Kasus Penipuan Pendakian Everest, Ribuan Turis Terdampak
ilustrasi pendaki gunung Everest yang terjebak dalam badai salju pada Sabtu (4/10/2025).(canva.com)
10:49
9 April 2026

Kasus Penipuan Pendakian Everest, Ribuan Turis Terdampak

Sejumlah pemandu di Gunung Everest diduga terlibat dalam skema penipuan asuransi bernilai hampir 20 juta dollar AS dengan cara memicu evakuasi darurat palsu terhadap pendaki asing.

Dilansir dari The Independent, penyelidikan kepolisian Nepal mengungkap bahwa para pemandu diduga secara sengaja membius atau memicu gangguan kesehatan pada pendaki untuk memaksa evakuasi helikopter yang mahal.

Baca juga: Wisata Gunung Bromo Ditutup Sementara untuk Pemulihan Ekosistem, Cek Jadwalnya

Ribuan Pendaki Diduga Terdampak

Skala penipuan ini disebut sangat besar. Polisi menyebut sebanyak 4.782 pendaki internasional terdampak dalam rentang waktu 2022 hingga 2025.

Lebih dari 300 kasus dugaan penyelamatan palsu telah diidentifikasi, dengan total tagihan mencapai hampir 20 juta dollar AS atau setara dengan Rp 310 miliar yang dibebankan kepada pendaki maupun perusahaan asuransi perjalanan internasional.

Seorang juru bicara kepolisian mengatakan, hingga saat ini sebanyak 32 orang telah didakwa dan 11 orang telah ditangkap dalam kasus tersebut.

Baca juga: 9 Rekomendasi Wisata Alam di Hong Kong, Bersepeda hingga Naik Gunung

Memicu Gejala Penyakit Ketinggian

Penyelidik mengungkap berbagai metode yang digunakan untuk memicu kondisi darurat palsu.

Salah satunya dengan mencampurkan baking powder ke dalam makanan pendaki untuk menimbulkan gangguan pencernaan yang menyerupai gejala penyakit ketinggian.

Baca juga: Aktivitas Erupsi Gunung Ile Lewotolok Meningkat, Meletus 67 Kali Sehari

Selain itu, ada juga dugaan penggunaan obat-obatan dengan jumlah air berlebihan untuk memicu gejala seperti mual, pusing, dan nyeri tubuh.

Setelah pendaki mengalami gejala tersebut, mereka kemudian disarankan untuk menghentikan pendakian dan menjalani evakuasi helikopter darurat.

Baca juga: Sempat Terjebak Badai Salju Gunung Everest, 580 Pendaki Berhasil Dievakuasi

Klaim Asuransi Direkayasa

Dalam praktiknya, operator penyelamatan diduga memalsukan dokumen medis dan catatan penerbangan untuk mengajukan klaim kepada perusahaan asuransi.

Para penyelidik menyebut bahwa biaya evakuasi sering kali digelembungkan.

Bahkan, setiap penumpang ditagih seolah-olah menggunakan penerbangan helikopter terpisah, meskipun sebenarnya mereka diterbangkan bersama.

Rumah sakit juga diduga terlibat dengan membuat laporan penerimaan dan perawatan palsu, termasuk untuk turis yang sebenarnya tidak menjalani perawatan.

Baca juga: Pendakian Gunung Slamet Ditutup, Suhu Kawah Naik hingga 400 Derajat Celsius

Banyak Pihak Terlibat

Kasus ini melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem pendakian, mulai dari sherpa, pemilik perusahaan pendakian, operator helikopter, hingga eksekutif rumah sakit.

Enam operator dan manajer dari perusahaan penyelamat menjadi pihak pertama yang ditangkap pada 25 Januari, karena diduga mengklaim uang asuransi melalui penyelamatan yang tidak diperlukan atau sepenuhnya direkayasa.

Baca juga: Aktivitas Gunung Slamet Naik, Tim SAR Cegat 364 Pendaki agar Tidak ke Puncak

Biro Investigasi Pusat Kepolisian Nepal menilai kasus ini telah merusak citra negara.

“Pelanggaran tersebut telah merugikan kebanggaan, prestise, dan martabat nasional Nepal di kancah internasional,” kata pihak kepolisian.

Baca juga: Aktivitas Gunung Slamet Naik, Tim SAR Cegat 364 Pendaki agar Tidak ke Puncak

Praktik Lama yang Terulang

Kasus serupa sebenarnya pernah terungkap sebelumnya. Investigasi pada 2018 mendorong pemerintah Nepal menyusun laporan setebal 700 halaman serta menjanjikan reformasi.

Namun, praktik tersebut diduga terus berlanjut. Kepala Biro Investigasi Pusat, Manoj Kumar KC, menyebut lemahnya penegakan hukum sebagai penyebab utama.

“Jika tidak ada tindakan terhadap kejahatan, maka kejahatan akan berkembang. Penipuan asuransi pun ikut berkembang sebagai akibatnya,” ujarnya.

Baca juga: Pendakian Gunung Gede Pangrango Kembali Dibuka Mulai 13 April 2026

Ancaman bagi Industri Pariwisata

Perusahaan asuransi perjalanan sebelumnya bahkan sempat mengancam akan menghentikan perlindungan untuk perjalanan ke Nepal jika praktik penipuan ini terus terjadi.

Laporan pada 2019 juga mengungkap bahwa sebagian wisatawan asing diduga ikut terlibat dengan berpura-pura mengalami penyakit ketinggian demi mendapatkan paket pendakian lebih murah.

Baca juga: Kereta Wisata Gunung Fuji Khusus Turis Mulai Beroperasi, Tertarik Coba?

Di sisi lain, ada pula pendaki yang benar-benar tidak mengetahui praktik tersebut dan jatuh sakit akibat makanan yang dicampur bahan seperti soda kue, ayam mentah, bahkan kotoran tikus.

Koresponden perjalanan The Independent, Simon Calder, mengatakan, “Siapa pun yang cukup beruntung mengunjungi Nepal, bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, dan menikmati beberapa jalur pendakian terbaik di dunia akan terkejut mengetahui penipuan ini.”

Ia menambahkan, “Sebagian besar orang dan organisasi yang terlibat dalam pariwisata di Nepal jujur dan fokus untuk memberikan pengalaman terbaik.

Baca juga: 7 Rekomendasi Penginapan di Pinggiran Pantai Gunung Kidul Yogyakarta

Penting untuk mencari rekomendasi yang dapat diandalkan sebelum memilih perusahaan untuk perjalanan Anda.”

Kasus ini kembali memicu sorotan terhadap tata kelola industri pendakian di Everest, terutama menjelang musim pendakian musim semi yang dimulai pada 30 Maret.

Tag:  #kasus #penipuan #pendakian #everest #ribuan #turis #terdampak

KOMENTAR