GOTO Percepat Ekspansi Fintech, Analis Soroti Risiko Regulasi
- Prospek PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada 2026 dinilai masih terbuka. Pertumbuhan ditopang segmen financial technology atau fintech yang terus diperluas perseroan.
Manajemen GOTO mencatat nilai buku pinjaman konsumen atau outstanding loan mencapai Rp 8,8 triliun hingga Desember 2025. Realisasi ini sejalan dengan target ekspansi pinjaman yang dipatok di atas Rp 8 triliun pada akhir tahun lalu.
Pertumbuhan pinjaman berlangsung agresif. Outstanding loan naik 68 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Seiring ekspansi tersebut, pendapatan dari bisnis lending melonjak 95 persen yoy menjadi Rp 3,8 triliun.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai ruang ekspansi fintech GOTO masih luas. Kondisi ini didorong tingginya populasi masyarakat yang belum terlayani perbankan atau unbanked yang masih sekitar 50 persen.
"Saat ini fintech berkontribusi sekitar 26% terhadap adjusted EBITDA,” ujar Harry kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: Kinerja GoTo Financial Melejit, Bisnis Fintech GOTO Makin Untung
Kinerja operasional GOTO juga menunjukkan perbaikan. Perusahaan mencatat adjusted EBITDA sebesar Rp 2 triliun pada 2025. Angka ini melampaui target sebelumnya di kisaran Rp 1,8 triliun hingga Rp 1,9 triliun.
Khusus kuartal IV 2025, adjusted EBITDA grup melonjak 106 persen menjadi Rp 672 miliar. Periode sama tahun sebelumnya mencatat Rp 326 miliar.
Berdasarkan capaian tersebut, GOTO memasang target lebih tinggi pada 2026. Perusahaan membidik adjusted EBITDA di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun, atau tumbuh sekitar 60 persen yoy.
Harry juga menilai kualitas kredit GOTO tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di kisaran 0,6 persen hingga 0,7 persen dalam tiga kuartal terakhir.
Kondisi ini ditopang sistem credit scoring yang dinilai akurat serta pemanfaatan ekosistem melalui TikTok dan Tokopedia.
Meski prospek terlihat positif, risiko tetap ada. Salah satu yang disoroti ialah rencana pemerintah menurunkan batas komisi atau cap rate pada layanan on-demand.
Kebijakan tersebut berpotensi menekan pendapatan GOTO. Porsi distribusi dinilai akan lebih besar mengalir ke mitra.
“Hal ini berpotensi menekan top line GOTO ke depan,” jelasnya.
Baca juga: GoTo Gelar Mudik Gratis bagi Ribuan Mitra Driver Gojek
Laporan keuangan per 31 Desember 2025 menunjukkan pendapatan bersih GOTO mencapai Rp 18,32 triliun. Angka ini tumbuh 15,27 persen yoy dari Rp 15,89 triliun.
Sementara itu, total biaya dan beban meningkat 3,12 persen yoy menjadi Rp 17,70 triliun. Tahun sebelumnya tercatat Rp 18,13 triliun.
Perbaikan efisiensi berdampak pada penurunan rugi. Rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menyusut 77 persen yoy menjadi Rp 1,18 triliun. Tahun sebelumnya mencapai Rp 5,15 triliun.
Di tengah peluang dan risiko tersebut, Harry memberikan rekomendasi buy dengan target harga saham GOTO di level Rp 70 per saham.
Artikel ini sudah tayang di Kontan dengan judul Ditopang Fintech, Prospek Kinerja GOTO 2026 Masih Menjanjikan
Tag: #goto #percepat #ekspansi #fintech #analis #soroti #risiko #regulasi