Wisatawan Kini Rela Bayar Mahal Demi Akomodasi Ramah Lingkungan
Ilustrasi kamar hotel untuk menginap ketika liburan di Vietnam.(PEXELS/ Liz Henderson)
19:56
26 April 2026

Wisatawan Kini Rela Bayar Mahal Demi Akomodasi Ramah Lingkungan

Tren wisata berkelanjutan (sustainable tourism) semakin familiar di kalangan para pelancong. Bahkan, belakangan ini, mereka siap membayar lebih mahal demi menginap di akomodasi ramah lingkungan.

"Kita perhatiin wisatawan juga willing to spend more on this sustainable destinations (mau bayar lebih untuk destinasi berkelanjutan) gitu ya," kata Co-Founder & Chief Marketing Officer tiket.com, Gaery Undarsa, dalam konferensi pers dua tahun perjalanan tiket Green di Artotel Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).

Dilaporkan Kompas.com sebelumnya, sebanyak 95 persen wisatawan nusantara diproyeksikan mau membayar lebih untuk penginapan yang mendukung konsep peduli lingkungan pada 2025.

Baca juga: Kebun Raya Bogor Sabet Penghargaan Pariwisata Berkelanjutan di ATF 2026

Dari total persentase tersebut, 36 persen di antaranya mau membayar hingga 10 persen lebih mahal dari harga normal, kemudian 35 persen di antaranya bersedia membayar penginapan hingga 25 persen lebih mahal dari harga normal.

Serta 18 persen wisatawan nusantara bersedia membayar hingga 50 persen lebih mahal dari harga normal, dan sekitar tujuh persen mau membayar penginapan lebih dari 50 persen dari harga normal

Gaery menegaskan, pada dasarnya konsep wisata berkelanjutan tidak hanya berfokus pada tempat, melainkan tujuan berwisata itu sendiri.

Baca juga: Casa Amarta Boutique Loft Praktikkan Sustainable Green Tourism untuk Industri Perhotelan di Bali

"Jadi sebenarnya cukup banyak yang premium. Kalau yang kita perhatiin malah polanya itu menarik. Kalau udah mulai premium destination, sustainability itu menjadi sesuatu daya tarik yang besar gitu ya karena daya beli juga mungkin," jelas dia.

Gaery tidak menampik bila akomodasi berkelanjutan premium ini banyak diminati oleh pelancong dari kalangan menengah ke atas yang memiliki daya beli kuat.

"At the end of the day itu kembali lagi terhadap edukasi. Kalangan menengah ke atas pasti dapat edukasi dan informasi mengenai hal ini jauh lebih banyak. Ya, selain itu mungkin mereka dapat flexibility-nya lebih banyak lah ya," ujar dia.

Di sisi lain, edukasi mengenai wisata berkelanjutan juga semakin familiar di kalangan anak muda. Alih-alih berpatokan pada kondisi ekonomi, generasi Z dan generasi Alpha justru semakin mengenal teen berkelanjutan melalui media sosial, terlepas dari status ekonominya.

 Baca juga: 5 Destinasi Wisata Berbasis Sustainable Tourism di Indonesia

Nilai tambah

Co-Founder & Chief Marketing Officer tiket.com, Gaery Undarsa, dalam konferensi pers dua tahun perjalanan tiket Green di Artotel Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).KOMPAS.com/Krisda Tiofani Co-Founder & Chief Marketing Officer tiket.com, Gaery Undarsa, dalam konferensi pers dua tahun perjalanan tiket Green di Artotel Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).

Pemilihan akomodasi berkelanjutan juga dilengkapi dengan pengalaman bermakna bagi para tamu.

Bukan hanya datang dan menikmati layanan di akomodasi tujuan, tamu juga biasanya mencari fasilitas dan layanan ramah lingkungan lainnya.

"Gimana caranya supaya kita bisa bisa mengenalkan pengalaman yang lebih meaningful lah, meaningful buat customer atau buat travelers in general," ungkap Gaery.

Baca juga: 7 Desa Wisata Ini Mengusung Konsep Sustainable Tourism

Wisata berkelanjutan ini diperkuat melalui fitur tiket Green yang sudah dua tahun aktif digunakan oleh pengguna tiket.com.

Secara properti, kata Gaery, jumlah akomodasi berkelanjutan di tiket Green meningkat 24 persen, menunjukkan minat pelancong yang semakin tinggi.

"Awarness-nya sudah tinggi, sudah bukan cuma sekedar tahu, tapi mereka udah mulai consider nih untuk memilih tempat-tempat yang lebih sustainable," jelas Gaery.

Baca juga: Mengenal Sustainable Tourism, Konsep Wisata dengan Memperhatikan Aspek Keberlanjutan Lingkungan

Gaery menambahkan, pemesanan akomodasi tiket Green tertinggi berada di kota Jakarta dan Bandung.

Mereka yang memilih hotel ramah lingkungan ini biasaya menginap dalam waktu singkat, sekitar dua sampai tiga malam sekali kunjungan.

"Sustainable tourism itu malah lumayan bersinar di staycation yang pendek-pendek. Jadi experience-nya ada selama tiga hari atau hanya di akhir pekan," ungkap Gaery.

Baca juga: Liburan ke Yogyakarta dari Jakarta pada Akhir Pekan, KA Progo Jadi Pilihan Nyaman  

Tag:  #wisatawan #kini #rela #bayar #mahal #demi #akomodasi #ramah #lingkungan

KOMENTAR