Usai Kena Serangan Jantung di Usia 43, Pria Ini Turun 22 Kg dan Kini Ikut Marathon
Serangan jantung di usia 43 tahun menjadi titik balik bagi Thomas Dominguez.
Saat menjalani perawatan di rumah sakit, pria asal Corpus Christi, Texas, Amerika Serikat, itu juga didiagnosis pradiabetes akibat berat badan berlebih.
Melansir Men's Health (13/5/2026), Thomas kini berhasil menurunkan berat badan sekitar 22 kilogram dan rutin mengikuti lomba lari, termasuk marathon dan Spartan Race.
Baca juga: Turun 45 Kg dalam 11 Bulan Tanpa Gym, Pria Ini Ubah Pola Makan
Berat badan naik karena pola hidup tidak sehat
Thomas, yang kini berusia 45 tahun, mengatakan dirinya dulu bekerja 12 jam sehari di depan panel kontrol kilang minyak.
Karena jadwal kerja yang padat, ia terbiasa memilih makanan cepat dan praktis tanpa terlalu memikirkan kandungan gizinya.
“Selama bertahun-tahun berat badan saya terus naik,” ujarnya.
Pada kondisi terberatnya, berat badan Thomas mencapai sekitar 98 kilogram.
Ia mengaku kondisi tersebut membuatnya tidak percaya diri. Ia selalu mengenakan pakaian ukuran besar dan jarang memasukkan kemeja ke celana karena merasa tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya.
Namun, titik terendah dalam hidupnya datang pada Agustus 2023 ketika ia mengalami serangan jantung.
Baca juga: Turun 73 Kg Tanpa Gym, Rahasia Diet Ini Cuma Jalan Kaki Setiap Hari
Diagnosis pradiabetes jadi alarm kesehatan
Ilustrasi diabetes. Setelah didiagnosis pradiabetes usai serangan jantung, Thomas mulai mengubah pola makan hingga rutin berlari setiap hari.
Thomas kemudian mengetahui bahwa serangan jantung yang dialaminya tidak hanya dipengaruhi obesitas, tetapi juga faktor genetik yang memengaruhi kondisi pembuluh darahnya.
Meski begitu, dokter juga mendiagnosisnya mengalami pradiabetes akibat berat badan berlebih.
Saat menjalani perawatan di rumah sakit, Thomas bertemu pasien diabetes yang diberi tahu bahwa kedua kakinya harus diamputasi akibat komplikasi penyakit.
“Saya takut karena merasa sedang menuju kondisi yang sama,” katanya.
Momen itu membuat Thomas sadar bahwa ia harus segera mengubah gaya hidup demi bisa tetap sehat untuk keluarganya.
Baca juga: Sudah Diet Tapi Gampang Gemuk, Ternyata Ini Alasan Medis di Balik Efek Yoyo
Mulai mengatur pola makan
Setelah keluar dari rumah sakit, Thomas mulai mencari cara menurunkan berat badan dengan aman.
Ia kemudian mengikuti program kesehatan yang disediakan perusahaan tempatnya bekerja. Dari sana, ia mendapat pendamping kesehatan dan pelatih nutrisi.
Thomas diminta menjaga asupan karbohidrat di bawah 30 gram per hari dan protein sekitar 396 gram per hari.
Menu hariannya pun berubah. Untuk sarapan, ia memilih telur dan sosis. Saat makan siang, ia mengonsumsi daging sapi dengan keju dan sayuran. Sedangkan makan malam diisi ayam atau steak dengan brokoli. Sesekali, ia juga mengonsumsi yoghurt sebagai camilan.
Menurut Thomas, dukungan dari pelatih kesehatan sangat membantunya bertahan menjalani perubahan pola hidup.
Turun 22 kilogram dalam beberapa bulan
Dalam beberapa bulan, berat badan Thomas turun dari sekitar 95 kilogram menjadi 73 kilogram.
Kadar HbA1c atau penanda gula darahnya yang sempat mencapai 6,8 persen juga turun menjadi 4,9 persen dalam tiga bulan.
Selain ukuran celana yang mengecil hingga lima nomor, Thomas mengaku energinya meningkat drastis.
“Saya merasa jauh lebih bertenaga. Pikiran juga lebih jernih,” ujarnya.
Ia mengatakan sebelumnya sering mengalami brain fog atau sulit fokus, tetapi kondisi itu kini hilang. Tidurnya juga terasa lebih nyenyak.
Baca juga: Bukan Diet Ekstrem, Ini Cara Menurunkan Berat Badan Cepat tapi Aman
Kini rutin lari dan ikut marathon
Setelah berat badannya turun, Thomas mulai rutin jogging dan pergi ke gym.
Awalnya ia hanya berlari sekitar 1,6 kilometer per hari, lalu perlahan meningkat hingga sekitar 4 kilometer.
Ia bahkan tetap berlari setelah menjalani shift kerja selama 12 jam.
Beberapa bulan kemudian, Thomas mulai mengikuti Spartan Race dan mendaftarkan diri dalam dua marathon.
Kini, ia berolahraga enam hari dalam seminggu dan sering latihan bersama putra bungsunya yang aktif di olahraga football, renang, atletik, dan angkat beban.
Menurut Thomas, perubahan terbesar dalam perjalanan dietnya adalah cara pandangnya terhadap makanan.
“Penurunan berat badan membutuhkan proses yang pelan dan konsisten,” katanya.
Meski kini menjaga pola makan lebih ketat, Thomas mengaku tetap sesekali menikmati makanan penutup favoritnya.
“Asal kembali ke pola pikir sehat setelah itu, semuanya akan baik-baik saja,” ujarnya.
Baca juga: Pria Ini Turun 45 Kg dengan Aplikasi Diet AI, Ahli Ingatkan Jangan Asal Ikut
Tag: #usai #kena #serangan #jantung #usia #pria #turun #kini #ikut #marathon