GoPro Dulu Rajanya Action Camera, Kini Terancam Tak Bertahan
Bodinya tahan banting dengan ketahanan air hingga kedalaman hingga 5 meter, sehingga bisa diajak menyelam atau dipakai saat hujan deras tanpa perlu aksesori tambahan.(GoPro)
09:03
12 Juni 2026

GoPro Dulu Rajanya Action Camera, Kini Terancam Tak Bertahan

– Pernah ada masa ketika setiap atlet olahraga ekstrem, peselancar, pesepeda gunung, dan content creator punya satu kamera yang sama menempel di helm mereka. Mereknya GoPro.

Selama bertahun-tahun, nama GoPro hampir identik dengan kategori action camera. Tidak ada pesaing serius. Tidak ada ancaman yang nyata.

Sekarang? Pelopor kamera aksi itu sedang berjuang sekadar untuk bertahan hidup.

GoPro baru saja mengeluarkan peringatan resmi yang dalam dunia bisnis disebut sebagai going concern warning.

Dalam laporan keuangan terbarunya yang diajukan ke otoritas pasar modal AS, Securities and Exchange Commission alias SEC, perusahaan ini secara terbuka mengakui ada "keraguan substansial" soal kemampuan mereka untuk terus beroperasi.

Peringatan itu disertai catatan dari auditor independen mereka, PricewaterhouseCoopers.

Baca juga: Sejarah DJI, Penguasa Pasar Drone yang Berawal dari Kamar Kos

Singkatnya, GoPro mengakui mereka mungkin tidak akan sanggup bertahan dalam 12 bulan ke depan, kecuali ada suntikan dana baru atau ada perusahaan yang mau membeli mereka.

Angka-angka di laporan keuangan GoPro memang suram.

Pendapatan total perusahaan anjlok 19 persen sepanjang tahun fiskal terakhir, dari yang sebelumnya jauh lebih besar menjadi cuma 652 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,5 triliun.

GoPro juga mengalami kerugian bersih sebesar 93,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,63 triliun pada tahun yang sama.

Yang paling menyeramkan adalah kondisi kas perusahaan. Setahun lalu, GoPro masih punya kas yang lumayan. Sekarang, jumlahnya tinggal separuh, hanya tersisa 49,7 juta dollar AS atau sekitar Rp 870 miliar.

Untuk perusahaan global dengan ratusan karyawan dan operasi di banyak negara, jumlah kas segitu jelas tidak banyak.

Yang membuat situasi makin runyam, GoPro masih punya utang ke berbagai bank senilai 88,6 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,55 triliun. Kontrak utang itu menyatakan, peringatan going concern otomatis dianggap sebagai pelanggaran perjanjian alias default.

Karena utang-utangnya saling terkait, default di satu utang akan memicu default di semua utang lainnya. Kalau bank menagih semuanya sekaligus, GoPro jelas tidak punya uang untuk membayarnya.

Manajemen GoPro saat ini sedang berusaha bernegosiasi dengan para pemberi pinjaman untuk minta keringanan, sebelum semuanya jadi lebih parah.

Baca juga: Drone Blackbird Pecahkan Rekor Dunia, Lebih Kencang dari Mobil F1

Dulu pernah bernilai ratusan triliun

Kondisi GoPro sekarang jelas jauh berbeda dari era keemasan mereka. GoPro didirikan pada 2002. Sepanjang dekade 2010-an, perusahaan ini benar-benar mendominasi pasar kamera aksi.

Para atlet ekstrem, peselancar, snowboarder, pesepeda gunung, pelancong, hingga content creator mengandalkan kamera mungil tahan banting buatan GoPro untuk merekam pengalaman mereka dari sudut pandang orang pertama.

Pengaruh GoPro bahkan merembet ke industri musik dan budaya festival. Para content creator dan penggemar memakai kamera ini untuk mendokumentasikan penampilan musisi, festival, hingga momen-momen di belakang panggung.

Itu semua sebelum kamera smartphone bisa menghasilkan kualitas video yang setara.

Di puncak kejayaannya, valuasi pasar GoPro melebihi 10 miliar dollar AS atau sekitar Rp 175 triliun. Mereka dianggap sebagai salah satu merek elektronik konsumen paling inovatif di dunia. Sekarang, valuasi itu sudah jauh dari kenyataan.

Baca juga: Pria Ini Tak Sengaja Hack Robot Vacuum Sedunia, DJI Kasih Ganjaran

DJI dari China yang melibas habis

Apa yang terjadi pada GoPro?

Pertama, datang kamera smartphone. Kualitas kamera ponsel meningkat drastis dalam satu dekade terakhir, menyerap sebagian besar kebutuhan fotografi dan video yang dulu mengandalkan kamera aksi.

Tapi ada pesaing lain yang lebih nyata, lebih agresif, dan lebih sulit dilawan, yaitu DJI.

Perusahaan teknologi asal Shenzhen, China itu memang awalnya dikenal sebagai produsen drone. Tapi DJI tidak puas hanya bermain di pasar drone. Mereka masuk ke pasar kamera aksi lewat seri Osmo Action, lalu seri Osmo Pocket, dan kini Osmo 360.

Strategi DJI sederhana. Mereka menawarkan kamera dengan spesifikasi setara atau lebih bagus dibanding GoPro, tapi dengan harga yang lebih bersaing. Plus, integrasi yang mulus dengan ekosistem perangkat DJI lainnya, terutama gimbal dan drone.

Hasilnya, satu per satu, DJI mengambil pasar yang dulunya milik GoPro. Para content creator dan vlogger mulai berpindah karena pilihan DJI dianggap lebih value for money.

Baca juga: DJI vs Insta360: Perang Paten Meletus di Industri Drone

Para penggemar olahraga ekstrem yang dulu setia dengan GoPro, kini banyak yang beralih ke Osmo Action karena fitur layar depan yang lebih praktis untuk vlogging dan harga yang lebih masuk akal.

GoPro sebenarnya bukan tidak melawan. Mereka terus merilis produk baru, termasuk Mission 1, platform kamera terbaru mereka. Tapi peluncurannya pun tidak mulus.

Salah satu produk terbaru mereka, Max 2, malah molor dari jadwal dan melewatkan musim penjualan liburan yang biasanya jadi puncak omzet tahunan.

DJI Osmo Pocket 4.DJI DJI Osmo Pocket 4.

Baca juga: Skenario Krisis 2028 saat AI Gantikan Manusia Terlalu Cepat

Memori juga jadi masalah

Selain pesaing yang makin galak, GoPro juga kena hantam masalah lain, yaitu kenaikan harga memori.

Industri kamera sangat bergantung pada flash memory untuk menyimpan rekaman video resolusi tinggi. Sejak akhir 2025, harga memori di pasar global melonjak tajam karena permintaan dari infrastruktur AI dan data center meningkat drastis.

Saat produsen memori memprioritaskan pasokan untuk industri AI, perusahaan elektronik seperti GoPro yang sangat tergantung pada memori jadi salah satu pihak yang paling terdampak.

Biaya produksi kamera ikut melonjak. Margin keuntungan tergerus. Pendapatan turun, biaya naik. Kombinasi maut untuk perusahaan yang sudah kesulitan keuangan.

PHK 23 persen karyawan

Untuk mencoba bertahan, GoPro sudah mengambil sejumlah langkah penyelamatan.

Yang pertama, pemutusan hubungan kerja alias PHK terhadap 23 persen karyawannya. Sekitar 145 posisi dihilangkan untuk menekan beban gaji.

GoPro juga sudah menyewa penasihat keuangan untuk mencari jalan keluar. Para penasihat ini saat ini sedang mempertimbangkan dua kemungkinan besar, menjual seluruh perusahaan, atau mencari mitra bisnis yang lebih besar.

Awal tahun ini, dewan direksi GoPro juga sudah resmi mengumumkan peninjauan terhadap "alternatif strategis", istilah halus untuk kemungkinan penjualan, merger, atau transaksi lain yang bisa menyelamatkan nilai saham.

GoPro juga berusaha diversifikasi bisnis. Mereka mulai melirik peluang di sektor pertahanan dan aerospace, dua bidang yang sedang banyak butuh kamera tahan banting dengan kualitas tinggi.

Baca juga: Meta PHK Massal, Karyawan di Singapura Dapat E-mail Pemecatan Pukul 04.00 Pagi

Akankah selamat?

Meski sudah mengeluarkan peringatan going concern, GoPro tetap beroperasi. Produk-produk baru masih dirilis. Karyawan yang tersisa masih bekerja.

Namun situasinya jelas tidak menggembirakan.

Kisah GoPro hari ini adalah cerita klasik tentang perusahaan teknologi yang pernah menjadi raja tanpa pesaing, lalu jatuh karena tiga hal sekaligus, yaitu smartphone, DJI mengambil pasar, dan kenaikan biaya komponen.

Dan ini bukan cerita yang aneh di industri teknologi. Banyak merek besar yang pernah merajai kategori produk tertentu, akhirnya tergerus oleh pesaing baru yang lebih lincah. Nokia, BlackBerry, Kodak. Daftarnya panjang.

Baca juga: Pernah Meraja Cukup Lama, Kenapa Nokia Bisa Bangkrut?

Sekarang, GoPro berdiri di posisi yang sama. Nasibnya akan ditentukan dalam beberapa bulan ke depan, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari EDMTunes dan Gizchina.

Tag:  #gopro #dulu #rajanya #action #camera #kini #terancam #bertahan

KOMENTAR