Meneladani Kartini, Pentingnya Perempuan Terus Belajar dan Mandiri
Semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini masih relevan hingga kini.
Di tengah berbagai tantangan sosial dan perkembangan zaman, perempuan didorong untuk terus belajar dan mengembangkan diri agar mampu berdiri mandiri.
Pendidikan Jadi Fondasi Kekuatan
Guru Besar Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, menekankan bahwa pendidikan menjadi fondasi penting dalam membangun kekuatan perempuan.
Melalui pendidikan, perempuan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam menghadapi persoalan hidup.
Menurut dia, proses belajar tidak terbatas pada pendidikan formal di sekolah atau perguruan tinggi.
Perempuan juga dapat mengasah kemampuan melalui pendidikan non-formal, membaca, serta mengikuti perkembangan informasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
"Mereka tahu bisa menyelesaikannya dengan beberapa macam cara atau bisa melihat suatu masalah dari angle-angle berbeda," ujar Prof Romy dikutip dari ANTARA, Rabu (22/4/2026).
"Semoga perempuan-perempuan di Indonesia juga betul-betul kuat, dan ternyata banyak sudah yang seperti itu, dan bisa mempertahankan dirinya untuk kemudian bisa berkembang dengan baik," tambahnya.
Baca juga: Kartini Masa Kini: Perjuangan Perempuan Melawan Tekanan Media Sosial
Pentingnya Peran Orangtua Sejak Dini
Prof. Romy juga menyoroti pentingnya menanamkan nilai-nilai pendidikan sejak dini.
Peran orangtua menjadi krusial dalam mendampingi anak, termasuk anak perempuan, untuk memahami mana informasi yang baik dan buruk, serta membentuk dasar moral yang kuat.
Menurutnya, anak perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi. Ini berkaitan dengan pembentukan moral, sehingga mereka bisa menentukan apa yang benar dan tidak.
Baca juga: Kartini Modern Bukan Sekadar Kuat, Ini Cara Mendidik Anak Perempuan Tangguh
Keberanian Melindungi Diri
Selain itu, kemampuan berkomunikasi secara asertif juga menjadi bagian penting dari pemberdayaan perempuan.
Dengan sikap asertif, perempuan dapat menyampaikan pikiran, perasaan, dan keinginannya dengan jelas tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kemampuan ini dinilai dapat membantu perempuan menghindari berbagai bentuk intimidasi dan kekerasan.
Pasalnya, masih banyak perempuan yang ragu atau takut untuk bersuara ketika menghadapi situasi yang merugikan.
Baca juga: Kartini Modern Tak Hanya di Ruang Publik, Ini Pandangan Sosiolog
Ilustrasi 120 Ucapan Selamat Hari Kartini 2026, dari Formal hingga Kekinian yang Inspiratif
Kemandirian sebagai Kunci
Prof. Romy menambahkan, salah satu faktor yang membuat perempuan enggan melaporkan kekerasan adalah ketergantungan terhadap pelaku.
Oleh karena itu, kemandirian menjadi kunci agar perempuan memiliki keberanian untuk mengambil keputusan dan melindungi dirinya.
Ia menyebut, kalau perempuan mandiri, mereka bisa lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan tidak mudah terjebak dalam ketergantungan.
Semangat untuk terus belajar, berkembang, dan mandiri inilah yang sejalan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini.
Di era modern, perjuangan tersebut tidak lagi hanya soal akses pendidikan, tetapi juga tentang bagaimana perempuan dapat memaksimalkan potensi diri dan berdaya dalam berbagai aspek kehidupan.
Baca juga: Hari Kartini 21 April: Sejarah, Makna, dan Relevansinya bagi Perempuan Masa Kini
Tag: #meneladani #kartini #pentingnya #perempuan #terus #belajar #mandiri