Siaga AI, Taylor Swift Ajukan Suara dan Foto Ikonik Jadi Merek Dagang
Forbes merilis daftar ?America?s Richest Self-Made Women 2025?. Taylor Swift menempati posisi teratas di kelompok perempuan muda, disusul Lucy Guo dan Shuo Wang.(FRAZER HARRISON)
17:06
29 April 2026

Siaga AI, Taylor Swift Ajukan Suara dan Foto Ikonik Jadi Merek Dagang

- Penyanyi dan penulis lagu yang telah memenangkan banyak penghargaan Grammy, Taylor Swift, mengambil langkah hukum yang tidak biasa baru-baru ini.

Ia mengajukan permohonan hak paten untuk melindungi suaranya sendiri, bahkan hingga tampilan visual ikonik dirinya.

Langkah ini diajukan melalui perusahaan milik Swidt, yakni TAS Rights Management, ke Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat (US Patent and Trademark Office) pada 24 April 2026.

Hal ini dilakukan di tengah maraknya konten AI yang bisa meniru suara dan wajah seseorang, terutama musisi beken seperti Taylor Swift.

Dalam pengajuan tersebut, ada tiga elemen utama yang ingin dilindungi. Dua di antaranya adalah suara di mana Swift mengucapkan “Hey, it’s Taylor Swift” dan “Hey, it’s Taylor”

Baca juga: Foto Tunangan Taylor Swift dan Travis Kelce Pecahkan Rekor Instagram

Keduanya populer dari klip yang dia rekam untuk Spotify dan Amazon Music untuk mempromosikan albumnya The Life of a Showgirl pada Oktober 2025.

Satu lainnya berupa visual, yaitu foto Swift saat memegang gitar pink dengan outfit bling-bling di atas panggung. Foto ini diambil dalam sesi pembuka, tepatnya era album "Lover", di konser Eras Tour.

Foto Taylor Swift saat memegang gitar pink dengan outfit bling-bling di atas panggung. Foto ini diambil dalam sesi Lover di konser Eras Tour. Foto ini didaftarkan ke Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat pada 24 April 2026.


U.S. Patent & Trademark Office Foto Taylor Swift saat memegang gitar pink dengan outfit bling-bling di atas panggung. Foto ini diambil dalam sesi Lover di konser Eras Tour. Foto ini didaftarkan ke Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat pada 24 April 2026.

Sekilas terdengar tidak biasa. Selama ini, hak merek biasanya digunakan untuk melindungi logo atau nama brand, bukan identitas personal seperti suara atau wajah.

Namun di era AI, batas itu mulai bergeser. Kemajuan teknologi memungkinkan siapa saja membuat suara atau wajah tiruan yang sangat mirip dengan aslinya. Dalam beberapa kasus, kemiripan ini bahkan sulit dibedakan dari yang asli.

Pelantun lagu "Shake It Off" ini sendiri sudah beberapa kali menjadi korban. Wajah dan identitasnya pernah digunakan tanpa izin dalam konten AI, mulai dari chatbot hingga gambar manipulatif yang beredar luas di internet.

Kasus lain bahkan sempat menyeret nama Swift ke ranah politik, ketika gambar AI beredar seolah-olah ia mendukung Donald Trump, padahal tidak.

Kondisi inilah yang mendorong munculnya strategi baru yang dikenal sebagai “trademark yourself”, yakni mendaftarkan elemen identitas pribadi sebagai hak paten.

Pendekatan ini sebelumnya juga digunakan oleh aktor Matthew McConaughey.

Pemeran "Cooper" di film Insterstellar (2014) ini berhasil mendapatkan perlindungan hukum untuk suara khasnya, termasuk dialog ikonik “Alright, alright, alright!” dari film Dazed and Confused.

Tujuannya bukan sekadar formalitas. Dengan status sebagai merek dagang, pemilik bisa memiliki dasar hukum tambahan untuk menindak penggunaan identitas tanpa izin, termasuk yang dihasilkan oleh AI.

Berbeda dengan aturan “right of publicity” yang biasanya hanya berlaku di tingkat negara bagian di AS, pelanggaran merek dagang bisa dibawa ke pengadilan federal dan berlaku secara nasional.

Baca juga: Lucy Guo, Pendiri Scale AI yang Geser Posisi Taylor Swift, DO Kuliah hingga Jadi Miliarder

Artinya, perlindungannya bisa lebih kuat dan luas. Meski begitu, pendekatan “trademark yourself” ini sebenarnya masih belum benar-benar diuji di pengadilan dalam konteks AI.

Namun secara teori, perlindungan ini bisa digunakan untuk mengajukan permintaan penghapusan konten (takedown) ke platform AI, mirip seperti cara perusahaan media melindungi hak cipta mereka.

Contohnya terjadi pada Desember 2025, ketika Disney mengirimkan surat cease-and-desist ke Google.

Surat ini adalah peringatan hukum yang berisi permintaan agar seseorang atau pihak tertentu segera menghentikan (cease) dan tidak mengulangi (desist) suatu tindakan yang dianggap melanggar hukum.

Disney menuduh platform AI Gemini milik Google digunakan untuk membuat tiruan karakter yang dilindungi merek dagang. Hanya sehari setelahnya, Google langsung menurunkan konten yang dipermasalahkan.

Para ahli hukum menilai langkah Taylor Swift ini sebagai bentuk antisipasi terhadap masa depan, di mana AI semakin mudah meniru manusia, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Variety dan CNet.

Jika nantinya ada konten AI yang menggunakan suara yang terdengar seperti musisi kelahiran 13 Desember 1989 ini, timnya bisa berargumen bahwa hal tersebut melanggar hak merek yang sudah didaftarkan.

Hal yang sama juga berlaku untuk visual. Dengan mendaftarkan tampilan spesifik, seperti pose atau gaya berpakaian, Swift bisa memiliki dasar hukum tambahan untuk melawan gambar AI yang menyerupai dirinya.

Tag:  #siaga #taylor #swift #ajukan #suara #foto #ikonik #jadi #merek #dagang

KOMENTAR