Rupiah Melemah 0,11 Persen ke Level Rp 17.002 per Dollar AS
- Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah saat penutupan perdagangan Kamis (2/4/3026). Rupiah terdepresiasi 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp 17.002 per dollar AS.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah hari ini disebabkan meningkatnya tensi perang di Timur Tengah. Terutama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan serangan terhadap Iran akan terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Trump dalam pidato yang disiarkan secara nasional menyatakan bahwa militer AS akan terus menargetkan fasilitas energi dan minyak Iran, tanpa memberikan batas waktu pasti untuk mengakhiri konflik. Ia bahkan menegaskan serangan akan dilakukan secara agresif dalam dua hingga tiga minggu ke depan, meskipun sebelumnya sempat membuka peluang penghentian konflik tanpa kesepakatan formal.
“Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan terus menyerang Iran, termasuk target energi dan minyak selama beberapa minggu ke depan, dan tidak memberikan komitmen pada jangka waktu spesifik untuk mengakhiri perang,” ujar Ibrahim kepada wartawan.
Baca juga: Rupiah Kembali Tertekan, Sentuh Rp 17.024 Per Dollar AS
Ketegangan tersebut turut meningkatkan risiko terhadap jalur distribusi energi global. Ancaman terhadap lalu lintas maritim kian meningkat seiring intensitas konflik di kawasan Timur Tengah.
Terbaru, sebuah kapal tanker minyak yang disewa oleh QatarEnergy dilaporkan terkena rudal jelajah Iran di perairan Qatar, berdasarkan keterangan otoritas pertahanan setempat.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Klaim pengangguran awal mingguan dijadwalkan dirilis dalam waktu dekat, disusul data ketenagakerjaan non-pertanian (Non-Farm Payroll/NFP) pada Jumat, yang akan menjadi indikator utama arah kebijakan moneter ke depan.
Dari dalam negeri, tekanan juga mulai terasa pada fiskal pemerintah. Defisit APBN diperkirakan melebar dari target awal seiring kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah.
Pemerintah mencatat setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS per barrel berpotensi menambah defisit hingga Rp 6 triliun dari target awal Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Meski demikian, pemerintah meyakini defisit masih dapat dijaga di bawah batas aman 3 persen terhadap PDB, meskipun berpotensi melebar hingga mendekati 2,9 persen apabila harga minyak bertahan di level 100 dollar AS per barrel sepanjang tahun.
Asumsi dasar APBN 2026 sendiri menetapkan Indonesian Crude Price (ICP) di level 70 dolar AS per barel.
Baca juga: Rupiah Menguat Pagi Ini, ke Level Rp 16.988 per Dollar AS
Pelebaran defisit terutama dipicu oleh meningkatnya beban subsidi energi, seiring keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan ini menjadikan APBN sebagai peredam lonjakan harga energi, dengan potensi tambahan beban subsidi yang diperkirakan mencapai Rp 100 triliun.
Untuk menjaga stabilitas fiskal, pemerintah akan menempuh langkah penghematan, termasuk efisiensi belanja kementerian dan lembaga secara bertahap serta pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL) untuk menutup potensi pelebaran defisit.