Rupiah di Pasar Spot Ditutup Nyaris Sentuh Rp 17.000 Per Dollar AS
Nilai tukar rupiah di pasar spot terdepresiasi pada penutupan perdagangan Senin (23/3/2026). Mata uang Garuda melemah nyaris menyentuh level Rp 17.000 per dollar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tertekan 68 poin atau 0,40 persen ke posisi Rp 16.996 per dollar AS.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan indeks dollar AS bergerak dalam rentang 98,73 hingga 101,20 pada pekan ini.
Baca juga: Kasus Akuisisi Twitter, Elon Musk Terancam Ganti Rugi Puluhan Triliun Rupiah
Ilustrasi rupiah.
Ia menilai, arah pergerakan dollar cenderung menguat dan berpotensi mendekati level resistance tersebut.
Dalam perdagangan minggu depan kemungkinan indeks dollar ini akan kembali menguat menuju 101,20, bukan melemah ke 98,73 yang merupakan area support,” ujar Ibrahim.
Menurutnya, penguatan dollar AS didorong oleh kebijakan bank sentral global yang masih mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan cenderung menaikkan suku bunga di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi.
Tekanan inflasi tersebut salah satunya dipicu oleh lonjakan harga energi, khususnya harga minyak mentah Brent yang diperkirakan bergerak di kisaran 110 hingga 116 dollar AS per barrel.
Baca juga: Dampak The Fed Tahan Suku Bunga, Ekonom Sebut Bikin Rupiah Rentan
Kenaikan harga energi pun berdampak langsung terhadap biaya produksi dan transportasi, sehingga memperkuat tekanan inflasi secara global.
Dalam situasi tersebut, bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau hawkish, guna meredam laju inflasi yang masih tinggi.
Di sisi lain, eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memperkuat posisi dollar AS sebagai aset safe haven.
Ketidakpastian global mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen berbasis mata uang Paman Sam, sehingga menopang penguatan mata uang tersebut dalam jangka pendek.
Tag: #rupiah #pasar #spot #ditutup #nyaris #sentuh #17000 #dollar