Tren Kecantikan Viral Belum Tentu Aman
Masih banyak orang yang menganggap semua tips viral di media sosial pasti benar hanya karena populer atau disampaikan oleh influencer tertentu. Padahal, tidak semua tren kecantikan yang kita lihat di media sosial aman untuk semua jenis kulit.
Tanpa pemahaman yang tepat, mengikuti tren secara sembarangan justru bisa merusak kesehatan kulit. Penggunaan produk yang berlebihan, mencampur bahan aktif tanpa aturan, demi hasil cepat, dapat memicu iritasi, jerawat, kulit sensitif, bahkan merusak skin barrier.
Menurut dermatolog dr. Hafiza Fikri, Sp.DVE, FINSDV, masyarakat perlu lebih kritis dalam menerima informasi kecantikan di media sosial. Jangan mudah percaya hanya karena seseorang terlihat meyakinkan di media sosial.
Ia mencontohkan melakukan treatment yang terlalu agresif hanya karena ingin mendapatkan kulit glowing instan, justru berdampak sebaliknya.
Baca juga: Kenali Kebutuhan Kulit, Jangan Tergoda Tren Kecantikan Viral
"Misalnya saking ingin glowing instant, treatment A, B, C di klinik A diborong karena promo, di klinik B beda 2 hari. Dan itu semua agresif treatment yang memang bikin kulit jadi rusak skin barriernya, tadinya normal jadi malah sensitif," paparnya di acara workshop “ISISPHARMA Dermfluencer Movement: Influence with Impact” di Jakarta (24/6/2026).
Melakukan perawatan kulit sembarangan juga bisa menyebabkan kerusakan permanen, misalnya muncul bagian putih-putih di bagian kulit wajah karena melanosit atau penghasil pigmen rusak.
"Melanosit ini bisa rusak gara-gara overtreatment, misalnya pakai laser ketinggian energinya, sehingga melanocitnya rusak, akhirnya kalau diperhatiin jadi kayak panu padahal sebenarnya itu exposure overtreatment dari device tertentu misalnya. Mengembalikannya itu hampir mustahil, panjang prosesnya," kata dr. Hafiza.
Karena itu, sebelum mencoba produk atau rutinitas kecantikan yang sedang viral, penting untuk mencari tahu terlebih dahulu dasar ilmiahnya dan memahami kebutuhan kulit masing-masing.
Baca juga: Prediksi Tren Kecantikan 2026, Lebih Minimalis dan Fokus ke Kualitas
Workshop ?ISISPHARMA Dermfluencer Movement: Influence with Impact? di Jakarta (24/5/2026).
Peran dokter sebagai sumber informasi akurat
Di Indonesia sendiri, Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) telah memiliki pedoman etika bermedia sosial bagi dokter yang aktif memberikan edukasi digital. Hal ini dilakukan agar informasi yang disampaikan tetap profesional, berbasis medis, dan tidak menyesatkan.
Dokter Hafiza menekankan bahwa dokter memiliki peran penting sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan dan pemahaman publik.
“Fungsi kita itu jembatan antara science dan public understanding. Kita harus ngasih info yang benar,” katanya.
Baca juga: Masyarakat Urban Indonesia Makin Selektif Memilih Perawatan Kecantikan, Tak Sekadar Ikut Tren
Ia juga menyoroti pentingnya edukasi yang konsisten agar masyarakat dapat membedakan informasi kesehatan yang valid dan sekadar tren sesaat.
“Yang penting itu culture untuk mengedukasi. Sikap mendidik untuk para medis punya dasar, itu yang paling penting,” lanjutnya.
Untuk mendorong lebih banyak dokter, khususnya dokter kecantikan, aktif melakukan edukasi berbasis ilmiah di dunia digital, produk perawatan kulit asal Perancis, ISISPHARMA mengadakan workshop “ISISPHARMA Dermfluencer Movement: Influence with Impact”. Kegiatan itu menggabungkan dunia dermatologi, estetika medis, dan digital communication.
Dini Ika Pratiwi selaku Marketing Head Skincare Regenesis Indonesia menjelaskan bahwa Dermfluencer Movement merupakan langkah strategis ISISPHARMA dalam memperluas peran tenaga medis sebagai trusted educator di era digital, sekaligus memperkuat hubungan antara science-based skincare dan kebutuhan pasien yang semakin komplek.
Pendiri ISISPHARMA, Gregoire Dewavrin mengatakan, mendukung para dokter untuk menyampaikan kepakarannya melalui media sosial.
“Kami berkomitmen untuk mendukung para dokter dengan menjembatani perawatan klinis dengan perawatan kulit harian yang efektif, sambil terus beradaptasi dengan kebutuhan pasien yang terus berkembang dan tren pasar,” kata Gregoire Dewavrin.
Baca juga: Standar Kecantikan Tak Harus Seragam, karena Setiap Shade Punya Cerita