WFH Jumat Dinilai Bisa Buka Jalan Kerja 4 Hari, Sosiolog Ingatkan Syaratnya
Wacana WFH hari Jumat dinilai bisa menjadi pintu awal menuju sistem kerja empat hari dalam sepekan, tetapi penerapannya tidak cukup hanya memindahkan pekerjaan dari kantor ke rumah.
Sosiolog Universitas Nasional (Unas), Nia Elvina, M.Si., mengatakan kebijakan WFH dapat berdampak baik jika disertai sistem pengukuran kinerja yang jelas.
Menurut dia, fleksibilitas kerja perlu diimbangi dengan kualitas kerja yang tetap terukur, terutama bagi aparatur sipil negara atau ASN.
“Saya kira kebijakan WFH mungkin jalan awal menuju kerja cukup empat hari saja, akan tetapi kualitasnya yang lebih harus terukur,” kata Nia saat dihubungi Kompas.com, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Sosiolog UI: Jangan Sekadar Pindah Kerja ke Rumah
Bisa bantu perbaiki relasi keluarga
Nia menjelaskan, jam kerja yang terlalu panjang dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan keluarga.
Menurut dia, beberapa kajian menunjukkan bahwa kelebihan jam kerja dapat menimbulkan berbagai persoalan sosial, termasuk melemahnya ikatan dalam keluarga.
“Dari beberapa kajian, banyak permasalahan yang muncul karena kelebihan jam kerja, seperti kurang kuatnya ikatan dalam keluarga, misalnya antara suami-istri, ayah-anak, ibu-anak, dan terhadap keluarga besar,” ujar Nia.
Dalam konteks ini, WFH Jumat bisa dipahami bukan hanya sebagai kebijakan teknis, tetapi juga sebagai ruang untuk menata ulang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga.
Waktu yang tidak habis di perjalanan dapat memberi kesempatan bagi pekerja untuk lebih dekat dengan keluarga, sepanjang pekerjaan tetap berjalan sesuai target.
Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Antara Fleksibilitas dan Beban Baru di Rumah
Bukan hanya untuk pekerja yang sudah berkeluarga
Ilustrasi bekerja dari rumah, work from home, virtual assistant. Sosiolog Unas menilai WFH Jumat bisa menjadi awal menuju sistem kerja empat hari, asalkan kualitas kerja dan ruang lingkup tugas ASN tetap jelas serta terukur.
Nia mengatakan, dampak jam kerja panjang tidak hanya dirasakan oleh pekerja yang sudah menikah atau memiliki anak.
Pekerja yang masih sendiri juga dapat mengalami renggangnya hubungan dengan keluarga besar karena minimnya waktu bersama.
“Bagi yang masih sendiri, hubungan dengan keluarga besar juga menjadi renggang karena minimnya waktu bersama keluarga besar,” kata Nia.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pembahasan WFH Jumat tidak hanya terkait produktivitas kantor, tetapi juga kualitas relasi sosial pekerja di luar pekerjaan.
Bagi sebagian orang, fleksibilitas kerja dapat menjadi kesempatan untuk mengembalikan waktu yang selama ini tersita oleh rutinitas kantor dan perjalanan.
Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Hemat Anggaran atau Cuma Pindah Tempat Kerja?
Kinerja ASN harus jelas dan terukur
Meski melihat WFH atau kerja empat hari sebagai peluang yang baik, Nia menekankan pentingnya sistem kerja yang terukur.
Menurut dia, kebijakan ini akan lebih kuat jika ruang lingkup kerja ASN dibuat jelas.
“Saya kira kebijakan WFH atau kerja hanya empat hari amat baik, jika sistem untuk mengukur kinerja berkualitas dan khususnya bagi ASN, ruang lingkup kerjanya jelas dan terukur,” ujar Nia.
Dengan kata lain, WFH Jumat tidak bisa hanya dipahami sebagai hari kerja yang lebih longgar.
Kebijakan ini perlu disertai ukuran kinerja yang konkret agar fleksibilitas tidak menurunkan kualitas pelayanan dan tanggung jawab pekerjaan.
Fleksibilitas perlu aturan main
WFH Jumat dapat menjadi peluang untuk menciptakan pola kerja yang lebih manusiawi, terutama jika mampu mengurangi tekanan akibat jam kerja panjang.
Namun, penerapannya tetap membutuhkan aturan main yang jelas, mulai dari target kerja, batas komunikasi, hingga tanggung jawab setiap pegawai.
Tanpa sistem yang terukur, WFH berisiko hanya menjadi perubahan lokasi kerja tanpa perubahan kualitas kerja.
Sebaliknya, jika dirancang dengan baik, WFH Jumat dapat menjadi langkah awal untuk membangun budaya kerja yang lebih seimbang, produktif, dan tetap bertanggung jawab.
Baca juga: Cerita Tabita ASN Gen Z Jalani WFH di Jakarta, Fleksibel tapi Harus Selalu Siaga
Tag: #jumat #dinilai #bisa #buka #jalan #kerja #hari #sosiolog #ingatkan #syaratnya