Upacara Yadnya Kasada 2026 di Bromo, Ini Sejarah dan Makna Tradisi Suci Suku Tengger
Foto udara suasana upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (1/6/2026). Yadnya Kasada merupakan upacara adat tahunan masyarakat Suku Tengger sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi serta penghormatan kepada leluhur yang ditandai dengan persembahan sesaji hasil bumi ke kawah Bromo. (ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
18:07
3 Juni 2026

Upacara Yadnya Kasada 2026 di Bromo, Ini Sejarah dan Makna Tradisi Suci Suku Tengger

Tradisi Yadnya Kasada merupakan salah satu agenda budaya dan keagamaan terbesar di masyarakat Tengger yang rutin digelar setiap tahun.

Tahun ini, ribuan masyarakat Tengger mengikuti upacara ritual Yadnya Kasada 1948 Saka/2026 Masehi di Pura Luhur Poten, kawasan Gunung Bromo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur pada Senin (1/6/2026) dini hari.

Upacara ini berlangsung dengan khidmat dan dihadiri oleh Bupati Probolinggo Mohammad Haris serta Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ bersama ribuan umat Hindu Tengger dari berbagai wilayah di sekitar Gunung Bromo.

Tidak hanya ritual sakral, kegiatan ini juga menjadi bentuk pelestarian warisan budaya leluhur yang terus dijaga hingga sekarang.

Baca juga: BERITA FOTO: Upacara Yadnya Kasada 2026, Tradisi Suci Masyarakat Tengger di Bromo

Rangkaian tradisi Yadnya Kasada

Masyarakat Suku Tengger menggelar sesaji dalam puncak Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo.Dok. SHUTTERSTOCK/ANOM HARYA Masyarakat Suku Tengger menggelar sesaji dalam puncak Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo.

Dilansir dari Kompas.com, rangkaian Yadnya Kasada 2026 diawali dengan pemberangkatan umat dari kawasan pintu gerbang Cemara Lawang dan Dingklik menuju Pura Luhur Poten yang berada di lautan pasir Gunung Bromo.

Setelah seluruh peserta tiba di lokasi, prosesi dilanjutkan dengan berbagai tahapan ritual adat dan keagamaan mulai dari mekakat pembuka, pembaca sejarah Kasada, Puja Stuti oleh Dukun Pandita se-Kawasan Tengger, Mulunen hingga mekakat penutup atau wayon.

Tradisi ini diiringi dengan doa-doa yang dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi.

Upacara Yadnya Kasada juga dilanjutkan dengan pengukuhan tiga Dukun Pandita baru yang berasal dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Desa Pandansari dan Desa Sadeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Sebelum dikukuhkan, ketiga telah menjalani berbagai tahapan adat dan ujian sebagai syarat untuk menjadi pemimpin spiritual masyarakat Hindu Tengger.

Setelah prosesi pengukuhan selesai, para Dukun Pandita memberikan pelayanan kepada umat yang akan mengikuti ritual labuh sesaji ke Kawah Gunung Bromo.

Tradisi ini menjadi puncak dari acara Yadnya Kasada. Dimana masyarakat Tengger mempersembahkan hasil bumi, ternak, dan berbagai sesaji sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dan berkah yang diberikan Tuhan.

Baca juga: Gunung Bromo Ditutup 4 Hari, 5 Tokoh Dikukuhkan pada Yadnya Kasada

Asal usul upacara Yadnya Kasada

Warga suku Tengger membawa sesaji saat upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (1/6/2026). Yadnya Kasada merupakan upacara adat tahunan masyarakat Suku Tengger sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi serta penghormatan kepada leluhur yang ditandai dengan persembahan sesaji hasil bumi ke kawah Bromo. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/nym.Irfan Sumanjaya Warga suku Tengger membawa sesaji saat upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (1/6/2026). Yadnya Kasada merupakan upacara adat tahunan masyarakat Suku Tengger sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi serta penghormatan kepada leluhur yang ditandai dengan persembahan sesaji hasil bumi ke kawah Bromo. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/nym.

Upacara Yadnya Kasada ini diambil dari akar sejarah dan mitologi suku Tengger. Menurut legenda, suku Tengger berkaitan dengan cerita tentang Jaka Seger dan Rara Anteng.

Sementara itu, nama Tengger diambil dari nama keduanya yaitu -teng dari akhiran nama Rara Anteng dan -ger dari akhiran nama Jaka Seger.

Cerita yang dipercaya masyarakat bermula dari Rara Anteng merupakan putri Raja Brawijaya V dari kerajaan Majapahit. Dia lari ke Pegunungan Tengger setelah Majapahit hancur.

Dia lantas diangkat anak oleh seorang pandhita bernama Resi Dadap Putih. Sementara itu, Jaka Seger merupakan seorang pemuda yang berasal dari Kediri yang mencari pamannya di Pegunungan Tengger.

Pasangan ini awalnya berusaha untuk memiliki keturunan namun belum juga mendapatkan seorang anak.

Kemudian mereka mendatangi seorang sesepuh bijak bernama Empu Baradah yang menyarankan untuk melakukan meditasi di kawah Gunung Bromo dan memohon kepada para dewa.

Setelah melalui meditasi, permohonan mereka terwujud dan akhirnya Rara Anteng hamil dan melahirkan 25 anak.

Rara Anteng dan Joko Seger kemudian ditagih janjinya untuk mengorbankan anaknya ke kawah Gunung Bromo. Namun keduanya menolak dan memboyong semua anaknya menuju Gunung Penanjakan.

Sesampainya disana, Gunung Bromo meletus dan mengambil Raden Kesuma (anak bungsu) dari tangan Rara Anteng dan Joko Seger.

Setelah diambil, muncullah suara ghaib dari Kesuma yang meminta kepada saudara-saudaranya untuk membawakan hasil bumi untuk dilabuhkan ke Gunung Bromo setiap bulan Kasada.

Sejak itulah masyarakat Tengger mulai melakukan Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo.

Baca juga: Kementerian Kebudayaan Dukung Yadnya Kasada Bromo 2025, Wujud Pelestarian Budaya

Makna dan simbolisme Upacara Yadnya Kasada

Upacara Yadnya Kasada ini memiliki makna yang mendalam bagi suku Tengger. Secara harfiah “Kasada” berasal dari kata kesada yang berarti mengumpulkan.

Makna ini mengacu pada aksi mengumpulkan persembahan dan mengorbankan sebagian hasil pertanian kepada pada dewa sebagai bentuk rasa syukur atas panen melimpah.

Simbolisme lainnya terkait dengan Kasada itu berarti Gunung Bromo yang dianggap sebagai tempat suci dan tempat tinggal para dewa dalam pandangan masyarakat Tengger.

Upacara di kawah Gunung Bromo adalah bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap kebesaran alam dan kekuatan alam semesta.

Tag:  #upacara #yadnya #kasada #2026 #bromo #sejarah #makna #tradisi #suci #suku #tengger

KOMENTAR