Festival Janda Reni, Meresapi Filosofi Sego Lemeng dan Kopi Uthek
Perayaan festival Janda Reni di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi (KOMPAS.COM/Dokumentasi Pemkab Banyuwangi)
16:07
20 April 2026

Festival Janda Reni, Meresapi Filosofi Sego Lemeng dan Kopi Uthek

Desa Banjar di Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur, selalu memiliki tempat spesial di hati pelancong.

Selain udaranya yang sejuk karena berada di lereng Gunung Ijen, desa ini menyimpan rahasia kuliner kuno yang baru saja dirayakan lewat festival bertajuk unik “Janda Reni”.

Bukan sekadar festival makan-makan, Janda Reni adalah perayaan filosofi hidup masyarakat Osing yang dibalut dalam kehangatan Sego Lemeng dan uniknya Kopi Uthek.

Bagi wisatawan, nama Janda Reni mungkin terdengar nyentrik.

Namun, tokoh adat setempat, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa nama ini berakar kuat pada tradisi pertanian aren di Desa Banjar.

Baca juga: Mau Buka Bisnis Kuliner? ALLFood 2026 Jadi Tempat Cari Ide dan Partner Usaha

"Reni yang dimaksud di sini adalah nama dari bunga aren. Lalu Janda atau Rondo tersebut merupakan proses megat atau pemisahan. Jadi Janda Reni ini merupakan proses pemisahan bunga aren," terang Lukman.

Bintang utama dalam festival ini adalah Sego Lemeng. Kuliner ini bukan sekadar nasi bakar biasa.

Proses pembuatannya menuntut kesabaran ekstra, sebuah hal yang bertentangan dari budaya fast food zaman sekarang.

Nasi yang telah dibumbui dan dicampur dengan cacahan ayam atau ikan tuna dibungkus daun pisang, lalu dimasukkan ke dalam bambu muda.

Bambu ini kemudian dibakar di atas kayu bakar selama empat jam hingga aromanya meresap sempurna.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang hadir dalam kemeriahan tersebut (19/4/2026), mengapresiasi langkah warga dalam menjaga warisan ini.

Baca juga: Kisah Icha, Ibu Tunggal di Banyuwangi, Bangkit dari Nol hingga Jadi Sales Terbaik

“Masyarakat Banyuwangi memiliki akar yang kuat pada tradisi, tidak hanya seni dan budaya tapi juga kulinernya," kata Ipuk.

Pemerintah daerah pun disebutnya berkomitmen untuk terus melestarikannya dengan membalutnya menjadi sebuah event menarik yang sekaligus menjadi atraksi wisata.

Sementara itu, menyantap Sego Lemeng yang gurih terasa belum lengkap tanpa Kopi Uthek. Cara menikmatinya pun unik, wisatawan harus menggigit potongan gula aren keras terlebih dahulu, lalu menyeruput kopi hitam panas.

Bunyi “uthek” saat gigi beradu dengan gula aren itulah yang menjadi asal-usul namanya.

Kepala Desa Banjar, Sunandi, memaparkan bahwa perpaduan ini adalah simbol kehidupan.

"Kopi Uthek yang bersanding dengan gula aren mengandung makna pahit manisnya kehidupan, sementara Sego Lemeng makanan yang menjaga perut tetap kenyang," jelasnya.

Kemeriahan Festival Janda Reni di Desa Banjar membuktikan bahwa kuliner tradisional memiliki daya tarik magis.

Baca juga: Restoran di Jaksel Ini Sajikan Menu Kesukaan RA Kartini, Ada Apa Saja?

Ribuan orang memadati jalanan desa, ditemani aroma bambu terbakar yang menyeruak di udara pegunungan yang dingin.

Salah satu wisatawan asal Sidoarjo, Edy, mengaku terkesan dengan perpaduan rasa yang ia temukan.

“Perpaduan rasa gurih Sego Lemeng yang legit dan sensasi pahit-manis ini menciptakan sensasi yang tak terlupakan di lidah. Keduanya cocok dipadukan,” ungkapnya.

Tag:  #festival #janda #reni #meresapi #filosofi #sego #lemeng #kopi #uthek

KOMENTAR