Okupansi Hotel di Yogyakarta Baru 80 Persen Jelang Long Weekend Idul Adha 2026
Tingkat okupansi hotel di Yogyakarta baru 80 persen menjelang long weekend Idul Adha 2026 mulai Rabu (27/5/2026).(Dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)
14:49
25 Mei 2026

Okupansi Hotel di Yogyakarta Baru 80 Persen Jelang Long Weekend Idul Adha 2026

- Jelang long weekend Idul Adha 2026 yang dimulai dari Rabu (27/5/2026), tingkat okupansi hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) baru mencapai 80 persen.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Deddy Pranowo Eryono mengatakan, rata-rata tingkat okupansi atau tingkat hunian hotel di DIY pada libur panjang akhir pekan di angka 60 sampai 80 persen.

“Okupansi bagus tapi biaya produksi naik, jadi revenue ya pas-pasan. Kalau bicara okupansi alhamdulilah cukup bagus dengan kondisi saat ini biaya produksi kita semakin naik,” ujar Deddy, Senin (25/5/2026).

Okupansi hotel di Yogyakarta jelang long weekend Idul Adha

Tak bisa menaikkan harga hotel

Tingkat okupansi hotel di Yogyakarta baru 80 persen menjelang long weekend Idul Adha 2026 mulai Rabu (27/5/2026).Dok. Shutterstock/kitzcorner Tingkat okupansi hotel di Yogyakarta baru 80 persen menjelang long weekend Idul Adha 2026 mulai Rabu (27/5/2026).

Menurut Deddy, dengan biaya produksi yang tinggi, para pengusaha hotel di DIY mengeluhkan tak bisa menaikkan harga hotel karena daya beli masyarakat juga mengalami penurunan.

“Daya beli masyarakat turun, hotel itu kan dynamic rate jadi kita lihat situasi kondisi yang ada,” ujarnya.

Deddy menyampaikan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar memiliki sisi positif dan negatif saat ini.

Sisi positifnya, saat wisatawan asing datang ke Indonesia dan menukarkan dollar ke rupiah, mereka mendapatkan rupiah dengan jumlah yang tinggi sehingga potensi belanja pengeluaran oleh wisatawan asing bertambah.

Baca juga: Jutaan Turis Diprediksi Liburan ke Yogyakarta, Apa Penyebabnya?

Kendati demikian, sisi negatifnya terutama dirasakan oleh wisatawan nusantara. Dollar yang naik membuat daya beli masyarakat turun sehingga mereka harus berpikir dua kali untuk berwisata karena menahan diri menyimpan uangnya.

“Positifnya yang mau berwisata ke luar negeri itu menunda dan mengalihkan ke wisata Indonesia,” kata dia.

Peluang ini, lanjut dia, harus ditangkap oleh pemerintah maupun pelaku usaha di bidang wisata.

“Nah DIY dan Bali itu jadi pilihan mereka ini harus kita tangkap, dan sekali lagi selain menangkap peluang juga melihat kondisi masyarakatnya jangan membuat paket yang mahal,” kata dia.

Tag:  #okupansi #hotel #yogyakarta #baru #persen #jelang #long #weekend #idul #adha #2026

KOMENTAR