Lebih dari 1 Juta Rekening Bank Diretas, Ancaman Siber Kini Beralih ke Pencurian Data Login
Ilustrasi srangan siber. [Pixabay]
16:08
17 April 2026

Lebih dari 1 Juta Rekening Bank Diretas, Ancaman Siber Kini Beralih ke Pencurian Data Login

Laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkap fakta mengkhawatirkan, yakni lebih dari satu juta akun perbankan online diretas sepanjang 2025.

Serangan ini didominasi oleh malware pencuri data (infostealer), menandai pergeseran tren kejahatan siber finansial dari metode lama ke pencurian kredensial.

Dalam laporan tersebut, Kaspersky menyebut pelaku kini tidak lagi terlalu bergantung pada malware perbankan tradisional di PC, melainkan memanfaatkan rekayasa sosial dan perdagangan data di dark web.

Tren Baru: Pencurian Kredensial Jadi Senjata Utama

Infostealer menjadi alat utama para peretas untuk mencuri data sensitif, mulai dari username, password, cookie, hingga data kartu bank dan aset kripto.

Data yang dicuri kemudian disebarkan atau dijual di dark web, sehingga mempermudah pengambilalihan akun dan penipuan finansial.

“Dark web telah menjadi pusat utama kejahatan siber finansial. Kredensial dan kartu perbankan yang dicuri dikumpulkan, dikemas ulang, dan dijual di sana,” ujar Polina Tretyak, analis Kaspersky Digital Footprint Intelligence dalam keterangan resminya, Jumat (17/4/2026).

Ia menambahkan bahwa ekosistem ini membuat serangan semakin mudah dilakukan, bahkan oleh pelaku dengan kemampuan teknis terbatas.

Phishing Masih Marak, E-Commerce Jadi Target Utama

Selain malware, serangan phishing juga masih mendominasi. Pada 2025, situs palsu yang meniru toko online menjadi yang paling banyak digunakan, mencapai 48,5 persen dari total serangan phishing finansial.

Sementara itu target perbankan mencapai 26,1 persen dan sistem pembayaran sekitar 25,5 persen.

Penurunan phishing perbankan menunjukkan bahwa sistem bank semakin sulit ditembus, sehingga pelaku beralih ke metode yang lebih mudah, seperti menipu pengguna melalui platform belanja online.

Serangan Mobile Meningkat, PC Mulai Ditinggalkan

Kaspersky juga mencatat perubahan perilaku pengguna yang kini lebih banyak mengakses layanan keuangan melalui smartphone.

Akibatnya, serangan malware finansial di PC menurun, sementara serangan ke perangkat mobile meningkat hingga 1,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Asia Pasifik Alami Lonjakan Ancaman

Ilustrasi malware. [Pixabay]Ilustrasi malware. [Pixabay]

Kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu wilayah dengan peningkatan signifikan dalam serangan infostealer, bahkan mencapai 132 persen.

Secara global, deteksi malware jenis ini naik sekitar 59 persen, menunjukkan bahwa pencurian data menjadi strategi utama dalam kejahatan siber modern.

Temuan lain yang tak kalah mengkhawatirkan, sekitar 74 persen kartu pembayaran yang bocor masih aktif hingga Maret 2026. Artinya, data yang dicuri berpotensi terus digunakan oleh pelaku kejahatan dalam jangka waktu lama.

Ancaman Makin Kompleks, Pengguna Harus Waspada

Dengan semakin terorganisirnya kejahatan di dark web, Kaspersky menilai ancaman siber finansial kini lebih kompleks dan sulit dideteksi.

“Memutus siklus ini membutuhkan intelijen ancaman proaktif dari organisasi, serta peningkatan kesadaran dari pengguna,” tegas Polina.

Editor: Dythia Novianty

Tag:  #lebih #dari #juta #rekening #bank #diretas #ancaman #siber #kini #beralih #pencurian #data #login

KOMENTAR