Saat Dunia Kerja Berubah, Generasi Muda Dituntut Siap: Keterampilan Digital Jadi Kunci
Program Anak Muda untuk Dunia Kerja dan Wirausaha Digital yang Inklusif (ANDAL) (Dok. Istimewa)
08:31
2 Juni 2026

Saat Dunia Kerja Berubah, Generasi Muda Dituntut Siap: Keterampilan Digital Jadi Kunci

Perubahan dunia kerja berlangsung lebih cepat dibanding sebelumnya. Digitalisasi yang merambah hampir seluruh sektor industri tidak hanya mengubah cara perusahaan beroperasi, tetapi juga menciptakan jenis pekerjaan baru yang beberapa tahun lalu mungkin belum pernah dikenal. 

Di tengah perubahan tersebut, generasi muda Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang yang sama besarnya. Di satu sisi, masih banyak anak muda yang belum terserap ke dunia pendidikan maupun pekerjaan. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan sekitar 9,58 juta generasi muda atau 21,46 persen masuk dalam kategori Not in Education, Employment, and Training (NEET). Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kebutuhan pasar kerja dengan keterampilan yang dimiliki sebagian generasi muda.

Di sisi lain, ekonomi digital Indonesia terus tumbuh pesat. Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia mencapai hampir US$100 miliar pada 2025, sekaligus mempertahankan posisinya sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. 

Pertumbuhan tersebut menghadirkan berbagai peluang baru, mulai dari pekerjaan berbasis teknologi hingga kewirausahaan digital yang semakin diminati anak muda.

Dalam konteks inilah, membangun kesiapan generasi muda menjadi semakin penting. Kesiapan tersebut tidak hanya berarti memiliki kemampuan teknis untuk bekerja, tetapi juga mencakup keterampilan adaptasi, kemampuan berkomunikasi, literasi keuangan, hingga keberanian menciptakan peluang usaha sendiri.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Afriansyah Noor, menilai transformasi ekonomi digital harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang inklusif.

"Transformasi ekonomi digital harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia yang adaptif, kompeten, dan inklusif. Generasi muda perlu mendapatkan akses yang lebih luas terhadap pelatihan, pengembangan keterampilan, dan peluang kerja agar mampu bersaing serta berkembang di dunia kerja yang terus berubah," ujarnya.

Menurut Afriansyah, penguatan pelatihan vokasi dan kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting untuk menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan bebas dari diskriminasi. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri.

Dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas perlu bergerak bersama agar generasi muda memiliki kesempatan yang lebih setara dalam menghadapi masa depan dunia kerja.

Upaya tersebut kini banyak diwujudkan melalui program-program yang berfokus pada dua kebutuhan utama generasi muda saat ini, yakni persiapan kerja dan kewirausahaan digital.

Persiapan kerja menjadi fondasi pertama yang harus dibangun. Melalui pelatihan vokasi berbasis kompetensi, penguatan soft skills, literasi finansial, hingga edukasi mengenai lingkungan kerja yang aman dan inklusif, generasi muda dapat memiliki bekal yang lebih relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Namun, dunia kerja modern tidak lagi hanya menawarkan pilihan menjadi pekerja. Kemajuan teknologi juga membuka jalan bagi semakin banyak anak muda untuk membangun usaha secara mandiri. Karena itu, pilar kedua yang tidak kalah penting adalah kewirausahaan digital.

Platform digital kini memungkinkan seseorang memulai bisnis dengan modal yang lebih terjangkau dibandingkan model usaha konvensional. Peluang tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari penjualan produk secara daring, ekonomi kreator, pemasaran afiliasi, hingga usaha berbasis platform digital lainnya.

Melihat perubahan tersebut, berbagai pihak mulai mendorong pengembangan keterampilan digital yang lebih praktis dan sesuai kebutuhan pasar. Pelatihan mengenai pemasaran digital, pemanfaatan platform online, hingga strategi membangun sumber penghasilan dari ekosistem digital menjadi semakin relevan bagi generasi muda.

Salah satunya program Anak Muda untuk Dunia Kerja dan Wirausaha Digital yang Inklusif (ANDAL), sebuah inisiatif yang bertujuan memperkuat kesiapan kerja dan memperluas peluang ekonomi digital bagi generasi muda Indonesia, terutama perempuan yanh diinisiasi YCAB Foundation, dengan dukungan dari Global Innovation Challenge 2025 dari Citi Foundation.

Chief Operating Officer YCAB Foundation, Linda Sukandar, menilai bahwa kesiapan kerja saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Keterampilan yang sesuai kebutuhan industri dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor yang semakin menentukan.

"Melalui Program ANDAL, YCAB Foundation berupaya membantu generasi muda membangun kesiapan kerja melalui pelatihan keterampilan, penguatan soft skills, dan pendampingan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini," kata Linda.

Bersama Citi Foundation, dukungan pemerintah, dan berbagai pihak, Linda berharap program ini dapat membuka akses dan peluang yang lebih inklusif bagi generasi muda, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, agar mereka lebih siap berkembang di dunia kerja.

Pentingnya pendekatan yang inklusif juga menjadi perhatian utama. Kelompok perempuan dan penyandang disabilitas kerap menghadapi hambatan yang lebih besar dalam mengakses pelatihan maupun kesempatan kerja. 

Karena itu, perlu adanya program yang tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga memastikan akses yang setara bagi seluruh kelompok masyarakat.

Komitmen tersebut sejalan dengan pandangan Citi Indonesia mengenai pentingnya investasi pada generasi muda sebagai bagian dari pembangunan ekonomi jangka panjang.

Country Head of Public Affairs Citi Indonesia, Hario Widyananto, mengatakan bahwa pemberdayaan generasi muda merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

"Melalui dukungan Citi Foundation terhadap program ANDAL yang dilaksanakan oleh YCAB Foundation, kami ingin membantu membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan, membangun kesiapan kerja, serta menangkap peluang ekonomi di tengah perkembangan dunia yang terus berubah," ujarnya.

Pada akhirnya, membangun kesiapan generasi muda bukan sekadar mempersiapkan mereka mendapatkan pekerjaan pertama. Lebih dari itu, upaya ini merupakan investasi untuk menciptakan generasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan, memanfaatkan peluang ekonomi digital, serta menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

Dengan menguatkan dua pilar utama, persiapan kerja dan kewirausahaan digital generasi muda memiliki peluang lebih besar untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.

Editor: Dinda Rachmawati

Tag:  #saat #dunia #kerja #berubah #generasi #muda #dituntut #siap #keterampilan #digital #jadi #kunci

KOMENTAR