Bantargebang Jadi 'Bom Metana' Dunia, Timbunan Sampah Tembus 80 Juta Ton!
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang kini menghadapi kondisi kritis. Berdasarkan temuan UCLA Emmett Institute, gunungan sampah di Bantargebang tercatat sebagai sumber emisi metana terbesar kedua di dunia setelah TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina, dengan emisi mencapai 6,3 ton per jam.
Lonjakan emisi itu terjadi di tengah kondisi timbunan sampah yang sudah jauh melampaui kapasitas normal. Saat ini, total sampah di Bantargebang disebut telah menyentuh 80 juta ton, padahal daya tampung idealnya hanya sekitar 30 juta ton.
Pakar biorefinery limbah hayati, energi berkelanjutan, dan teknologi penghilangan karbon dioksida dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Hanifrahmawan Sudibyo, mengatakan tumpukan sampah organik yang lembap dan minim oksigen menjadi lingkungan sempurna bagi mikroorganisme penghasil gas metana.
“Kondisi lembap dan terbatasnya suplai oksigen menjadi lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme penghasil metana,” kata Hanif, Senin (18/5/2026).
Menurut dia, tumpukan sampah organik dalam jumlah besar di Bantargebang membentuk zona-zona minim oksigen, terutama di bagian dalam dan dasar timbunan sampah.
Kondisi itu diperparah oleh air hujan, rendahnya porositas, serta terbatasnya sirkulasi udara yang memicu aktivitas mikroorganisme anaerob, termasuk arkea metanogenik penghasil metana.
“Selama proses penguraian tersebut berlangsung, gas metana akan terbentuk dan dapat terlepas ke atmosfer apabila tidak dikelola dengan baik,” paparnya.
Hanif menjelaskan, metana sebenarnya merupakan bagian alami dari siklus karbon bumi dan muncul dari proses biodegradasi bahan organik.
Namun, persoalan serius muncul ketika emisinya meningkat akibat penumpukan limbah organik yang tidak terkelola.
“Mengingat potensi pemanasan global metana lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu tertentu, pelepasan metana dari TPA menjadi salah satu isu penting dalam pengendalian emisi gas rumah kaca,” ujarnya.
Infografis Zona IV TPST Bantargebang longsor dan menelan korban jiwa. (Suara.com/Iqbal)Di sisi lain, Hanif menilai emisi metana dari Bantargebang masih bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif melalui teknologi penangkapan gas metana atau methane capture.
Teknologi itu bekerja dengan memasang jaringan pipa vertikal maupun horizontal di area timbunan sampah untuk mengumpulkan gas yang terbentuk di dalam landfill.
“Gas metana yang terkumpul kemudian dapat dialirkan menuju unit pemurnian maupun pembangkit listrik berbasis biogas untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi,” ucapnya.
Meski begitu, Hanif menegaskan solusi teknologi tidak cukup jika tidak dibarengi pembenahan dari hulu, terutama pemilahan sampah organik sebelum masuk ke TPA.
Ia mendorong pemerintah, masyarakat, hingga badan usaha seperti PLN membangun sistem pemanfaatan gas landfill secara terintegrasi.
“Tingginya potensi produksi metana di TPST Bantargebang dapat menjadi momentum evaluasi pengelolaan sampah nasional, khususnya dalam mendorong pengurangan emisi sekaligus pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan,” pungkasnya.
Tag: #bantargebang #jadi #metana #dunia #timbunan #sampah #tembus #juta