Sebelum Peluit Pertama
DI SEBUAH warung kopi di Magelang, beberapa malam lalu, dua anak muda memperdebatkan Argentina.
Perdebatan itu berlangsung serius. Yang satu yakin Argentina masih menjadi tim yang layak diperhitungkan.
Lionel Messi berulang kali diperbincangkan, diselingi Diego Maradona, Angel Di Maria, dan beberapa pemain Argentina lainnya.
Yang menarik, anak muda itu belum lahir ketika Messi menjalani debut profesional pertamanya.
Soal Maradona, mereka mengenalnya dari video yang bertebaran di YouTube.
Gol “Tangan Tuhan” di perempat final Piala Dunia 1986 saat Argentina melawan Inggris juga diketahui dari internet.
Namun dari cara mereka bercerita terdengar seperti pengalaman pribadi.
Baca juga: Antara Vitinha, Marselino Ferdinan, dan Cermin Retak Ekosistem Sepak Bola Indonesia
Besok, Piala Dunia 2026 dimulai. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ajang ini akan diikuti 48 negara dan dimainkan di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Sebanyak 104 pertandingan akan berlangsung selama lebih dari sebulan.
Jutaan orang akan berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain.
Miliaran lainnya mungkin mengikuti dari layar yang mereka miliki.
Catatan tersebut sangat mengesankan. Namun bukan hal itu yang membuat Piala Dunia selalu terasa istimewa.
Yang membuatnya berbeda adalah kenyataan bahwa setiap empat tahun sekali, dunia seolah menemukan kembali sesuatu yang mulai jarang dimiliki manusia saat ini: perhatian yang sama terhadap cerita yang sama.
Dulu, jutaan orang menonton siaran televisi yang sama pada malam yang sama.
Mereka menunggu berita yang sama dan membicarakan peristiwa yang sama keesokan harinya.
Hari ini keadaan itu semakin jarang kita saksikan.
Saat ini, pilihan informasi sangat banyak, beragam, dan tanpa batas.
Setiap orang memiliki ceritanya sendiri. Kita bebas memilih apa yang ingin dilihat, dibaca, atau didengar.
Kebebasan itu membuat dunia terasa lebih dekat.
Namun pada saat yang sama, perhatian manusia menyebar kemana-mana. Karena itulah pengalaman bersama menjadi sesuatu yang semakin langka.
Barangkali belum pernah ada masa ketika manusia memiliki begitu banyak cara untuk terhubung, tetapi sekaligus semakin jarang mengalami hal yang sama secara bersamaan.
Puluhan tahun lalu, seorang pemikir media bernama Marshall McLuhan membayangkan dunia akan menjadi semacam desa global.
Jarak akan menyusut. Informasi bergerak melampaui batas-batas geografis.
Dalam banyak hal, ramalan itu benar. Dunia memang terasa lebih dekat.
Namun kedekatan ternyata tidak selalu melahirkan kebersamaan. Mungkin karena itulah Piala Dunia tetap bertahan.
Piala Dunia menghadirkan sesuatu yang sulit diciptakan oleh teknologi, yakni momen ketika jutaan bahkan miliaran orang menaruh perhatian pada peristiwa yang sama pada saat yang sama.
Lihat saja. Ketika lagu kebangsaan diperdengarkan sebelum pertandingan dimulai, sebagian orang berdiri.
Sebagian ikut bernyanyi. Sebagian lagi cukup menatap layar gawai. Mereka tidak saling mengenal.
Tinggal di benua yang berbeda. Namun selama beberapa menit, mereka merasa menjadi satu bagian.
Baca juga: Mentalitas Mohon Izin
Ilmuwan politik, Benedict Anderson, pernah menyebut bangsa sebagai imagined community.
Sebagian besar warga negara tidak akan pernah saling bertemu, tetapi mereka tetap merasa memiliki ikatan satu sama lain.
Ada cerita yang membuat mereka percaya bahwa mereka berada di dalam rumah yang sama.
Sepak bola sering bekerja dengan cara yang serupa. Ia memberi manusia kesempatan untuk masuk ke dalam sebuah kisah yang dibagikan bersama.
Karena itu, seorang anak muda di Magelang dapat merasa dekat dengan Maradona.
Yang ia warisi bukan pertandingannya, melainkan kisahnya.
Kisah yang bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya, melintasi layar televisi hingga telepon genggam yang ada di tangannya hari ini.
Dan setiap Piala Dunia selalu menambahkan satu bab baru ke dalam kisah panjang tersebut.
Pertandingan pertama segera dimainkan. Di Mexico City, rumput stadion sedang dipersiapkan.
Di berbagai bandara, koper-koper bergerak menuju tujuan yang sama. Di banyak rumah, jadwal pertandingan mulai ditempel di dinding atau disimpan di ponsel pintar mereka.
Belum ada gol, belum ada juara, dan belum ada legenda baru lahir. Namun cerita sudah dirajut lebih dulu.
Dan di berbagai tempat, dari warung kopi di Magelang hingga stadion di Mexico City, orang-orang mulai menunggu cerita selanjutnya.