Akamai: Serangan API di Asia-Pasifik Naik Signifikan, Dipicu Tren AI
Ilustrasi serangan siber.(FREEPIK/FREEPIK)
17:30
14 April 2026

Akamai: Serangan API di Asia-Pasifik Naik Signifikan, Dipicu Tren AI

- Perusahaan keamanan siber Akamai Technologies mengungkap adanya lonjakan serangan terhadap aplikasi dan API di kawasan Asia-Pasifik (APAC).

Menurut Akamai, jumlah serangan tersebut mencapai hampir 65 miliar sepanjang 2025. Angka ini meningkat sebesar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam laporan "State of the Internet (SOTI) 2026", Akamai mengatakan bahwa kenaikan jumlah serangan ini salah satunya disebabkan oleh tren kecerdasan buatan (AI). 

Saat ini banyak perusahaan yang menggunakan strategi AI-first dengan membenamkan fitur-fitur AI di produk mereka. Namun, strategi ini justru dibangun di atas Application Programming Interface (API) yang rentan kena serangan siber

API sendiri berfungsi sebagai penghubung antar sistem digital, seperti aplikasi, layanan pelanggan, hingga transaksi keuangan. Ketika jumlah API meningkat pesat, potensi celah keamanan juga ikut melebar.

Baca juga: Microsoft Bilang Copilot AI Jangan Dipakai untuk Hal Penting, Kenapa?

"Di kawasan Asia-Pasifik, penerapan AI mempercepat transformasi bisnis. Namun, kecepatan ini juga telah menyebabkan kesenjangan tata kelola yang semakin melebar, sehingga memaksa berbagai organisasi untuk meninjau kembali lanskap risiko mereka secara keseluruhan," kata Reuben Koh, Direktur Teknologi dan Strategi Keamanan untuk wilayah APJ di Akamai

Akamai mencatat, sebanyak 87 persen organisasi secara global mengalami insiden keamanan terkait API sepanjang 2025. Bahkan, jumlah serangan API harian tumbuh hingga tiga digit. 

Selain itu, serangan DDoS Layer 7 yang menargetkan proses di tingkat aplikasi juga meningkat hingga 104 persen dalam dua tahun terakhir.

Berbeda dengan serangan tradisional yang membanjiri jaringan, jenis serangan ini langsung menyasar sistem yang menangani permintaan pengguna, termasuk API.

Di kawasan APAC, sekitar 61 persen serangan API melibatkan aktivitas tidak sah yang memanfaatkan alur kerja aplikasi.

Artinya, pelaku tidak lagi hanya mengeksploitasi celah teknis, tetapi juga memanipulasi cara kerja aplikasi. Serangan ini semakin sulit dideteksi karena menggunakan bot AI yang bisa meniru perilaku pengguna asli.

Sektor ritel dan jasa keuangan menjadi target utama karena sangat bergantung pada API untuk mendukung transaksi digital. Sementara itu, sektor telekomunikasi dan teknologi juga menghadapi tekanan seiring meningkatnya layanan berbasis API.

Akamai menilai, percepatan inovasi berbasis AI belum diimbangi dengan kesiapan sistem keamanan.

Baca juga: Antivirus Biasa Tak Lagi Cukup, Malware AI Mulai Incar Windows

Negara dengan jumlah API yang sangat besar seperti Singapura dan Jepang memiliki potensi serangan yang lebih tinggi.

Sementara di negara berkembang seperti Vietnam dan Thailand, digitalisasi kerap tidak diimbangi dengan sumber daya keamanan yang memadai.

Penggunaan teknologi pengembangan berbasis AI seperti low-code juga mempercepat pembuatan aplikasi dan API, tetapi hal ini berisiko memunculkan pengaturan keamanan yang lemah.

Akamai juga menilai, perusahaan perlu meningkatkan visibilitas terhadap API, mengelola bot dan agen AI, serta menerapkan pemantauan secara real-time. Selain itu, aspek keamanan harus diintegrasikan sejak tahap pengembangan hingga operasional.

Tag:  #akamai #serangan #asia #pasifik #naik #signifikan #dipicu #tren

KOMENTAR