Pernah Meraja Cukup Lama, Kenapa Nokia Bisa Bangkrut?
Nokia(Ist)
11:06
21 Mei 2026

Pernah Meraja Cukup Lama, Kenapa Nokia Bisa Bangkrut?

- Tidak ada yang membantah bahwa Nokia pernah menjadi raksasa ponsel dunia. Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, ponsel Nokia begitu dominan dan digunakan oleh jutaan orang di berbagai negara.

Menurut analis CCS Insight, Ben Wood, pada masa itu Nokia bahkan sudah identik dengan industri ponsel itu sendiri.

“Orang-orang tidak membicarakan mereknya, melainkan nomornya, seperti 3210 atau model apa pun yang mereka punya,” kata Wood.

Kultur itu tentu berbeda dengan masa kini, di mana orang harus menyebut merek ponsel dulu, baru model atau variannya.

Namun dominasi tersebut perlahan runtuh setelah kemunculan Apple dengan iPhone pada 2007. Hanya dalam beberapa tahun, Nokia kehilangan pangsa pasar smartphone secara drastis.

Baca juga: Sejarah Nokia, Berpindah-pindah Tangan hingga Pensiunnya Merek Smartphone

Data firma riset Gartner menunjukkan pangsa pasar smartphone Nokia pada 2007 mencapai 49,4 persen.

Angka itu turun menjadi 43,7 persen, lalu 41,1 persen, kemudian 34,2 persen dalam beberapa tahun setelahnya. Pada paruh pertama tahun 2011, pangsa pasarnya anjlok menjadi hanya 3 persen.

Lalu, kenapa Nokia bisa bangkrut dan kehilangan dominasinya di industri ponsel?

Beberapa faktor diduga menjadi penyebab. Bukan hanya faktor teknologi, tetapi juga berkaitan dengan budaya kerja, kepemimpinan, dan arah strategi perusahaan.

Kemunculan iPhone mengubah industri

Menurut Ben Wood, salah satu titik balik terbesar bagi Nokia terjadi ketika pendiri Apple, Steve Jobs, memperkenalkan iPhone pada Januari 2007.

Wood menilai saat itu Nokia terlalu percaya diri terhadap posisinya di pasar.

“Mereka merasa tidak mungkin melakukan kesalahan,” ujar Wood, dikutip dari BBC.

Kemunculan iPhone mengubah arah industri smartphone. Jika Nokia sebelumnya unggul lewat inovasi perangkat keras atau hardware, Apple justru menempatkan software sebagai pusat pengalaman pengguna.

“Nokia membuat ponsel yang hebat. Mereka melewati dekade luar biasa dalam inovasi hardware. Tapi Apple melihat bahwa yang dibutuhkan sebenarnya hanyalah sebuah kotak persegi panjang dengan layar, sementara sisanya bergantung pada software,” kata Wood.

Salah satu aspek yang banyak disorot adalah sistem operasi Symbian milik Nokia. Banyak analis menilai platform tersebut tidak mampu mengejar perkembangan iOS milik Apple.

Baca juga: Beli HP Nokia 2010, 16 Tahun Kemudian Baru Tiba, Begini Ceritanya

Wood menyebut Nokia gagal melihat pentingnya software dalam perkembangan smartphone modern.

Budaya kerja internal ikut andil

Selain faktor persaingan industri, penelitian akademik juga menemukan adanya persoalan internal di tubuh Nokia.

Asisten profesor manajemen strategi Universitas Aalto, Tim O. Vuori, bersama profesor strategi INSEAD Singapura, Qui Huy, melakukan penelitian berjudul Distributed Attention and Shared Emotions in the Innovation Process: How Nokia Lost the Smartphone Battle.

Dalam studi tersebut, mereka mewawancarai 76 manajer level atas, manajer menengah, engineer Nokia, serta pakar eksternal.

Hasil penelitian menunjukkan adanya budaya kerja yang disebut “mencekam” di dalam perusahaan.

Para pemimpin Nokia disebut memiliki sikap tempramental sehingga manajer level menengah takut melaporkan kondisi sebenarnya, terutama terkait target penjualan yang gagal tercapai.

Di sisi lain, para eksekutif Nokia juga disebut khawatir mengakui kualitas sebenarnya dari Symbian.

Mereka takut investor, pemasok, dan pengguna akan meninggalkan Nokia apabila kelemahan sistem operasi itu diketahui secara luas.

Namun mereka juga menyadari bahwa membangun sistem operasi baru yang dapat menyaingi iOS membutuhkan waktu panjang.

Baca juga: Nvidia Beli Saham Nokia Rp 16 Triliun, Bangun Jaringan 6G Bertenaga AI

Penelitian tersebut juga menyebut adanya tekanan dari manajer level atas kepada manajer menengah agar terus mencapai target.

Situasi itu membuat sebagian manajer memilih memberikan laporan yang tidak sepenuhnya sesuai kondisi sebenarnya.

Vuori dan Huy juga menyoroti bahwa sejumlah pimpinan Nokia dianggap kurang memiliki pemahaman teknis mendalam. Hal itu dinilai memengaruhi cara perusahaan mengambil keputusan teknologi dan menetapkan target.

Penelitian tersebut membandingkan kondisi itu dengan Apple yang saat itu banyak dipimpin oleh engineer.

Fokus jangka pendek

Salah satu keputusan yang disebut menjadi blunder adalah alokasi sumber daya perusahaan.

Dalam penelitian Vuori dan Huy, Nokia disebut lebih memilih mengembangkan perangkat ponsel baru demi memenuhi kebutuhan pasar jangka pendek, ketimbang memfokuskan sumber daya untuk membangun sistem operasi baru yang kompetitif dalam jangka panjang.

Situasi tersebut kemudian memunculkan fenomena yang disebut “miopia temporal”, yaitu ketidakmampuan mempertimbangkan dampak jangka panjang ketika mengambil keputusan.

Menurut penelitian itu, kombinasi faktor manusia, ekonomi, dan struktur organisasi membuat Nokia kesulitan berinovasi di tengah perubahan industri smartphone yang sangat cepat.

Padahal, Nokia memiliki nilai perusahaan seperti Respect (menghormati), Challenge (tantangan), Achievement (capaian), dan Renewal (pembaruan).

Namun sebagian karyawan menilai nilai tersebut tidak dijalankan secara konsisten dalam operasional perusahaan.

Baca juga: Masih Ingat Nada Dering Nokia yang Legendaris? Ini Asal Muasalnya 

Akuisisi Microsoft

Di tengah penurunan bisnis ponsel, Microsoft akhirnya membeli divisi perangkat Nokia.

Menurut Ben Wood, Microsoft saat itu juga berada dalam posisi sulit di pasar mobile dan membutuhkan mitra untuk memperkuat bisnis smartphone mereka.

Smartphone flagship Nokia sendiri saat itu sudah menggunakan sistem operasi Windows Phone buatan Microsoft.

CEO Microsoft kala itu, Steve Ballmer, mengatakan akuisisi tersebut memungkinkan Microsoft meningkatkan kelincahan inovasi di pasar mobile.

Analis Gartner, Roberta Cozza, menilai Microsoft perlu menjadi lebih dari sekadar perusahaan software agar bisa bersaing dengan Apple dan Google di pasar mobile.

Menurut Cozza, Microsoft juga memperoleh keuntungan dari pengalaman Nokia di pasar negara berkembang.

Pada 2014, Microsoft resmi mengakuisisi divisi perangkat keras Nokia dengan nilai sekitar 7,2 miliar dollar AS.

Nokia pasca-bisnis ponsel

Meski mundur dari bisnis ponsel, Nokia tidak sepenuhnya hilang.

Perusahaan tersebut masih memiliki sejumlah aset penting, termasuk bisnis jaringan melalui Nokia Solutions and Networks serta divisi peta digital Here.

Layanan Here disebut menjadi software navigasi pilihan di sekitar 80 persen mobil yang memiliki sistem navigasi bawaan dashboard.

Selain itu, Nokia juga memiliki banyak paten penting di industri mobile. Forbes memperkirakan nilai portofolio paten Nokia mencapai sekitar 4 miliar dollar AS.

Baca juga: Nokia Cari Mitra Baru Pengganti HMD Global, Kembali ke Bisnis Smartphone?

Pada 2016, lisensi merek Nokia kemudian dibeli oleh HMD Global yang memproduksi ponsel dengan merek Nokia hingga saat ini.

Tag:  #pernah #meraja #cukup #lama #kenapa #nokia #bisa #bangkrut

KOMENTAR