Pelaku Industri Khawatir Rupiah Tembus Rp 17.000, HIMKI: Alarm Keras
Pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi menembus level Rp 17.000 per dollar Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri.
Kondisi ini bukan sekadar gejolak pasar, melainkan bisa memberi tekanan bagi industri nasional.
Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah pada perdagangan Jumat (27/3/2026). Mata uang Garuda dibuka di level Rp 16.936 per dollar AS.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah, Turun 0,19 Persen ke Level Rp 16.936 per Dollar AS
Ilustrasi rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terdepresiasi 32 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di 16.904 per dollar AS.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menilai tekanan rupiah menjadi alarm keras bagi industri nasional lantaran belum cukup kuat menghadapi tekanan global yang terjadi secara berulang.
“Ketika nilai tukar Rupiah menembus kisaran Rp 17.000 per dollar AS, kita tidak sedang menghadapi sekadar gejolak pasar. Ini adalah alarm keras bahwa fondasi industri nasional belum cukup kuat menghadapi tekanan global yang berulang,” ujar Sobur lewat keterangan pers yang diterima Kompas.com.
Dalam lima tahun terakhir, rupiah bergerak dari kisaran Rp 14.000 menuju Rp 17.000 per dollar AS.
Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.904 per Dollar AS, IHSG Terkoreksi 1,89 Persen
Di saat yang sama, tekanan eksternal seperti kenaikan suku bunga global, konflik geopolitik, serta penguatan mata uang Paman Sam sebagai aset safe haven turut memperburuk kondisi.
Namun, menurut Sobur, persoalan yang lebih mendasar terletak pada struktur industri nasional yang belum terintegrasi kuat dari hulu hingga hilir.
Di sektor mebel dan kerajinan, yang menyerap lebih dari 2 juta tenaga kerja, Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan berupa bahan baku melimpah, keterampilan tenaga kerja, serta posisi strategis dalam rantai pasok global.
Ilustrasi furnitur rotan.
Namun, kebocoran bahan baku ke luar negeri serta tingginya biaya logistik dan pembiayaan menjadi hambatan utama.
Baca juga: Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Melemah ke Rp 16.940 per Dollar AS
Akibatnya, setiap kali rupiah melemah, industri menghadapi tekanan ganda berupa kenaikan biaya produksi dan logistik, sementara daya saing tidak sepenuhnya meningkat.
Kondisi ini diperparah dengan membanjirnya produk impor di pasar domestik dengan harga murah dan standar yang tidak selalu setara.
Ini menciptakan kompetisi yang tidak sehat bagi industri nasional yang memproduksi dengan standar, menyerap tenaga kerja, dan membayar pajak di dalam negeri.
Untuk itu pemerintah wajib melakukan safeguard dengan terukur.
Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat Pagi Ini, IHSG Bergerak ke Zona Merah
Ia memperingatkan, jika kondisi tersebut terus berlanjut, Indonesia berisiko mengalami dua kerugian sekaligus, yakni kehilangan nilai tambah di pasar ekspor dan kehilangan pasar domestik yang seharusnya menjadi penopang utama ketahanan ekonomi.
“Momentum pelemahan rupiah harus kita jadikan titik balik untuk membangun kemandirian industri nasional berbasis nilai tambah, bukan lagi ketergantungan pada bahan mentah,” paparnya.
Untuk itu, ia menekankan perlunya langkah strategis dari pemerintah.
Pertama, menghentikan kebocoran bahan baku seperti kayu dan rotan agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh industri dalam negeri.
Baca juga: Rupiah di Pasar Spot Tertekan, Sentuh Rp 16.911 Per Dollar AS
Kedua, memperkuat pasar domestik melalui pengendalian impor barang jadi secara selektif dan terukur.
Selain itu, kebijakan industri dinilai harus lebih berpihak melalui penyediaan akses pembiayaan yang kompetitif, efisiensi logistik, serta kepastian regulasi.
Di sisi lain, diplomasi dagang juga perlu diperkuat agar Indonesia tidak hanya menjadi pengikut, tetapi pemain utama dalam perdagangan global.
Data menunjukkan, nilai pasar global mebel mencapai lebih dari 200 miliar dollar AS, sementara ekspor Indonesia baru sekitar 2,4 miliar dollar AS.
Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat Sore Ini, Bagaimana Proyeksi Esok Hari?
Hal ini menunjukkan potensi besar yang belum tergarap optimal.
Tag: #pelaku #industri #khawatir #rupiah #tembus #17000 #himki #alarm #keras