Strategi Jenama Fesyen Lokal Menarik Perhatian Media
- Mendapatkan sorotan dari pemberitaan merupakan salah satu langkah penting bagi jenama fesyen lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Lewat ulasan media, karya seorang desainer tidak hanya dikenal oleh segelintir orang di lingkaran mereka, tetapi juga berpeluang besar menarik minat pembeli potensial hingga kalangan investor.
Namun, di tengah banyaknya merek busana baru yang terus bermunculan, awak media tentu memiliki standar penyaringan tersendiri sebelum memutuskan untuk meliput sebuah koleksi.
Selain kualitas pakaian yang ditawarkan, kesiapan jenama dalam berkomunikasi dan menampilkan diri di ranah publik rupanya menjadi penentu utama yang sangat diperhatikan oleh para jurnalis.
Baca juga: Bukan Sekadar Festival Film, Cannes Jadi Panggung Fashion Paling Glamor di Dunia
Editor fashion, Daniel Ngantung, mengungkapkan bahwa redaksi memiliki berbagai kriteria khusus saat mempertimbangkan undangan peliputan dari sebuah jenama busana.
"Selain dari nama desainer itu, terus juga koleksi yang ditampilkan, yang baru. Kita juga ngelihat nih media sosial, karena juga menjadi pertimbangan juga," ungkap Daniel dalam diskusi JF3 bertajuk "Recrafted: Shaping the Future" di Summarecon Discovery, Jakarta Utara, Selasa (19/5/2026).
Kesiapan komunikasi dan kredibilitas di mata media
Pewarta yang telah lama menyelami dunia fesyen ini menuturkan, kehadiran jenama di dunia maya saat ini sudah berfungsi layaknya etalase toko utama.
Baca juga: 10 Merek Celana Jeans Lokal Terbaik yang Wajib Kamu Punya di Lemari
Editor Wolipop detikcom, Daniel Ngantung, dalam diskusi JF3 bertajuk Recrafted: Shaping the Future di Summarecon Discovery, Jakarta Utara, Selasa (19/5/2026).
Sebelum media menulis berita atau masyarakat memutuskan untuk bertransaksi, mereka umumnya akan mencari tahu profil jenama tersebut lewat internet.
Jika akun media sosial atau situs webnya tampak dibiarkan tidak terurus, kredibilitas bisa langsung menurun.
Daniel menambahkan bahwa rekam jejak digital sangat memengaruhi keputusan media untuk memberikan porsi pemberitaan.
"Maksudnya presensinya di media sosial. Ini legit enggak ya," tutur dia.
Baca juga: Bukan Cuma Busana, Riasan Met Gala 2026 Juga Jadi Karya Seni
Keterbukaan akses interaksi bagi publik dan pers
Selain tampilan yang rapi, kemudahan untuk dijangkau publik daring juga menjadi faktor penting.
Konsultan bisnis yang juga penulis fesyen, Linda, membagikan kekecewaannya saat menyusun artikel rekomendasi merek tas lokal untuk publikasi asing.
Ia menemukan ada jenama yang akunnya sama sekali tidak bisa di-tag oleh warganet di media sosial.
"Bayangkan. Zaman sekarang ada brand yang bahkan Instagram-nya tidak bisa di-tag. Itu sudah salah besar di dunia media zaman sekarang," keluh Linda sebagai masukan dalam diskusi tersebut.
Padahal, fitur dasar semacam itu sangat penting untuk memperluas jangkauan promosi secara cuma-cuma.
Baca juga: 8 Fashion Item Penting untuk Perempuan Tampil Elegan di Usia 30-an
Kepala Desk Budaya Harian Kompas sekaligus pengamat fesyen, Hilmy Faiq, dalam diskusi JF3 bertajuk Recrafted: Shaping the Future di Summarecon Discovery, Jakarta Utara, Selasa (19/5/2026).
Informasi faktual dalam siaran pers
Tantangan lainnya terletak pada cara jenama fesyen menyajikan siaran pers. Saat meluncurkan koleksi baru, perancang busana dituntut mampu menceritakan karyanya dalam format yang ringkas, bukan sekadar membagikan bahan tulisan yang bertele-tele.
Linda mengakui dirinya pernah menerima materi siaran pers yang tidak memuat informasi faktual mengenai koleksi busana, melainkan hanya sekadar ungkapan puitis yang sulit diolah menjadi naskah berita.
"Saya pernah dapat bahkan puisi. Jadi press conference desainer yang menolak bicara dan rilis yang diberikan kepada kami adalah puisi," ucap dia.
Siaran pers yang ideal sepatutnya mengandung informasi dasar yang langsung menjawab kebutuhan pewarta. Penulisan yang berpegang pada unsur dasar peliputan sangat dianjurkan untuk mempermudah pekerjaan wartawan.
Baca juga: 5 Inspirasi Bergaya dengan Motif Polkadot yang Jadi Tren Fesyen
Menonjolkan nilai kebaruan untuk memikat jurnalis
Di samping itu, pesan yang disampaikan juga harus memiliki sudut pandang yang kuat. Kepala Desk Budaya Harian Kompas, Hilmy Faiq, menjelaskan bahwa jurnalis selalu mencari nilai kebaruan yang membedakan sebuah koleksi dari karya-karya jenama tersebut di musim sebelumnya.
"Jadi, perbedaan apa yang menunjukkan bahwa koleksi musim ini atau edisi kali ini itu lebih berbeda dibandingkan yang kemarin meskipun tetap in line ya," terang Hilmy yang juga merupakan seorang pengamat fesyen.
Dengan kombinasi siaran pers yang tertata rapi, serta menonjolkan perbedaan koleksi yang tajam, desainer akan jauh lebih mudah membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan media massa.
Baca juga: Shimmer dan Katbol Ditinggalkan, Quiet Luxury Jadi Arah Baru Fesyen Lebaran 2026
Tag: #strategi #jenama #fesyen #lokal #menarik #perhatian #media