Lawan Stigma, Cerita Karyawan Difabel Pabrik HS: Dari Korban Bully Jadi Mandiri
Shinta, warga Magelang Jawa Tengah, salah satu karyawan difabel di pabrik HS. (Ist)
20:28
24 April 2026

Lawan Stigma, Cerita Karyawan Difabel Pabrik HS: Dari Korban Bully Jadi Mandiri

Matahari belum begitu meninggi ketika ribuan karyawan pabrik rokok HS memulai aktivitasnya di Muntilan, Magelang, Jumat (24/4). Tangan-tangan cekatan itu berlomba melinting dan mengepak batang-batang rokok di area produksi. Suara percakapan nyaring terdengar di antara riuh mesin dan aktivitas pabrik.

Namun, di sebuah sudut, terdapat pemandangan berbeda di mana puluhan pekerja asyik bercerita namun tak bersuara, melainkan menggunakan bahasa isyarat yang dinamis.

Salah satunya adalah Shinta, perempuan berusia 34 tahun asal Magelang, Jawa Tengah. Penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara ini merupakan satu dari 70 karyawan difabel di pabrik rokok HS.

Perusahaan yang berada di bawah naungan Surya Group Holding Company itu memberikan ruang bagi kelompok disabilitas untuk bekerja sebagai pelinting dan pengepak rokok.

Shinta terlihat sumringah saat ditemui di sela aktivitasnya. Namun, di balik wajah bahagianya saat ini, tersimpan cerita pedih yang ia lalui sebelum akhirnya diterima bekerja di pabrik rokok HS.

Ia sempat melewati masa-masa sulit dalam mencari pekerjaan akibat stigma negatif yang masih melekat kuat di tengah masyarakat terhadap kelompok difabel.

"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda. Menganggap kami tidak mampu tanpa pernah diberi kesempatan," ucapnya lirih.

Perempuan dengan satu anak ini masih mengingat jelas setiap penolakan yang ia terima. Rasa sakit hati dan kecewa selalu menghantuinya setiap kali pulang dari proses tes wawancara yang berujung kegagalan.

Diskriminasi di dunia kerja menjadi tembok besar yang sulit ditembus bagi penyandang disabilitas seperti dirinya.

"Tapi di pabrik rokok HS ini, saya seperti menemukan kehidupan baru. Tidak hanya diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, tapi kami juga dihormati dan dihargai tanpa dibedakan," katanya.

Sebelum bergabung dengan HS, Shinta sempat mencoba bertahan hidup dengan membuka usaha batik tulis kecil-kecilan di rumahnya.

Namun, pendapatan dari usaha tersebut ternyata tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagai tulang punggung keluarga dengan anak yang masih kecil dan membutuhkan biaya sekolah, tekanan ekonomi semakin menghimpitnya.

"Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan, saya utang ke bank," katanya.

Kini, kondisi kehidupannya berangsur membaik secara signifikan. Setelah bekerja di pabrik rokok HS, Shinta mengaku mampu memenuhi segala kebutuhan keluarganya dengan layak. Hutang-hutang yang sebelumnya menumpuk kini telah berhasil dilunasi, bahkan ia sudah memiliki kemampuan untuk menyisihkan penghasilannya untuk menabung.

Selain kesejahteraan finansial, Shinta merasakan lingkungan kerja yang sangat nyaman. Meski datang tanpa pengalaman di industri rokok, ia dan 70 rekan disabilitas lainnya mendapatkan pelatihan dengan penuh kesabaran.

Mereka mendapatkan hak dan fasilitas yang setara dengan karyawan non-disabilitas, termasuk jatah makan gratis dari pabrik yang membuat gaji mereka tetap utuh.

"Bahkan, HS akan membuatkan mess khusus karyawan disabilitas, itu yang membuat kami nyaman bekerja di sini," tukasnya.

Kenyamanan lingkungan kerja menjadi faktor krusial bagi penyandang disabilitas. Selama ini, banyak dari mereka yang kerap mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan atau diskriminatif saat mencoba masuk ke dunia kerja profesional.

Hal senada diceritakan oleh Fian, pemuda berusia 26 tahun asal Yogyakarta yang juga penyandang disabilitas.

Sebelum di HS, ia sempat berpindah-pindah perusahaan namun tidak pernah merasa betah karena sering mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari lingkungan kerjanya.

"Kami sering dibully, dan setiap ada kesalahan, karyawan disabilitas yang selalu disalahkan," ucap Fian.

Di pabrik rokok HS, Fian merasakan atmosfer yang berbeda karena semua karyawan diperlakukan sama. Tidak ada perlakuan semena-mena, justru mereka mendapatkan perhatian lebih melalui rencana penyediaan fasilitas mess gratis untuk memudahkan mobilitas mereka.

"Kami harap perusahaan lain bisa mencontoh bagaimana HS mempekerjakan karyawan disabilitas seperti kami. Inklusivitas dunia kerja bukan sekadar narasi, tapi dibuktikan dengan hal yang kongkret," katanya.

Perwakilan HRD Pabrik Rokok HS, Muhammad Hanafi, memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja 70 karyawan disabilitas tersebut.

Menurutnya, performa kerja mereka sangat kompetitif dan tidak kalah saing dengan pekerja lainnya di bagian produksi.

"Mereka justru lebih semangat, dan kinerjanya juga sangat baik. Kami selalu diingatkan oleh pak Suryo untuk terus memberikan perhatian khusus bagi kawan-kawan difabel di sini," katanya.

Hanafi menegaskan bahwa prinsip kesetaraan menjadi landasan utama di HS. Semua karyawan mendapatkan hak yang sama, mulai dari standar gaji hingga makan siang gratis. Khusus untuk karyawan difabel, pihak manajemen sedang menyiapkan mess gratis sebagai bentuk dukungan tambahan.

"Karena jumlahnya terus bertambah dan mereka banyak yang berasal dari luar kota Magelang. Jadi pak Suryo memerintahkan kami untuk memberikan mess gratis agar memudahkan kawan-kawan difabel ini," pungkasnya.

Editor: Bangun Santoso

Tag:  #lawan #stigma #cerita #karyawan #difabel #pabrik #dari #korban #bully #jadi #mandiri

KOMENTAR