Kementerian Pariwisata Pasang 136 Mooring Buoy di Raja Ampat, Mengapa?
Total 136 mooring buoy (pelampung tambat) bakal dipasang di perairan Raja Ampat, Papua Barat, mulai tahun 2027.
Rencana pemasangan mooring buoy di Raja Ampat disampaikan oleh Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, dalam konferensi pers Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata (Rakornas Pariwisata) di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
- Raja Ampat Bersiap Jalani Proses Revalidasi Status UNESCO Global Geopark
- Raja Ampat Masuk 7 Keajaiban Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveller
"Total jumlahnya ada 136 mooring buoy yang akan disebar di Raja Ampat untuk menjaga sistem ekologi dari terumbu karang di sana," tutur Widiyanti.
Ada 136 mooring buoy akan dipasang di Raja Ampat
Menjadi tempat kapal tertambat
Menteri Pariwisata Republik Indonesia (RI), Widiyanti Putri Wardhana, bersama jajaran dalam konferensi pers Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata (Rakornas Pariwisata), Rabu (20/5/2026).
Mooring buoy berfungsi sebagai titik tambat kapal di perairan. Alat ini memungkinkan kapal berlabuh dengan aman di tengah laut, tanpa harus menurunkan jangkar konvensional.
Berdasarkan kunjungan Menpar ke Raja Ampat baru-baru ini, ia melihat banyak sekali kapal berlayar untuk berwisata, khususnya diving (menyelam), tanpa memperhatikan posisi jangkar yang tidak beraturan.
"Jadi kalau ada mooring buoy mereka akan menambatkan kapalnya di situ sehingga tidak merusak terumbu karang," jelas Widiyanti.
Widiyanti menuturkan, pemasangan ratusan pelampung tambat ini dilakukan guna mendukung proses revalidasi status UNESCO Global Geopark (UGGp).
UGGp merupakan sebuah penilaian komprehensif dari UNESCO untuk menentukan kelayakan kelanjutan status geopark dunia, pengakuan prestisius yang dimiliki Raja Ampat sejak pertama kali ditetapkan.
- Wisata Pulau Tujuh, Destinasi yang Dijuluki Raja Ampat Mini
- Pulau Bedil, Raja Ampat di Banyuwangi yang Mulai Jadi Primadona Baru
Pengelolaan limbah di Raja Ampat
Total 136 mooring buoy (pelampung tambat) bakal dipasang Kementerian Pariwisata di perairan Raja Ampat, Papua Barat, mulai tahun depan.
Widiyanti juga menyoroti pengelolaan limbah di sekitar kawasan Raja Ampat untuk mendukung pariwisata berkelanjutan.
Tanpa menyebut nama akomodasi yang dimaksud, ia menuturkan bahwa terdapat satu resort di Raja Ampat yang telah melakukan sistem kebersihan cukup baik dengan pengelolaan limbah dari ekowisata.
"Nah ini perlu dikembangkan untuk pulau-pulau yang lain. Jadi kita bekerja sama nanti untuk memformulasikannya bagaimana," kata Widiyanti.
Begitu juga dengan isu sampah laut di Raja Ampat. Widiyanti menegaskan bahwa kapal tidak boleh membuang sampah sembarangan di tengah laut.
"Juga daerah-daerah di sekitarnya, mungkin kita harus pasang jaring di muara sungai agar sampah-sampah dari darat itu tidak masuk ke laut. Nah, itu butuh effort yang luar biasa dan pasti biaya operasionalnya ya," jelas Widiyanti.
"Jadi, perlu disterategikan bersama karena sampah kan adalah isu nasional sekarang ya," sambung dia.
Dengan berbagai penguatan tata kelola, komitmen konservasi, serta keterlibatan aktif masyarakat, Raja Ampat menunjukkan kesiapan untuk menyambut tim asesor UNESCO pada Agustus 2026.
Jika proses revalidasi berjalan baik, Raja Ampat akan kembali mempertahankan statusnya sebagai UNESCO Global Geopark, sekaligus mengukuhkan diri sebagai salah satu destinasi ekowisata paling penting dan indah di dunia.
- Berwisata ke Raja Ampat di Tengah Polemik Tambang Nikel, Amankah?
- Raja Ampat Dipromosikan Jadi Destinasi Selam Impian Turis Australia
Tag: #kementerian #pariwisata #pasang #mooring #buoy #raja #ampat #mengapa