Waspada, Krisis Energi Disertai Krisis Pangan
HARGA minyak mentah di atas 100 dollar AS per barel itu bukan cuma isu energi, tapi shock yang langsung menjalar ke sistem pangan. Ini bukan cerita jauh, tapi sesuatu yang pelan-pelan masuk ke harga nasi, roti, dan daging.
Kalau ditarik ke model ekonometrik log-linear, hubungan energi dan pangan itu sangat jelas. Biaya produksi pangan bergerak mengikuti harga energi dengan elastisitas terukur.
Dalam banyak studi global, elastisitasnya ada di kisaran 0,25 sampai 0,40. Artinya, setiap kenaikan energi 10 persen akan mendorong biaya pangan naik sekitar 2,5 sampai 4 persen.
Sekarang ambil skenario harga minyak bergerak dari 80 dollar AS ke atas 100 dollar AS per barel. Itu kenaikan minimal 25 persen, yang berarti biaya produksi pangan naik di kisaran 6 sampai 10 persen.
Itu baru first-round effect yang sifatnya langsung. Belum masuk second-round effect seperti logistik, distribusi, dan lonjakan harga pupuk.
Produksi pangan sangat intensif energi dalam tiap tahapnya. Untuk satu ton beras, dibutuhkan sekitar 3 sampai 5 gigajoule energi.
Baca juga: Diplomasi Kendali: Antara Hegemoni Militer dan Monopoli Energi Dunia
Kalau dikonversi, itu setara 0,5 sampai 0,8 barel minyak. Dengan harga di atas 100 dollar AS, biaya energi untuk beras saja sudah di kisaran 50-80 dollar AS per ton.
Jagung sedikit lebih efisien tapi tetap signifikan dalam struktur biaya. Energinya sekitar 2,5 sampai 4 gigajoule atau 0,4 sampai 0,65 barel per ton.
Artinya, biaya energi jagung berada di kisaran 40-65 dollar AS per ton. Ini menjelaskan kenapa feed cost ikut naik saat oil shock terjadi.
Gandum yang banyak diimpor justru punya intensitas energi lebih tinggi. Konsumsinya 3 sampai 6 gigajoule atau 0,5 sampai 1 barel per ton.
Biaya energinya bisa mencapai 50-100 dollar AS per ton. Ini yang membuat harga tepung dan produk turunannya sangat sensitif terhadap minyak.
Daging sapi adalah kasus paling ekstrem dalam sistem pangan. Untuk satu ton produksi, dibutuhkan 20 sampai 30 gigajoule energi.
Setara dengan 3,3 sampai 5 barel minyak, yang berarti biaya energi saja sudah di kisaran 330-500 dollar AS per ton. Protein hewani jadi komoditas paling rentan terhadap energy shock.
Energi masuk ke seluruh rantai produksi, bukan hanya di hulu. Pupuk nitrogen menyumbang 30 sampai 50 persen biaya produksi.
Bahan bakar alat pertanian menambah sekitar 10 sampai 20 persen. Transportasi dan logistik memberi tekanan tambahan sebesar 15 sampai 30 persen.
Secara agregat, energi membentuk 40 sampai 60 persen dari total biaya pangan. Ini yang membuat sistem pangan sangat sensitif terhadap volatilitas minyak.
Ketika minyak di atas 100 dollar AS, efeknya berlipat melalui second-round transmission. Harga pupuk bisa melonjak 30 sampai 60 persen.
Ongkos distribusi naik 20 sampai 40 persen. Dan harga pangan global terdorong naik di kisaran 10 sampai 25 persen.
Baca juga: Pekik Kritis Terbungkam, Demokrasi Roboh
Pada titik ini, yang terjadi adalah cost-push inflation berbasis energi yang merembet ke pangan. Dampaknya langsung ke daya beli dan stabilitas makro.
Negara seperti Indonesia berada pada posisi rentan karena ketergantungan pada impor gandum dan input pupuk. Shock global dengan cepat ditransmisikan ke inflasi domestik.
Secara sistemik, ini menunjukkan adanya coupling antara krisis energi dan krisis pangan. Dengan lag sekitar 3 sampai 6 bulan, dampaknya akan terasa penuh di level rumah tangga.
Solusi teknokratik harus diarahkan pada mitigasi transmisi biaya dan stabilisasi supply chain. Pemerintah perlu melakukan subsidi pupuk berbasis output, bukan input, untuk menjaga efisiensi fiskal.
Diversifikasi energi pertanian ke bioenergi dan elektrifikasi alat produksi harus dipercepat. Sementara itu, penguatan cadangan pangan strategis dan reformasi logistik nasional menjadi kunci menjaga stabilitas harga.
Di sisi makro, kebijakan fiskal dan moneter harus sinkron dalam meredam food inflation tanpa mengganggu pertumbuhan. Tanpa intervensi terukur, shock minyak akan terus diterjemahkan menjadi tekanan pangan yang berulang.