IHSG Pasca Libur Lebaran: Pengaruh Global dan Strategi Investor
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali dibuka pada Rabu (25/3/2026), setelah ditutup sementara lantaran rangkaian libur panjang nasional dan cuti bersama Lebaran 2026.
Lantas bagaimana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari pertama setelah libur?
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memproyeksikan pergerakan IHSG pasca libur panjang masih akan dipengaruhi sentimen global dan faktor musiman domestik.
Baca juga: Efek Ancaman Trump ke Iran: Bursa Dunia Anjlok, Harga Energi Melonjak
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi I, Jumat (27/2/2026), di zona merah. Indeks melemah 25,933 poin atau 0,31 persen ke level 8.209,329.
Menurutnya, selama periode libur panjang, bursa saham global, baik di Amerika Serikat maupun Asia, cenderung menguat seiring meredanya tensi geopolitik dan mulai stabilnya harga energi.
Kondisi ini dinilai menjadi sentimen positif awal bagi pasar domestik.
"Jika melihat kondisi global selama libur panjang, pasar saham Amerika Serikat dan Asia cenderung menguat seiring meredanya tensi geopolitik dan mulai stabilnya harga energi, sehingga kondisi ini menjadi sentimen positif awal bagi pasar saham Indonesia," ujar Hendra di Jakarta, Selasa (24/3/2026).
Secara historis, IHSG memiliki kecenderungan mengalami technical rebound setelah libur panjang Lebaran.
Baca juga: Kapan Bursa Saham Buka Setelah Libur Lebaran 2026? Catat Tanggalnya
Hal ini terjadi karena sebelum libur, investor umumnya melakukan aksi ambil untung (profit taking) dan bersikap wait and see, sehingga setelah libur berakhir terjadi aliran dana yang kembali masuk ke pasar.
Meski demikian, penguatan IHSG diperkirakan masih terbatas dan cenderung bergerak dalam fase konsolidasi, dengan potensi menguji area resistance di kisaran 7.150 sampai 7.200.
"Dengan kondisi tersebut, IHSG berpotensi bergerak menguat pada awal pembukaan pasca libur, namun penguatan tersebut diperkirakan masih bersifat terbatas dan cenderung berada dalam fase konsolidasi dengan potensi menguji area resistance di kisaran 7.150-7.200," paparnya.
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/10/2025).
Di sisi lain, Hendra mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mewaspadai risiko eksternal.
Baca juga: Bursa China dan Hong Kong Melemah, Investor Tunggu Keputusan The Fed
Jika tensi geopolitik kembali memanas, harga energi melonjak, atau kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) lebih ketat dari ekspektasi, maka IHSG berpotensi kembali tertekan dan menguji level support psikologis di area 7.000.
Lebih jauh, pergerakan pasar pekan ini dinilai sangat mungkin dipengaruhi perkembangan global selama libur panjang, termasuk dinamika harga komoditas seperti emas dan energi.
Penurunan harga emas mengindikasikan berkurangnya kekhawatiran pasar dan mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko seperti saham, yang menjadi sentimen positif bagi IHSG.
Namun demikian, pasar domestik diperkirakan tidak akan langsung bergerak agresif.
Baca juga: Libur Bursa Lebaran 2026 Dimulai Pekan Ini, Ini Jadwal Tutup dan Buka BEI
Investor masih akan mencermati arah kebijakan suku bunga global serta stabilitas geopolitik.
Dengan kondisi tersebut, IHSG berpotensi bergerak dalam pola technical rebound dengan volatilitas yang relatif tinggi, seiring proses penyesuaian terhadap berbagai sentimen global.
Dari sisi likuiditas, volume dan nilai transaksi pada pekan ini diperkirakan masih terbatas.
Hal ini karena suasana libur Lebaran secara psikologis masih terasa dan belum semua pelaku pasar, khususnya investor institusi, kembali aktif.
Baca juga: Jadwal Libur Bursa Maret 2026, BEI Tutup Sampai Kapan?
Kondisi tersebut berpotensi membuat pergerakan indeks lebih fluktuatif, sehingga investor perlu lebih selektif dan tidak terlalu agresif dalam melakukan transaksi jangka pendek.
Dalam situasi ini, Hendra menyarankan strategi akumulasi bertahap pada saham dengan fundamental kuat, kinerja stabil, serta likuiditas tinggi.
Investor juga dapat memanfaatkan momentum technical rebound pada saham yang sebelumnya telah terkoreksi cukup dalam.
Ilustrasi aturan free float saham.
“Pendekatan yang dapat dilakukan adalah buy on weakness secara bertahap, bukan langsung membeli dalam jumlah besar sekaligus,” lanjut Hendra.
Baca juga: Bursa Saham Asia Rontok, Harga Minyak Melonjak Dekati 120 Dollar AS
Ia juga menyarankan investor fokus pada saham dengan katalis positif, baik dari sisi kinerja, aksi korporasi, maupun sektor yang diuntungkan dari stabilisasi global, seperti media, investasi, dan consumer.
Selain itu, pergerakan dana asing juga perlu dicermati karena akan sangat memengaruhi arah IHSG pasca libur panjang.
“Jika terjadi net buy asing, maka peluang IHSG untuk melanjutkan penguatan akan semakin besar,” kata Hendra.
Untuk diketahui, menjelang periode libur panjang Lebaran, pasar saham Indonesia memang memasuki fase volatilitas yang relatif tinggi.
Baca juga: Bos BEI: Skema Demutualisasi Bursa di Tangan Regulator, DPR Usul Private Placement
Secara musiman, fenomena meningkatnya kebutuhan likuiditas masyarakat menjelang Hari Raya seringkali mendorong sebagian investor ritel menarik dana dari pasar saham untuk kebutuhan konsumsi, mudik, maupun pengeluaran rumah tangga lainnya.
Namun secara struktur pasar, pengaruh faktor ini sebenarnya tidak terlalu dominan terhadap arah pergerakan IHSG secara keseluruhan.
Hal ini karena porsi transaksi terbesar di pasar saham Indonesia masih didominasi oleh investor institusi besar, baik domestik maupun asing.
“Aksi jual dari investor ritel biasanya lebih terasa pada saham-saham lapis kedua dan ketiga yang likuiditasnya lebih terbatas, sementara pada saham berkapitalisasi besar dampaknya relatif lebih kecil,” tukas Hendra.
Baca juga: IHSG Anjlok Imbas Konflik Iran-Israel, BEI: Bursa Regional Juga Turun
Tekanan yang lebih signifikan terhadap IHSG saat itu justru berasal dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal pemerintah, khususnya terkait potensi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ilustrasi saham.
Kekhawatiran tersebut muncul seiring dengan lonjakan harga minyak dunia yang kembali mendekati, bahkan menembus level psikologis di atas 100 dollar AS per barrel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dalam asumsi dasar pemerintah, harga minyak dalam APBN dipatok di kisaran sekitar 70 dollar AS per barrel.
Ketika harga minyak bergerak jauh di atas asumsi tersebut, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi meningkat secara signifikan.
Baca juga: Diserang AS dan Israel, Bursa Kripto Iran Dihantam Arus Dana Keluar
Secara simulasi fiskal, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS per barrel dapat meningkatkan tekanan terhadap defisit anggaran hingga sekitar Rp 6,8 triliun.
Jika harga minyak bertahan dalam rentang 90 dollar AS hingga 100 dollar AS per barrel dalam periode yang cukup lama, maka ruang fiskal pemerintah berpotensi semakin tertekan.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pemerintah harus melakukan penyesuaian terhadap berbagai program belanja negara untuk menjaga disiplin fiskal.
“Pasar menilai pemerintah perlu melakukan pengaturan prioritas belanja agar defisit anggaran tetap berada dalam batas yang aman. Bagi investor, ketidakpastian terkait ruang fiskal ini menjadi faktor yang meningkatkan persepsi risiko terhadap pasar keuangan domestik, sehingga mendorong sebagian investor memilih untuk melakukan pengurangan posisi pada aset berisiko seperti saham,” katanya.
Tag: #ihsg #pasca #libur #lebaran #pengaruh #global #strategi #investor