Bapak AI Bicara soal Makluk Baru dan Penghinaan Terbesar Ketiga
Ilustrasi AI (Magnific.com)
14:03
5 Juni 2026

Bapak AI Bicara soal Makluk Baru dan Penghinaan Terbesar Ketiga

- Pakar ilmu komputer ternama asal Inggris-Kanada yang baru saja dinobatkan sebagai peraih Hadiah Nobel Fisika 2024, Geoffrey Hinton, kembali mengeluarkan peringatan keras.

Sosok yang dijuluki "Bapak Kecerdasan Buatan" (Godfather of AI) ini menegaskan bahwa umat manusia tidak sekadar sedang menciptakan program komputer tingkat lanjut.

Lebih dari itu, manusia sesungguhnya tengah melahirkan sebuah "makluk baru" yang akan jauh melampaui kecerdasan manusia.

Pernyataan tersebut disampaikan Hinton saat berbicara dalam ajang Sana AI Summit di New York pekan lalu.

Pria berusia 77 tahun ini memprediksi bahwa kecerdasan AI ini akan segera melampaui batas kemampuan otak penciptanya dalam waktu yang sangat dekat.

Bahkan, ilmuwan yang mundur dari Google pada tahun 2023 ini meyakini ada kemungkinan 10 hingga 20 persen bahwa AI akan memicu kepunahan manusia dalam kurun waktu 30 tahun ke depan.

Hinton tidak berbicara teori semata. Ia mencontohkan bagaimana sebuah model AI baru-baru ini berhasil memecahkan salah satu teorema matematika kompleks milik Paul Erdos dengan menggunakan cabang matematika yang sebelumnya tak terpikirkan oleh siapa pun.

Baca juga: Pakar Matematika Kesulitan Pecahkan Soal, Akhirnya Selesai Dibantu AI Claude

Bagi Hinton, pencapaian ini adalah bukti nyata bahwa AI sudah mampu menghasilkan asumsinya sendiri, mengujinya, belajar dari kegagalannya, dan terus berkembang tanpa henti.

Mekanisme ini serupa dengan bagaimana sistem AI AlphaGo berevolusi, dari yang awalnya hanya meniru taktik pemain profesional, menjadi sistem yang tak terkalahkan setelah ia mulai meracik data pelatihannya sendiri.

AlphaGo adalah program AI buatan Google DeepMind yang dirancang untuk bermain Go, yaitu permainan papan strategi dari China.

"Saya rasa (AI) akan menjadi jauh lebih cerdas dari kita," kata Hinton.

Menurut dia , model bahasa besar (Large Language Model, LLM) saat ini berada pada arah yang sama.

Jika sebuah AI diberi keyakinan tertentu, lalu ia didorong untuk menalar kesimpulan baru yang bertentangan dengan keyakinan awalnya, AI tersebut akan menemukan inkonsistensi. Inkonsistensi inilah yang menjadi "sinyal pembelajaran" mandiri tanpa memerlukan asupan data baru dari manusia.

Hinton menyebut bahwa rekan sesama peraih Nobel, Demis Hassabis (CEO Google DeepMind), juga menyetujui teori ini.

Dalam satu dekade ke depan, Hinton memprediksi AI akan menyingkirkan para matematikawan terbaik dunia. Sementara dalam 20 tahun ke depan, kesenjangan antara kemampuan AI dan otak jenius sekelas Albert Einstein akan sepenuhnya hilang.

Baca juga: Resmi, Indonesia Kini Punya Domain Internet Khusus AI

Ancaman hilangnya lapangan kerja

Kekhawatiran Hinton telah berkembang jauh. Jika dulu ia hanya takut pada penyalahgunaan AI oleh pihak tak bertanggung jawab, kini ia menyoroti masalah di balik pengembangannya.

Ia menilai bahwa AI akan menyebabkan pengangguran massal sementara keuntungan perusahaan teknologi melonjak tajam.

"Apa yang sebenarnya akan terjadi adalah orang-orang kaya akan menggunakan AI untuk menggantikan para pekerja. Itu bukan salah AI. Itu adalah sistem kapitalis," kritiknya.

Hinton menggunakan analogi biologi evolusioner untuk menjelaskan bahaya yang mengintai.

Sifat dasar manusia seperti tribalisme (kesetiaan pada kelompok sendiri dan kejam pada kelompok lain) muncul dari jutaan tahun seleksi alam yang mengutamakan kelangsungan hidup (survival), bukan kebaikan (kindness).

Kini, perlombaan raksasa teknologi kapitalis menjalankan skenario evolusi yang sama. Demi meraup valuasi triliunan dollar dengan cepat, perusahaan memacu penciptaan AI tercerdas tanpa memedulikan nilai-nilai moral, yang pada akhirnya akan melahirkan entitas yang tidak ramah terhadap manusia.

Bahkan, ketika OpenAI (pembuat ChatGPT) merilis dokumen kebijakan setebal 13 halaman yang menyerukan perlunya kesepakatan baru terkait superintelligence, Hinton tetap melontarkan kritik.

Ia menilai industri masih tutup mata dan enggan bertanya entitas seperti apa yang sebenarnya sedang mereka ciptakan.

Bapak AI Geoffrey Hinton.CBSNews Bapak AI Geoffrey Hinton.

Baca juga: Bapak AI Peraih Nobel: Saya Bangga Murid Saya Memecat Sam Altman

Solusi naluri ibu

Menurut Hinton, solusi dari masalah ini tidak bisa diselesaikan murni lewat engineering, melainkan harus melalui pendekatan yang lebih mirip dengan pola asuh orang tua kepada anaknya.

Kebaikan moral sebuah AI harus dikurasi, ditanamkan, dan dilatih sejak awal. Ia bahkan sempat mengusulkan agar perusahaan teknologi memberikan "naluri keibuan" pada AI agar mereka memiliki keinginan alami untuk melindungi manusia.

"Apakah Anda akan mengajari anak Anda membaca dengan menggunakan buku harian pembunuh berantai? Tentu saja tidak. Nah, itulah jawabannya (terkait pentingnya kurasi data pelatihan)," tegasnya.

Baca juga: Terbaru, Ini 10 Profesi Paling Terdampak AI dan yang Aman

Penghinaan ketiga

Hinton memprediksi bahwa keberhasilan umat manusia dalam menciptakan entitas baru ini justru akan berujung pada penghinaan intelektual terbesar ketiga dalam sejarah.

"Saya rasa kita sedang menghadapi revolusi baru, di mana kita bukan lagi satu-satunya entitas (cerdas) yang ada," tuturnya.

Hinton mengurutkan tiga pukulan telak bagi ego manusia tersebut:

  • Pertama, teori Copernicus yang membantah bahwa Bumi adalah pusat alam semesta.
  • Kedua, teori evolusi Charles Darwin yang menegaskan bahwa manusia berasal dari garis keturunan hewan.
  • Ketiga, kecerdasan buatan yang membuktikan bahwa manusia bukanlah makluk paling cerdas, dan mesin pada akhirnya akan melampaui keistimewaan manusia.

Bantahan dari ilmuwan

Meski peringatan Hinton terdengar mengerikan, tidak semua pakar teknologi sependapat dengannya. Ilmuwan kognitif ternama yang juga kerap bersikap skeptis terhadap AI, Gary Marcus, langsung membantah keras teori "makluk baru" tersebut.

Menurut Marcus, para peneliti AI tidak sedang menciptakan mahkluk bernyawa, melainkan hanya menyusun sebuah fiksi interaktif.

"Mereka menciptakan fiksi interaktif yang dilatih untuk memprediksi bahasa dari entitas yang sebenarnya. Keduanya tidak sama. Dan Hinton seharusnya lebih tahu soal ini," sanggah Marcus.

Marcus menegaskan bahwa AI hanyalah sistem yang menghafal pola data di internet, bukan membangun model berdasarkan pengalaman hidup dan kesadaran layaknya manusia.

Ia bahkan mengutip pernyataan Paus Leo XIV untuk memperkuat argumennya, "Pemahaman sejati datang dari pengalaman, bukan dari perkiraan teks."

Terlepas dari perdebatan tersebut, Hinton menutup sesinya dengan membandingkan dirinya dengan J. Robert Oppenheimer, bapak pencipta bom atom yang karyanya mengubah sejarah dunia tapi berujung pada penyesalan mendalam.

Ketika ditanya apa bedanya ia dengan Oppenheimer, Hinton melontarkan kalimat penutup yang membuat seisi ruangan tertawa.

"Oppenheimer tidak pernah memenangi Hadiah Nobel Fisika," tutupnya, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Fortune.

Tag:  #bapak #bicara #soal #makluk #baru #penghinaan #terbesar #ketiga

KOMENTAR