4 Fase Siklus Menstruasi yang Perlu Dipahami, dari Energi hingga Suasana Hati
Siklus menstruasi tak sekadar periode ketika perempuan mengalami perdarahan selama beberapa hari.
Perubahan yang terjadi sepanjang siklus menstruasi tidak hanya berkaitan dengan haid, tetapi juga melibatkan perubahan hormon yang dapat memengaruhi energi, suasana hati, fokus, hingga kebutuhan tubuh.
Setiap perempuan dapat mengalami pola yang berbeda, tetapi secara umum siklus menstruasi terbagi menjadi empat fase utama, yaitu fase menstruasi, fase folikular, fase ovulasi, dan fase luteal.
Memahami setiap fase ini dapat membantu perempuan lebih mengenali kondisi tubuhnya, termasuk kapan waktu yang tepat untuk meningkatkan aktivitas, berolahraga, bekerja dengan intensitas tinggi, atau memberi tubuh waktu untuk beristirahat.
Dilansir dari Healthline, perubahan hormon sepanjang siklus menstruasi dapat memengaruhi berbagai aspek tubuh, termasuk tingkat energi dan kondisi emosional.
Siklus menstruasi bukan hanya tentang masa haid, melainkan rangkaian perubahan biologis yang berlangsung sejak hari pertama menstruasi hingga menjelang menstruasi berikutnya.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), siklus menstruasi merupakan indikator penting dari kesehatan reproduksi perempuan.
Perubahan hormon seperti estrogen dan progesteron selama siklus dapat memengaruhi tubuh secara fisik maupun emosional.
Berikut empat fase siklus menstruasi yang perlu dipahami.
Fase siklus menstruasi
1. Fase menstruasi
Fase menstruasi dimulai pada hari pertama keluarnya darah haid dan berlangsung hingga sekitar tiga hingga tujuh hari, meski durasinya dapat berbeda pada setiap perempuan.
Pada fase ini, kadar hormon estrogen dan progesteron berada pada tingkat rendah.
Kondisi tersebut dapat membuat sebagian perempuan mengalami penurunan energi, perubahan suasana hati, kram perut, nyeri punggung, atau merasa lebih mudah lelah.
Tahirah Redhead, MPAS, PA-C, MPH, praktisi kesehatan perempuan bidang obstetri dan ginekologi, menjelaskan bahwa dii fase ini, perempuan lebih memperhatikan kebutuhan tubuh selama periode ini, misalnya dengan mencukupi waktu tidur, menjaga asupan makanan bergizi, serta memilih aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi tubuh.
Bukan berarti perempuan harus berhenti beraktivitas, tetapi memberikan ruang untuk beristirahat dapat membantu tubuh menjalani fase ini dengan lebih nyaman.
Baca juga: 3 Fase Usia Kulit dan Masalah yang Sering Muncul
2. Fase folikular
Fase folikular dimulai bersamaan dengan awal menstruasi dan berlanjut hingga sebelum ovulasi.
Pada fase ini, kadar hormon estrogen mulai meningkat. Peningkatan hormon tersebut dapat berpengaruh terhadap energi, suasana hati, dan kemampuan tubuh dalam menjalankan aktivitas.
Meningkatnya estrogen pada fase folikular sering dikaitkan dengan peningkatan energi dan perasaan lebih positif pada sebagian perempuan.
Karena itu, fase ini sering dianggap sebagai waktu yang lebih mendukung untuk memulai proyek baru, meningkatkan aktivitas fisik, atau melakukan kegiatan yang membutuhkan fokus lebih tinggi.
Meski demikian, respons tubuh tetap dapat berbeda-beda. Tidak semua perempuan akan merasakan perubahan yang sama setiap bulannya.
3. Fase ovulasi
Ovulasi terjadi ketika ovarium melepaskan sel telur dan biasanya berlangsung di pertengahan siklus menstruasi.
Pada fase ini, kadar estrogen mencapai puncaknya dan hormon luteinizing hormone (LH) meningkat untuk membantu proses pelepasan sel telur.
Beberapa perempuan melaporkan merasa memiliki energi lebih tinggi, suasana hati lebih baik, atau merasa lebih percaya diri saat memasuki fase ovulasi.
Namun, menurut para ahli, pengalaman setiap orang dapat berbeda. Faktor seperti pola tidur, stres, kondisi kesehatan, dan gaya hidup juga dapat memengaruhi bagaimana tubuh merespons perubahan hormon.
Baca juga: 4 Tahapan Hubungan Asmara, Kamu dan Pasangan Ada di Fase Mana?
4. Fase luteal
Fase luteal terjadi setelah ovulasi hingga sebelum menstruasi berikutnya.
Pada fase ini, hormon progesteron meningkat untuk mempersiapkan tubuh menghadapi kemungkinan kehamilan. Jika tidak terjadi kehamilan, kadar hormon tersebut kemudian menurun dan memicu menstruasi berikutnya.
Sebagian perempuan mengalami gejala premenstrual syndrome (PMS) pada fase ini, seperti perubahan suasana hati, payudara terasa nyeri, kembung, perubahan nafsu makan, atau penurunan energi.
Dilansir dari Office on Women’s Health, perubahan hormon menjelang menstruasi dapat menyebabkan berbagai gejala fisik dan emosional yang berbeda pada setiap perempuan.
Memahami fase luteal dapat membantu perempuan mengenali bahwa perubahan emosi atau energi yang muncul menjelang haid bukan sekadar “perasaan sesaat”, tetapi bisa berkaitan dengan perubahan biologis dalam tubuh.
Tag: #fase #siklus #menstruasi #yang #perlu #dipahami #dari #energi #hingga #suasana #hati