IMF Ingatkan Risiko Subsidi Energi dan Pangan Berlebihan
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mengingatkan pemerintah di berbagai negara agar tidak gegabah merespons lonjakan harga energi dan pangan global.
Dalam situasi tekanan harga yang terus berlangsung, IMF menilai kebijakan yang salah justru dapat memperburuk inflasi, membebani fiskal negara, dan menghambat penyesuaian ekonomi.
Dalam laporan terbarunya, Rabu (20/5/2026), IMF menyoroti guncangan harga energi dan harga pangan saat ini tidak hanya berdampak pada rumah tangga rentan, tetapi juga mengganggu keberlangsungan usaha kecil hingga mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Baca juga: Rupiah Melemah Tajam, Harga Pupuk Subsidi Nasional Ikut Naik?
Ilustrasi harga minyak mentah.
IMF menekankan, kenaikan harga global sebaiknya tetap diteruskan ke harga domestik, alih-alih ditekan melalui subsidi besar-besaran atau pembatasan harga secara menyeluruh.
“Biarkan harga energi domestik mencerminkan biaya internasional,” tulis IMF dalam laporannya.
Menurut IMF, ketika harga energi global naik, masyarakat dan pelaku usaha perlu menerima sinyal harga tersebut agar konsumsi energi dapat menyesuaikan.
Jika pemerintah menahan harga terlalu lama melalui subsidi besar, maka konsumsi energi tetap tinggi dan beban anggaran negara membengkak.
Baca juga: Jaga Daya Beli, Pemerintah Sudah Gelontorkan Rp 153,1 T untuk Subsidi dan Kompensasi
Subsidi harus tepat sasaran
IMF menggarisbawahi perlindungan bagi masyarakat tetap diperlukan, terutama bagi kelompok rentan yang paling terdampak lonjakan harga pangan dan energi.
Namun, bantuan itu sebaiknya diberikan secara terarah dan bersifat sementara.
“Lindungi rumah tangga rentan dengan dukungan sementara yang tepat sasaran,” ungkap IMF.
Sejumlah harga bahan kebutuhan pokok di Kalimantan Timur diproyeksi mengalami kenaikan menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. Selasa (17/3/2026)
IMF menilai bantuan tunai langsung lebih efektif dibanding subsidi energi menyeluruh. Sebab, subsidi umum justru banyak dinikmati kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi yang konsumsi energinya lebih besar.
Baca juga: Harga Minyak Melonjak, Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik
Dalam laporan tersebut, IMF menyebut kebijakan subsidi luas juga dapat memperburuk posisi fiskal pemerintah di tengah kondisi utang yang sudah tinggi di banyak negara.
Hal itu sejalan dengan laporan Fiscal Monitor IMF edisi April 2026 yang menyoroti meningkatnya tekanan fiskal global akibat kombinasi utang tinggi, kenaikan biaya bunga, dan ketidakpastian geopolitik.
IMF menilai pemerintah perlu menjaga ruang fiskal agar tetap mampu merespons krisis yang lebih besar di masa depan.
Karena itu, langkah-langkah bantuan yang bersifat permanen dinilai berisiko menciptakan tekanan jangka panjang terhadap keuangan negara.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.600, BBM-Elpiji Subsidi Bakal Naik? Ini Kata Anak Buah Bahlil
Hindari kontrol harga
Selain subsidi, IMF juga mengingatkan pemerintah agar berhati-hati menerapkan kontrol harga atau pembatasan harga energi dan pangan.
Menurut IMF, kebijakan penetapan harga yang terlalu rendah dapat mengurangi pasokan dan memicu distorsi pasar.
Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat menyebabkan kelangkaan barang dan memperburuk tekanan inflasi.
“Subsidi umum dan pembatasan harga hanya diterapkan untuk guncangan yang benar-benar luar biasa,” ungkap IMF.
Baca juga: Dollar AS Makin Mahal, Purbaya Minta Masyarakat Tak Khawatirkan Subsidi BBM
IMF menilai kebijakan pembatasan harga sebaiknya hanya digunakan dalam kondisi sangat luar biasa dan untuk periode yang sangat terbatas.
Ilustrasi BBM.
Lembaga tersebut mencontohkan bahwa ketika harga energi global melonjak, pemerintah sering kali tergoda menahan kenaikan harga domestik demi menjaga daya beli masyarakat.
Namun, kebijakan tersebut dapat menghambat upaya penghematan energi dan memperbesar ketergantungan terhadap subsidi negara.
IMF juga mengingatkan, kebijakan harga murah buatan dapat mengurangi insentif investasi di sektor energi, terutama investasi energi alternatif dan efisiensi energi.
Baca juga: Wacana Pembatasan BBM Subsidi, Pertamina: Kami Ikuti Arahan Pemerintah
Usaha kecil diminta diberi likuiditas
Selain rumah tangga, IMF menilai usaha kecil dan menengah juga menjadi kelompok yang rentan terkena dampak lonjakan harga energi dan pangan.
Karena itu, IMF menyarankan dukungan bagi dunia usaha dilakukan melalui bantuan likuiditas, bukan melalui penetapan harga murah secara luas.
“Dukung usaha kecil yang layak dengan likuiditas, bukan pengendalian harga,” tulis IMF.
Menurut IMF, bantuan likuiditas dapat membantu perusahaan yang sebenarnya masih sehat untuk bertahan menghadapi lonjakan biaya produksi sementara.
Baca juga: Sebut Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen, Mentan: Kebahagiaan 160 Juta Petani Indonesia
Sebaliknya, kontrol harga dinilai justru dapat menciptakan distorsi pasar yang lebih besar dan mengurangi efisiensi ekonomi.
Dalam situasi harga energi tinggi, banyak usaha kecil menghadapi tekanan biaya operasional, mulai dari transportasi hingga bahan baku. IMF menilai kebijakan bantuan yang lebih terukur akan lebih efektif dibanding intervensi harga secara menyeluruh.
Risiko inflasi dan perlambatan ekonomi
IMF sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa lonjakan harga energi global dapat mendorong perlambatan ekonomi dunia sekaligus memperbesar tekanan inflasi.
Ilustrasi inflasi.
Dalam konferensi pers IMF pekan lalu, juru bicara IMF Julie Kozack mengatakan harga minyak yang menembus 100 dollar AS per barrel akibat ketegangan geopolitik berpotensi mendorong ekonomi global menuju skenario yang lebih buruk.
Baca juga: Purbaya: Rupiah Dekati Rp 17.500 Belum Ganggu Hitungan Subsidi Energi
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat turun menjadi 2,5 persen pada tahun ini dari 3,4 persen pada 2025 dalam skenario tekanan energi yang memburuk.
Kenaikan harga energi juga disebut dapat memicu efek berantai terhadap inflasi pangan, biaya transportasi, dan harga barang konsumsi lainnya.
Dalam laporan Food Security Update, Bank Dunia menyebut gangguan jalur perdagangan dan lonjakan harga energi global berpotensi memicu kenaikan harga pangan yang lebih tajam dalam beberapa bulan ke depan.
IMF menilai kondisi tersebut membuat pemerintah menghadapi tantangan yang kompleks.
Baca juga: Rupiah Tembus 17.500, Kementerian ESDM Kaji Dampaknya ke Subsidi BBM
Di satu sisi, pemerintah harus melindungi masyarakat dari tekanan harga. Namun di sisi lain, mereka juga perlu menjaga stabilitas fiskal dan memastikan inflasi tidak semakin tidak terkendali.
Negara berkembang paling rentan
IMF menyebut dampak lonjakan harga energi dan pangan tidak merata antarnegara maupun antarkelompok masyarakat.
Negara berkembang dinilai lebih rentan karena memiliki ruang fiskal yang lebih terbatas dan ketergantungan yang lebih besar terhadap impor energi maupun pangan.
Tekanan harga juga lebih cepat memukul masyarakat berpenghasilan rendah karena proporsi pengeluaran untuk kebutuhan dasar jauh lebih besar dibanding kelompok berpendapatan tinggi.
Baca juga: DEN Ungkap Bocoran Skema Baru Pembatasan BBM Subsidi
IMF karena itu menilai bantuan sosial yang terarah menjadi instrumen paling penting dalam menghadapi gejolak harga global saat ini.
Dalam beberapa kasus, IMF juga membuka peluang bantuan pembiayaan bagi negara-negara yang terdampak lonjakan biaya energi dan komoditas.
Ilustrasi harga minyak
Kozack mengatakan sejumlah negara saat ini sedang berdiskusi dengan IMF terkait dukungan kebijakan maupun kemungkinan bantuan pendanaan.
“Saat ini banyak negara lebih mencari panduan kebijakan daripada bantuan keuangan langsung,” kata Kozack, dikutip dari Reuters.
Baca juga: Purbaya: Inflasi Kembali Terkendali di 2,4 Persen, Dampak Subsidi Mulai Hilang
IMF memperkirakan hingga 12 negara dapat membutuhkan dukungan pembiayaan sebesar 20 miliar dollar AS hingga 50 miliar dollar AS akibat tekanan harga energi dan pangan global.
Kebijakan harus bersifat sementara
IMF menekankan, seluruh kebijakan bantuan menghadapi lonjakan harga energi dan pangan sebaiknya bersifat sementara dan fleksibel mengikuti perkembangan situasi global.
Lembaga itu mengingatkan, kebijakan permanen akan sulit dicabut ketika tekanan fiskal mulai meningkat.
Selain itu, IMF juga menilai komunikasi kebijakan menjadi faktor penting agar masyarakat memahami alasan di balik kenaikan harga domestik maupun perubahan skema bantuan pemerintah.
Baca juga: Subsidi Motor Listrik Masih Dikaji, Pemerintah Geser Fokus dari Emisi ke Ketahanan Energi
Dalam situasi gejolak global yang berkepanjangan, IMF menilai pemerintah perlu memastikan bantuan benar-benar diberikan kepada kelompok yang paling membutuhkan, sambil menjaga keberlanjutan fiskal jangka panjang.