengaku malas berolahraga, kini ia menjadikan aktivitas fisik sebagai rutinitas harian yang dinikmati.

Baginya, bergerak bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan dasar manusia untuk bertahan di tengah gempuran hormon yang fluktuatif.

Yuni mengungkap, ia menemukan benang merah bahwa aktivitas fisik adalah kunci utama.

"Kita sebagai manusia itu harus bergerak, so you have to move your body, you have to move your gut, dan lain-lain," tambah Yuni yang kini rutin berjalan di atas treadmill setiap hari.

Baca juga: 7 Vitamin Penting untuk Wanita Usia 40 Tahun agar Tetap Sehat

Dukungan teknologi untuk redam gangguan fokus dan suasana hati

Selain perenungan spiritual dan olahraga, dukungan medis dan teknologi kini hadir sebagai solusi praktis untuk menjaga performa otak yang menurun akibat penuaan.

Pemilik klinik kecantikan Dermalogia, dr. Arini Astasari Widodo, Sp.D.V.E, FINSDV, menjelaskan bahwa hormon yang "gonjang-ganjing" saat perimenopause sangat memengaruhi kemampuan otak dalam meregulasi suasana hati dan fokus.

"Otak kita punya kemampuan untuk meregulasi semuanya. Fokus, mood, concentration, meregulasi sleep. Tapi dengan adanya hormon yang sebenarnya turun, gonjang-ganjing, itu akan memengaruhi semuanya termasuk otak," papar dr. Arini.

Ia menuturkan bahwa teknologi seperti stimulasi otak hadir untuk meningkatkan kembali kapasitas tersebut agar perempuan tetap bisa berfungsi secara optimal.

Happy pun sepakat bahwa pengetahuan dan teknologi adalah jalan ikhtiar dalam mencintai diri sendiri. Baginya, mencoba terapi tertentu adalah bentuk tanggung jawab terhadap "kendaraan" tubuh yang ia miliki agar tetap bisa menjalani berbagai peran dengan bahagia.

Baca juga: Studi: Duduk Sambil Membaca atau Menulis Bantu Jaga Kesehatan Otak

Tag:  #happy #salma #yuni #anggap #perimenopause #jadi #momen #self #love

KOMENTAR