Turis China Nekat Mendaki Gunung Fuji Saat Ditutup, Akhirnya Minta Ambulans
Seorang turis China mendadak menghubungi nomor telepon layanan darurat di Jepang setelah kesulitan turun dari puncak Gunung Fuji pada Minggu (3/5/2026).
Kejadian bermula saat turis berusia 23 tahun tersebut berangkat dari stasiun kelima Jalur Fujinomiya pada pukul 01.00 dini hari waktu setempat, seperti dilansir SoraNews24 pada Senin (11/5/2026),
Dari titik keberangkatan yang terletak di tengah Gunung Fuji itu, ia melanjutkan perjalanan bersama dua pendaki lainnya sebelum fajar menyingsing.
Baca juga: Bau Zat Misterius Bikin Kereta Jepang Berhenti Mendadak, 10 Orang Dilaporkan Sakit
Setelah mencapai puncak Gunung Fuji, turis laki-laki tersebut mulai turun dan beristirahat di dekat stasiun kesembilan.
Sayangnya, ia kehilangan keseimbangan dan tergelincir ke lereng hingga mengalami luka lecet di tangan kanan dan lengan kirinya.
Dengan luka di tubuhnya, ia melanjutkan perjalanan hingga tiba di stasiun kelima. Namun sesampainya di sana, ia meminta salah satu teman untuk menghubungi nomor darurat 110 dan meminta ambulans untuk menjemputnya.
Baca juga: Wisata di Jepang yang Paling Diminati Turis Asing, Ada Kyoto
Pendakian Gunung Fuji masih ditutup
Insiden pendakian di Gunung Fuji kembali menjadi perhatian. Sebab, rute pendakian gunung tertinggi di Jepang ini sebenarnya belum dibuka sehingga pendakian tersebut dianggap ilegal.
Jalur pendakian Gunung Fuji biasanya dibuka selama musim panas mulai Juli setiap tahunnya.
Terdapat empat jalur pendakian menuju puncak Gunung Fuji, yaitu Jalur Yoshida di Prefektur Yamanashi dan Jalur Gotemba, Fujinomiya, serta Subashiri di Prefektur Shizuoka .
Keempat jalur pendakian Gunung Fuji telah menerapkan sistem tiket atau reservasi untuk melewati stasiun kelima. Bahkan, gerbang di jalur pendakian tersebut juga telah dipasang.
Baca juga: Jepang Luncurkan Kartu Prabayar untuk Turis, Bikin Liburan Lebih Praktis
Calon pendaki dilarang melompati gerbang atau menghindari penghalang untuk pendakian di luar musim karena bisa berbahaya.
Mendaki di luar musim berarti peningkatan risiko masalah seperti hipotermia, membuat peluang lebih kecil untuk ditemukan bila pendaki tersebut membutuhkan bantuan darurat.
Kokichi Akuzawa, pendaki tertua Gunung Fuji pada usia 102 tahun.
Pemerintah prefektur Shizuoka juga telah mengeluarkan pernyataan bahwa pendakian di luar musim tanpa izin merupakan tindak pidana.
Pelanggar dapat dihukum dengan denda hingga 300.000 yen atau sekitar Rp 33 jutaan hingga hukuman mencakup enam bulan penjara.
Baca juga: Shinkansen di Jepang Telat 3 Menit akibat Kondektur Ketiduran, JR East Minta Maaf
Banyak turis asing melanggar aturan
Insiden yang melibatkan turis asing ini bahkan sudah terjadi beberapa kali sebelumnya. Bukan karena kurangnya pengamanan di jalur pendakian, melainkan karena kurangnya perhatian calon pendaki peraturan yang berlaku.
Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi beberapa kasus pendaki Gunung Fuji yang meremehkan kesulitan dan potensi bahaya mendaki Gunung Fuji di luar musim pendakian.
Mayoritas di antaranya adalah turis asing yang akhirnya meminta bantuan lewat layanan darurat untuk datang dan menyelamatkan mereka.
Baca juga: Tren Baru Wisata Jepang: Turis Asing Ramai ke Salon Rambut, Kenapa?
Situasi ini telah menjadi cukup sering sehingga muncul seruan dari masyarakat sekitar dan politisi yang mewajibkan pendaki di luar musim untuk membayar biaya cukup besar, bila terlibat dalam permintaan pengiriman tim penyelamat karena mereka tidak dapat mengikuti aturan.
Jadi perlu diingat bahwa meskipun Gunung Fuji mungkin terlihat tenang dan mengundang, bila belum jalur pendakian resmi belum dibuka, sebaiknya hindari kegiatan tersebut dan cari aktivitas lain untuk menikmati gunung paling ikonik di Jepang ini.
Baca juga: Legenda Desa Inunaki, Desa Misterius di Jepang yang Hilang dari Peta
Tag: #turis #china #nekat #mendaki #gunung #fuji #saat #ditutup #akhirnya #minta #ambulans