Perang di Timteng, Kemendag Prediksi Ekspor RI Turun Tahun Ini
Kementerian Perdagangan (Kemendag) memprediksi nilai ekspor Indonesia pada 2026 akan turun imbas perang Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran.
Menteri Perdagangan Budi Santoso alias Busan, mengatakan penurunan ekspor mungkin terjadi jika peperangan di kawasan negara-negara Teluk itu berkepanjangan.
“Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu,” ujar Busan saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Baca juga: Ekspor RI ke Iran Capai Rp 4,2 T, Meski Perang Hantui Timur Tengah
Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.
Busan mengatakan, peperangan yang menutup Selat Hormuz dan memicu kenaikan harga minyak dunia itu membuat biaya logistik melonjak.
Akibatnya, para eksportir dihadapkan pada lonjakan biaya pengangkutan komoditas ke negara tujuan.
Selain itu, peperangan juga membuat pengiriman produk, terutama ke negara-negara Teluk harus mencari rute lain yang lebih jauh.
“Jadi kan semakin panjang sekarang karena ada beberapa port yang ditutup,” kata Busan.
Baca juga: Kopi Indonesia Makin Diminati, Ekspor ke Australia Tembus Rp 114 Miliar
Meski demikian, sampai saat ini para eksportir Indonesia masih menerima permintaan dari negara-negara di Timur Tengah.
Pengiriman ke Timur Tengah juga tetap berlangsung meskipun biaya logistik lebih mahal.
“Cuman itu tadi, cost-nya mungkin lebih tinggi untuk biaya transportasinya,” tutur Busan.
Meski memprediksi nilai ekspor akan turun, Busan optimistis ekspor Indonesia akan tetap tumbuh sepanjang 2026.
Sebab, di tengah perang Timur Tengah sejumlah komoditas seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), nikel, timah, dan batu bara justru mengalami kenaikan.
Baca juga: Mewaspadai Pergeseran Struktur Ekspor China
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso
“Artinya kalau naik berarti ya nilai ekspor kita ya pasti meningkat, pasti meningkatnya. Nanti mungkin kita konversi dengan biayanya,” ujar Busan.
Selain itu, pemerintah juga akan mendorong diversifikasi atau penyeragaman ekspor ke negara-negara yang tidak terdampak perang.
Ia mengakui, sebenarnya diversifikasi ekspor merupakan agenda jangka panjang.
Namun, biasanya akibat gejolak geopolitik peta perdagangan dunia cepat berubah.
Baca juga: Filipina Berpotensi Kehilangan Rp 3,37 T dari Ekspor Pisang Akibat Perang Iran
Kondisi serupa pernah terjadi pada masa Pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
Saat itu, banyak negara kesulitan mendapatkan bahan baku karena negara eksportir juga terdampak.
Menurut Busan, beberapa negara di belahan Amerika Selatan dan negara anggota Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bisa menjadi alternatif tujuan ekspor.
“Nah, caranya gimana? Ya, caranya salah satu yang paling efektif sebenarnya business matching. Karena business matching itu memang tidak harus menunggu setahun baru ada transaksi,” kata Busan.
Baca juga: Di Balik Lonjakan Ekspor Perkebunan: Memaksimalkan Kesejahteraan Petani
Satu data Kemendag mencatat, total ekspor Indonesia pada 2025 mencapai 282,91 miliar dollar AS dengan surplus 41,05 miliar dollar AS, meningkat 9,73 dollar AS dari 2024.
Tag: #perang #timteng #kemendag #prediksi #ekspor #turun #tahun