Trump Incar Jantung Ekspor Minyak Iran, Risiko Energi Global Meningkat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara dalam konferensi pers di Brady Briefing Room, Gedung Putih, Washington DC, sesaat setelah insiden penembakan makan malam pada 25 April 2026.(AFP/MANDEL NGAN)
21:52
11 Juni 2026

Trump Incar Jantung Ekspor Minyak Iran, Risiko Energi Global Meningkat

– Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengambil alih Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran, menjadi eskalasi terbaru dalam konflik antara Washington dan Teheran yang terus memanas.

Langkah tersebut dinilai berpotensi memperbesar tekanan terhadap pasokan energi global mengingat peran vital pulau tersebut dalam industri minyak Iran.

Dikutip dari CNBC, Trump pada Kamis (11/6/2026) menyatakan militer AS akan menyerang Iran dengan sangat keras pada malam hari setelah menyelesaikan serangkaian serangan udara sehari sebelumnya.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Berbalik Turun Meski Konflik AS-Iran Kian Memanas

Seorang wanita Iran berjalan melewati mural anti-AS dan anti-Israel di Teheran pada 21 April 2026, di tengah gencatan senjata di wilayah tersebut.ATTA KENARE Seorang wanita Iran berjalan melewati mural anti-AS dan anti-Israel di Teheran pada 21 April 2026, di tengah gencatan senjata di wilayah tersebut.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump juga mengancam akan mengambil “kendali penuh” atas pasar minyak dan gas Iran dalam waktu yang tidak lama lagi.

Pernyataan itu menjadi sinyal terbaru meningkatnya tekanan Washington terhadap sektor energi Iran di tengah kebuntuan negosiasi antara kedua negara.

Pulau Kharg merupakan terminal ekspor minyak utama Iran yang sebelum perang menangani sekitar 90 persen pengiriman minyak mentah negara tersebut ke pasar internasional.

Meski AS sebelumnya telah menyerang sejumlah target militer di pulau itu, Washington sejauh ini sebagian besar menghindari tindakan yang secara langsung menargetkan atau mengambil alih infrastruktur minyak dan gas Iran.

Baca juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak

Namun, pernyataan terbaru Trump menunjukkan kemungkinan perubahan pendekatan.

Jantung ekspor minyak Iran

Associated Press (AP) melaporkan, Pulau Kharg merupakan pusat utama industri minyak Iran. Sekitar 90 persen ekspor minyak negara itu melewati fasilitas yang berada di Teluk Persia tersebut.

Posisi Pulau Kharg menjadi sangat penting karena sebagian besar garis pantai Iran terlalu dangkal untuk disandari kapal tanker berukuran besar.

Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran. WIKIMEDIA COMMONS Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.

Kondisi itu membuat pulau tersebut menjadi salah satu infrastruktur energi paling strategis bagi Teheran.

Baca juga: Harga Emas Berbalik Menguat usai AS Luncurkan Serangan Baru ke Iran

Pulau Kharg berada di seberang Teluk Persia dari pangkalan-pangkalan militer AS di Kuwait dan Arab Saudi. Letaknya yang strategis menjadikan pulau itu sebagai aset penting baik dari sisi ekonomi maupun militer.

Bagi Iran, keberlangsungan operasi Pulau Kharg sangat menentukan kemampuan negara itu untuk mempertahankan ekspor minyak di tengah tekanan perang dan sanksi.

Karena itu, ancaman pengambilalihan fasilitas tersebut dipandang sebagai salah satu langkah paling agresif yang pernah diutarakan Trump sejak konflik dengan Iran meningkat.

Trump isyaratkan pengambilalihan Pulau Kharg

Tak lama setelah mengunggah ancaman di Truth Social, Trump menyampaikan pandangannya mengenai Pulau Kharg dalam wawancara dengan Fox News.

Baca juga: Pasar Kripto Terus Tertekan di Tengah Berlarutnya Perang Iran-AS

“Saya rasa mereka ingin melihat kami pulang, tapi kami sudah melakukannya bersama Venezuela,” kata Trump.

“Venezuela berjalan dengan baik untuk semua orang,” lanjutnya.

Trump merujuk pada apa yang disebutnya sebagai pengambilalihan sektor minyak Venezuela oleh AS setelah operasi militer yang menggulingkan Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu.

Trump mengatakan pemerintah AS saat ini pada dasarnya mengendalikan ekspor minyak Venezuela.

Baca juga: Harga Emas Anjlok 3,5 Persen Usai Trump Ancam Iran, The Fed Berpotensi Naikkan Bunga

Pendapatan dari penjualan minyak negara tersebut disebut disimpan dalam rekening Departemen Keuangan AS, sementara minyaknya dikirim ke wilayah pesisir Teluk untuk diolah.

Dalam wawancara lain dengan Fox News yang dikutip AP, Trump bahkan mengakui bahwa mengambil alih Pulau Kharg merupakan opsi yang selama ini diinginkannya.

Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.PLANET LABS via AFP Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.

“Pilihan saya selalu adalah untuk mengambil Pulau Kharg,” tutur Trump.

Meski demikian, ia juga mempertanyakan kesiapan publik AS untuk mendukung langkah tersebut.

Baca juga: Trump Ancam Gempur Iran Lagi dengan Sangat Keras, Harga Minyak Dunia Tembus 93 Dollar AS

“Sejujurnya, saya tidak yakin Amerika punya keberanian untuk menghadapinya,” katanya.

Trump kemudian menegaskan AS memiliki kemampuan militer untuk menguasai wilayah tersebut apabila diperlukan.

“Kita bisa masuk ke sana besok. Kita bisa membawa tentara, saya tidak ingin ada pasukan darat. Tapi jika saya mau, kita bisa menempatkan sekelompok kecil tentara dan mengambil alih tempat itu,” sebut Trump.

Ketegangan meningkat

Ancaman terhadap Pulau Kharg muncul ketika hubungan Washington dan Teheran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga: Wall Street Rontok Imbas Harga Minyak Melonjak dan Ancaman Baru Trump ke Iran

Trump mengaku frustrasi karena Iran belum menyetujui kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan program nuklirnya.

Presiden AS itu juga menyalahkan Iran atas insiden penembakan helikopter Apache milik AS di wilayah Hormuz.

Dalam wawancara dengan Fox News yang dikutip CNBC, Trump mengungkapkan besarnya operasi militer yang dilakukan AS terhadap Iran.

“Kami menjatuhkan bom senilai 250 juta dollar AS ke arah mereka tadi malam,” ujar Trump.

Baca juga: Wall Street Beragam, Ancaman Trump ke Iran dan Aksi Jual Saham Teknologi Tekan Nasdaq

“Kau tahu, semuanya memang gila, tapi sebenarnya mereka sedang tunduk. Mereka hanya belum menyadarinya,” lanjutnya.

Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.AFP/FRED TANNEAU Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.

Sementara itu, Iran tetap menolak tuntutan Washington. Teheran mengklaim masih mengendalikan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelum perang menjadi rute pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dari kawasan Timur Tengah.

Kebuntuan tersebut membuat upaya penyelesaian konflik belum menunjukkan kemajuan berarti.

AP melaporkan, AS dan Iran kembali saling bertukar serangan untuk hari kedua berturut-turut meski sebelumnya sempat mencapai gencatan senjata yang rapuh lebih dari satu bulan lalu.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Usai Iran Hentikan Operasi Militer ke Israel

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan terbaru AS telah “secara efektif membuat gencatan senjata menjadi tidak berarti”, meski tidak secara resmi menyatakan keluar dari kesepakatan tersebut.

Ancaman bagi pasokan energi global

Peran Pulau Kharg yang sangat dominan dalam ekspor minyak Iran membuat setiap ancaman terhadap fasilitas tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia.

Penguasaan Iran atas Selat Hormuz selama berbulan-bulan telah mengganggu pasokan energi global, mendorong kenaikan harga bahan bakar, serta meningkatkan biaya berbagai kebutuhan pokok di banyak negara.

Situasi tersebut menambah ketidakpastian di pasar energi yang sudah tertekan oleh konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Operasi Militer Iran ke Israel Berakhir, Harga Minyak Masih Tinggi di Atas 90 Dollar AS

Selain persoalan Selat Hormuz, AS dan Iran juga masih berselisih mengenai program nuklir Teheran.

Iran bersikeras program tersebut bertujuan damai, sementara AS dan Israel khawatir persediaan uranium yang diperkaya Iran dapat digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Pemerintah AS dan Israel menyebut isu nuklir sebagai salah satu alasan utama pecahnya perang pada 28 Februari 2026 lalu.

Di sisi lain, Iran menegaskan setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang harus mencakup penghentian konflik di Lebanon antara kelompok Hizbullah yang didukung Teheran dan Israel.

Baca juga: Konflik Iran-Israel Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen

Di tengah kebuntuan diplomatik tersebut, ancaman Trump untuk mengambil alih Pulau Kharg menjadi perkembangan terbaru yang berpotensi memengaruhi arah konflik sekaligus memperbesar risiko gangguan terhadap salah satu jalur ekspor minyak terpenting di Timur Tengah.

Sebagai pintu utama ekspor minyak Iran, masa depan Pulau Kharg kini menjadi salah satu faktor yang terus dicermati pasar energi global.

Tag:  #trump #incar #jantung #ekspor #minyak #iran #risiko #energi #global #meningkat

KOMENTAR