Galeri Indonesia Unjuk Gigi di Art Basel Hong Kong 2026
Melalui dukungan MTN Seni Budaya, RUCI Art Space tampil di Art Basel Hong Kong 2026 untuk memperkuat keterbacaan identitas seni Indonesia di mata kolektor dunia.(RUCI Art Space)
08:21
3 April 2026

Galeri Indonesia Unjuk Gigi di Art Basel Hong Kong 2026

– Selama tiga hari, ada 240 galeri dari 41 negara, Art Basel Hong Kong 2026 kembali mengubah Hong Kong Convention and Exhibition Centre (HKCEC) menjadi salah satu lantai pameran seni paling ramai di Asia. Mulai Jumat (27/3/2026) hingga Minggu (29/3/2026), gelaran itu menyambut 91.500 pengunjung dari berbagai penjuru dunia.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, karya yang hadir datang dalam segala bentuk dan medium, dari instalasi tekstil monumental hingga seni digital yang tahun ini untuk pertama kalinya mendapat panggungnya sendiri di Asia.

Namun di antara ratusan karya-karya itu, ada satu sudut yang menarik perhatian dengan cara yang berbeda. Kompas.com berkesempatan menyaksikan langsung gelaran ini pada press preview, Rabu (25/3/2026).

Indonesia hadir di panggung seni dunia

Sebuah papan bertuliskan "Rising Currents" berdiri di salah satu area pameran. Papan itu memuat daftar delapan galeri Indonesia yang berpartisipasi, yakni EDSU house (Yogyakarta), Galeri Ruang Dini (Bandung), ISA Art Gallery, RUCI Art Space, SAL PROJECT, SEWU SATU, Vice & Virtue (semuanya dari Jakarta), serta Puri Art Gallery dari Bali.

Rising Currents merupakan bagian dari program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Program ini bertujuan mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni dan budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan, serta menghubungkan mereka dengan peluang peningkatan kapasitas dan akses pasar, baik di tingkat nasional maupun global.

Keikutsertaan di Art Basel Hong Kong 2026 menjadi bagian dari tahap Rekognisi Internasional dalam kerangka MTN Seni Budaya, yang membuka peluang bagi galeri dan seniman Indonesia untuk tampil di panggung global serta memperkuat posisi Indonesia dalam lanskap seni kontemporer dunia.

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Ahmad Mahendra menyampaikan, program tersebut bukan sekadar kehadiran simbolik.

"Melalui 'Rising Currents', kami tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga memperkuat konektivitas antargaleri sebagai simpul penting dalam ekosistem seni rupa Indonesia," ujarnya.

Mahendra menambahkan bahwa inisiatif itu juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, sekaligus memastikan keberagaman praktik artistik talenta seni rupa Indonesia, baik yang sedang berkembang maupun yang sudah mapan, dapat terlibat secara inklusif dalam arena seni rupa global.

Platform Rising Currents yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan melibatkan delapan galeri nasional, termasuk RUCI Art Space, untuk membangun konektivitas antara ekosistem seni nasional dan audiens internasional.RUCI Art Space Platform Rising Currents yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan melibatkan delapan galeri nasional, termasuk RUCI Art Space, untuk membangun konektivitas antara ekosistem seni nasional dan audiens internasional.

Bermula dari pameran kecil

RUCI Art Space sendiri merupakan ruang seni kontemporer asal Jakarta Selatan yang berdiri sejak 2014. Bermula dari pameran perdana di sebuah restoran yang ditinggalkan, galeri itu kini berkembang menjadi ruang seni seluas sekitar 200 meter persegi.

Nama "RUCI" sendiri bermakna sebagai sumber cahaya, rasa, dan kenikmatan, sekaligus mencerminkan misinya sebagai hub bagi industri kreatif yang lebih luas.

Dalam booth-nya di Art Basel Hong Kong 2026, RUCI menghadirkan 32 karya dari dua seniman perempuan emerging berbasis di Jakarta, yaitu Cecil Mariani dan Aharimu. Karya-karya keduanya merefleksikan keragaman pendekatan dalam seni kontemporer Indonesia saat ini, dari eksplorasi identitas hingga dinamika tubuh dan narasi visual yang personal.

Gallery Director dan Co-Founder RUCI Art Space Rio Pasaribu mengapresiasi dukungan MTN Seni Budaya.

"Kami mengapresiasi dukungan MTN Seni Budaya dalam membuka akses galeri Indonesia ke platform internasional seperti ini (Art Basel Hong Kong 2026)," ujar Rio.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara dukungan pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci kelancaran partisipasi tersebut, termasuk dalam hal pengiriman karya lintas negara yang membutuhkan penanganan cermat. Menurutnya, kehadiran pemerintah lewat MTN juga menjadi pemicu bagi sektor swasta untuk ikut terlibat.

Rio juga menekankan pentingnya representasi Indonesia di art fair internasional. Baginya, kehadiran yang konsisten di panggung global akan membentuk "keterbacaan" identitas seni Indonesia di mata kolektor dunia, seperti halnya karya-karya dari Korea atau Jepang yang kini sudah langsung dikenali karakternya.

Ia pun mengakui bahwa masuk ke Art Basel lewat jalur reguler bukanlah perkara mudah. Sebuah galeri harus membangun rekam jejak di berbagai art fair internasional selama bertahun-tahun sebelum dinyatakan eligible. Program MTN pun menjadi jalan yang lebih strategis bagi galeri-galeri Indonesia untuk menembus panggung ini.

Adapun platform Rising Currents di Art Basel Hong Kong 2026 melibatkan 17 seniman seni rupa dari galeri-galeri Indonesia tersebut. Mereka merepresentasikan keberagaman praktik artistik Indonesia sekaligus membangun konektivitas antara ekosistem seni nasional dan audiens internasional.

Perkembangan signifikan

Art Basel Hong Kong 2026 mencatat sejumlah perkembangan signifikan. Pameran ini resmi mengumumkan kolaborasi lima tahun dengan Culture, Sports and Tourism Bureau (CSTB) Hong Kong. Ini menegaskan komitmen jangka panjang kedua pihak dalam memperkuat posisi Hong Kong sebagai hub seni internasional.

Antusiasme pasar seni Asia Pasifik pun terasa nyata di lantai pameran. Galeri-galeri melaporkan peningkatan keterlibatan kolektor lintas generasi, termasuk lonjakan pembeli muda dan kolektor baru yang untuk pertama kalinya masuk ke pasar seni.

Lebih dari 170 museum dan fondasi dari 27 negara turut hadir, salah satunya Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN) dari Jakarta.

Dari sisi kuratorial, sektor Encounters tahun ini tampil dengan wajah baru. Platform khusus Art Basel yang diperuntukkan untuk karya-karya berskala besar yang melampaui ukuran booth konvensional tersebut menghadirkan 12 karya yang mewakili kerangka lima elemen kosmologi Asia, yakni ruang, air, api, angin, dan bumi.

Karya-karya tersebut dikurasi dengan ketat oleh tim yang dipimpin Mami Kataoka. Menariknya, salah satu kurator dalam tim tersebut adalah Alia Swastika, kurator asal Indonesia yang namanya sudah dikenal di kancah seni internasional.

Tag:  #galeri #indonesia #unjuk #gigi #basel #hong #kong #2026

KOMENTAR