Induk Facebook, Instagram, WhatsApp Kehilangan 20 Juta Pengguna, Kenapa?
- Raksasa media sosial Meta kehilangan puluhan juta pengguna dari berbagai platform di bawah naungan perusahaan. Hal ini diungkapkan Meta dalam paparan laporan keuangan perusahaan untuk kuartal I-2026 (Januari-Maret).
selama triwulan awal 2026 ini Meta tercatat kehilangan 20 juta pangguna aktif harian (Daily Active User/DAU) di seluruh media sosial miliknya, mencakup Instagram, Facebook, hingga WhatsApp.
Meta tak merinci berapa besaran penyusutan dari masing-masing media sosial miliknya itu. Secara keseluruhan, perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg itu memiliki 3,5 miliar pengunjung harian (Daily Active People/DAP).
Angka tersebut turun 0,5 persen dibanding kuartal IV-2025 sebanyak 3,58 miliar. Meta sendiri mendefinisikan DAP sebagai pengguna terdaftar dan masuk ke salah satu aplikasi di bawah naungannya, melalui perangkat mobile atau web pada hari tertentu.
Baca juga: WhatsApp Versi Berbayar Mulai Disebar, Ini yang Didapat Pengguna
Menurut Kepala Keuangan Meta, Susan Li, penurunan jumlah pengguna itu merupakan akibat dari gangguan internet di Iran. Selain itu, Li juga berdalih bahwa pembatasan akses WhatsApp di Rusia turut berkontribusi atas penyusutan ini.
Menyusul pengumuman itu, saham induk Facebook juga anjlok 9 persen dalam perdagangan yang ditutup Jumat (1/5/2026) waktu Amerika Serikat.
Meski demikian, pendapatan Meta dilaporkan naik 33 persen dari tahun ke tahun (year-on-year/YoY) menjadi sebesar 56,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 977 triliun), dengan laba bersih 22,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 395 triliun).
Adapun penurunan ini terjadi di saat Meta meningkatkan investasi ke kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurut Meta, belanja AI perusahaan diperkirakan menghabiskan sekitar 125 miliar hingga 145 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.171 triliun - 2.518 triliun) pada tahun ini, 10 miliar dollar AS lebih banyak dari rencana semula.
Susan Li sendiri mengakui bahwa kebutuhan komputasi AI terus melampaui perkiraan, bahkan ketika Meta sudah meningkatkan kapasitas secara agresif.
Peningkatan investasi ini didorong oleh meningkatnya biaya chip komputasi, dan kebutuhan untuk membangun lebih banyak data center untuk menunjang ambisi AI perusahaan, dihimpun KompasTekno dari Economic Times.
Rusia blokir WhatsApp
Pada pertengahan Februari 2026, pemerintah Rusia membatasi akses WhatsApp dan berupaya memblokir total aplikasi pesan milik Meta tersebut
Langkah ini dilakukan bersamaan dengan dorongan kepada warga untuk beralih ke aplikasi buatan dalam negeri bernama Max.
Aplikasi ini dirancang sebagai super-app, mirip WeChat di China.
Sejak 2025, aplikasi Max wajib terpasang di semua perangkat baru yang dijual di Rusia. Penggunaannya juga wajib bagi pegawai pemerintah, guru, dan siswa.
Pembatasan akses WhatsApp di Rusia diumumkan langsung oleh aplikasi pesan instan ini. WhatsApp mengonfirmasi upaya pemblokiran penuh ini lewat unggahan di X (Twitter).
Baca juga: Meta Dijegal China, Akuisisi Manus AI Diminta Batal
WhatsApp menyebut langkah itu bertujuan mendorong warga Rusia menggunakan Max, atau yang disebut WhatsApp sebagai "aplikasi pengawasan" buatan negara.
“Hari ini pemerintah Rusia mencoba memblokir WhatsApp sepenuhnya sebagai upaya mendorong warganya beralih ke aplikasi pengawasan buatan dalam negeri,” tulis WhatsApp dalam sebuah posting di X (Twitter) pada Februari lalu.
WhatsApp menilai kebijakan ini sebagai langkah mundur. Kebijakan tersebut berdampak pada lebih dari 100 juta pengguna WhatsApp di Rusia. Perusahaan juga menegaskan akan terus berupaya menjaga pengguna tetap terhubung.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan WhatsApp bisa kembali normal jika Meta mematuhi hukum Rusia. Jika tidak ada kompromi, peluang pemulihan akses disebut tidak ada.
Tag: #induk #facebook #instagram #whatsapp #kehilangan #juta #pengguna #kenapa