Bitcoin Terjepit Sentimen Global, Investor Besar Ramai-ramai Jual
– Harga Bitcoin (BTC) masih bergerak di bawah tekanan sentimen global, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan aksi jual dari investor besar (whales) yang membebani pergerakan harga.
Mengutip Bloomberg, Jumat (3/4/2026), harga Bitcoin bertahan di kisaran bawah rentang perdagangannya dalam sebulan terakhir.
Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sempat turun hingga 3,6 persen ke level 65.709 dollar AS sebelum memangkas penurunan pada sesi perdagangan New York.
Pelemahan juga terjadi pada aset kripto lain. Ether tercatat turun hingga 5,9 persen, sementara Solana melemah dengan besaran yang hampir sama.
Baca juga: Emas Anjlok, Bitcoin Ungguli 20 Persen, Tanda Rotasi Besar Aset Global?
Tekanan di pasar kripto tidak terlepas dari perkembangan global. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan akan melanjutkan perang melawan Iran, yang memicu kekhawatiran di pasar energi. Hingga kini, belum ada tanda-tanda Selat Hormuz akan kembali dibuka.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia bertahan di level tinggi. Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak hingga di atas 111 dollar AS per barel. Dampaknya, pasar saham dan obligasi global bergerak fluktuatif di tengah ekspektasi harga energi yang tetap tinggi.
Chief Market Analyst FxPro, Alex Kuptsikevich, mengatakan pernyataan terbaru Trump memicu aksi jual tajam di pasar karena minimnya sinyal de-eskalasi. Ia menyebut harga Bitcoin kini bergerak dalam kisaran 66.000 dollar AS hingga 69.000 dollar AS.
Baca juga: Gejolak Global Dorong Bitcoin (BTC) Ungguli Emas dan Saham
Sementara itu, Co-founder Orbit Markets, Caroline Mauron, menilai Bitcoin masih cenderung mengikuti arah pasar saham, meski dalam beberapa pekan terakhir sensitivitasnya terhadap sentimen mulai berkurang.
Di tengah tekanan tersebut, Bitcoin sebenarnya sempat menunjukkan ketahanan. Sepanjang Maret 2026, Bitcoin naik sekitar 2 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sekaligus mengakhiri tren penurunan selama lima bulan berturut-turut.
Namun, dari sisi jangka lebih panjang, harga Bitcoin masih terkoreksi sekitar 45 persen dari puncaknya di level 126.000 dollar AS pada Oktober.
Data CryptoQuant menunjukkan permintaan terhadap Bitcoin masih lemah. Indikator yang membandingkan permintaan dengan pasokan baru dari aktivitas penambangan tercatat negatif sekitar 63.000 token pada akhir Maret lalu.
Baca juga: Harga Bitcoin Melemah ke Posisi 68.784,76, Imbas Ultimatum Trump ke Iran Terkait Selat Hormuz?
Aksi jual investor besar menjadi salah satu faktor utama tekanan. Kelompok whales tercatat beralih menjadi penjual bersih dan telah melepas Bitcoin dalam jumlah signifikan sepanjang satu tahun terakhir.
Trader Wintermute, Jasper De Maere, menyebut data on-chain mengonfirmasi minimnya keyakinan pelaku pasar saat ini.
"Data onchain mengkonfirmasi apa yang telah diisyaratkan oleh pergerakan harga: tidak ada keyakinan sama sekali," ujarnya.
Dari sisi aliran dana, tekanan juga terlihat pada exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat. Pada Rabu, dana keluar mencapai 174 juta dollar AS, sehingga arus bersih kembali negatif.
Meski demikian, sepanjang Maret ETF tersebut masih mencatat arus masuk bersih sekitar 1,1 miliar dollar AS, setelah sebelumnya mengalami arus keluar selama empat bulan berturut-turut. Namun, aliran dana ini dinilai sangat sensitif terhadap perubahan kondisi makroekonomi global.
Tag: #bitcoin #terjepit #sentimen #global #investor #besar #ramai #ramai #jual