Orang yang Digantikan AI Bakal “Ngenes”, Gaji Turun dan Susah Cari Kerja
Ilustrasi pekerjaan atau profesi terdampak AI.(Ilustrasi dibuat dengan AI.)
12:36
15 April 2026

Orang yang Digantikan AI Bakal “Ngenes”, Gaji Turun dan Susah Cari Kerja

- Artificial Intelligence (AI) berdampak lebih buruk bagi para pekerja. Orang-orang yang kehilangan pekerjaan akibat digantikan AI bakal “ngenes” atau menderita, sebagaimana yang diungkapkan oleh Goldman Sachs, perusahaan bank asal Amerika Serikat.

Menurut analisis Goldman Sachs, pekerja yang digantikan AI berpotensi mengalami penurunan gaji selama satu dekade. Secara historis, pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat teknologi rata-rata mengalami penurunan gaji sebesar 3 persen saat kembali bekerja.

Baca juga: Ramalan 2028: AI Makin Pintar, Krisis dan Pengangguran Meningkat

Selain penurunan gaji, pekerja yang disingkirkan oleh teknologi juga menghadapi risiko pengangguran yang lebih tinggi karena susah cari kerja selama beberapa tahun setelah kehilangan pekerjaan.

Penurunan gaji selama bertahun-tahun

Goldman Sachs mengatakan telah menganalisis data pasar tenaga kerja selama 40 tahun. Dari hasil analisis itu, para peneliti menemukan bahwa pekerja yang digantikan teknologi harus menanggung akibatnya bertahun-tahun setelah kehilangan pekerjaan awal mereka.

"Analisis kami menunjukkan bahwa, mirip dengan gelombang perubahan teknologi sebelumnya, penggantian oleh AI dapat menimbulkan biaya jangka panjang bagi pekerja yang terdampak, memperburuk hasil pasar tenaga kerja selama beberapa tahun. Dampak ini bisa jauh lebih besar ketika penggantian itu bertepatan dengan resesi," tulis para analis.

Dari analisis data survei 20.000 pekerja sejak 1980, para peneliti Goldman Sachs mengatakan, pendapatan riil pekerja yang digantikan teknologi rata-rata turun 3 persen dibanding mereka yang kehilangan pekerjaan dari pekerjaan yang lebih stabil.

Penurunan gaji ini berlangsung cukup lama. Dalam dekade setelah kehilangan pekerjaan, mereka yang digantikan teknologi mengalami pertumbuhan pendapatan riil rata-rata 10 poin persentase lebih rendah dibandingkan pekerja yang tidak pernah kehilangan pekerjaan.

Pendapatan riil pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat teknologi itu juga tumbuh 5 poin persentase lebih rendah dibandingkan dengan pekerja yang kehilangan pekerjaan karena alasan lain.

Susah cari kerja dan kualitas pekerjaan menurun

Para peneliti Goldman Sachs menambahkan, pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat teknologi membutuhkan waktu sekitar satu bulan lebih lama untuk menemukan pekerjaan baru, dibanding mereka yang kehilangan pekerjaan di bidang yang lebih stabil.

Setelah para pekerja kehilangan pekerjaan akibat diganti teknologi baru, mereka beresiko mengalami masa pengangguran yang lebih lama selama 10 tahun berikutnya. Mereka juga cenderung bakal mengalami pertumbuhan kekayaan yang lambat.

Kemudian, peneliti Goldman Sachs juga menyebut, orang yang digantikan teknologi akan mengalami penurunan kualitas pekerjaan, sebagaimana dikutip dari Business Insider. 

Mereka akan beralih ke pekerjaan yang minim keahlian dalam analitis dan interpersonal. Sebab, nilai keahlian mereka sebelumnya telah diisi oleh teknologi.

Baca juga: Riset Anthropic: Dibanding Programmer, Profesi Guru Lebih Susah Digantikan AI

Pemutusan hubungan kerja meningkat

Keahlian pekerja yang mulai diisi teknologi seperti AI bakal berdampak buruk ke pasar tenaga kerja yang lebih luas. Pemutusan hubungan kerja terkait AI sudah mulai terasa di beberapa sektor pasar tenaga kerja.

Banyak perusahaan berupaya meningkatkan produktivitas dan memangkas biaya dengan menggunakan AI.

Sebelumnya, Goldman Sachs sempat memperkirakan bahwa penggantian dan peningkatan AI di pasar tenaga kerja telah memangkas pertumbuhan pekerjaan baru sekitar 16.000 pekerjaan per bulan dalam setahun terakhir.

Dalam kondisi pasar tenaga kerja di AS, mereka memperkirakan bahwa AI dapat menggantikan sebanyak 7 persen dari seluruh pekerja AS selama 10 tahun ke depan.

Apa yang bisa dilakukan?

Meski laporan kondisi pekerja yang digantikan AI ini cukup menakutkan, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari atau setidaknya meminimalkan dampak buruk dari fenomena ini.

Para pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat disrupsi teknologi tidak serta merta akan kehilangan pekerjaan.

Menurut Goldman Sachs, mereka yang mengikuti pelatihan ulang setelah kehilangan pekerjaan akibat teknologi mengalami peningkatan rata-rata 2 poin persentase dalam pertumbuhan upah riil kumulatif selama 10 tahun berikutnya.

Potensi pekerja yang digantikan teknologi itu untuk menganggur selama periode tersebut juga menurun sekitar 10 poin persentase.

Baca juga: Programmer Sekarang Jadi Pekerjaan yang Paling Rentan Digantikan AI

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #orang #yang #digantikan #bakal #ngenes #gaji #turun #susah #cari #kerja

KOMENTAR