Daftar HSC Dirilis, Harga Saham Langsung Bergejolak
- Pergerakan sembilan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau _high shareholding concentration_ (HSC) menunjukkan volatilitas tajam hingga perdagangan sesi kedua, Senin (6/4/2026).
Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat sembilan emiten yang memiliki tingkat kepemilikan oleh kelompok tertentu di atas 95 persen.
Emiten tersebut meliputi PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) dengan konsentrasi kepemilikan 95,47 persen, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) sebesar 97,75 persen, serta PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) yang mencapai 98,35 persen.
Baca juga: BEI Rilis Daftar Saham dengan Kepemilikan Tinggi, Simak 9 Emiten HSC Tertinggi
Selain itu, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan hingga 99,77 persen, diikuti PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) sebesar 95,94 persen dan PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) yang mencapai 99,85 persen.
Sementara itu, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) memiliki konsentrasi kepemilikan sebesar 95,35 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 95,76 persen, serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 97,31 persen.
Adapun, saham LUCY menguat sebesar 9,76 persen ke level Rp1.125 setelah HSC dirilis otoritas pasar modal pada Kamis (2/4/2026). Pada awal sesi perdagangan hari ini, harga saham LUCY sempat tertekan hingga kisaran Rp 935, sebelum berbalik arah dan menguat.
Sementara itu, saham AGII menguat 2,70 persen ke posisi Rp 3.420.
Pergerakan saham ini sempat bergerak _sideways_ sebelum melonjak ke level tertinggi _intraday_ di kisaran Rp 3.520, lalu terkoreksi tipis dan bergerak konsolidatif di area Rp 3.400-an.
Berbeda arah, saham SOTS mengalami tekanan cukup dalam dengan penurunan 14,58 persen ke angka Rp 820.
Harga sempat melonjak hingga Rp 960, namun tidak mampu bertahan dan berbalik turun akibat aksi jual.
Tekanan jual juga terjadi pada saham MGLV yang melemah 10 persen ke Rp 4.230.
Sejak awal perdagangan, saham ini bergerak turun dan cenderung stagnan di level bawah.
Kondisi serupa terlihat pada saham ROCK yang juga turun 11,04 persen ke Rp 1.975.
Setelah sempat menyentuh Rp 2.230, saham ini berbalik arah dan mengalami penurunan bertahap.
Saham Abadi Lestari Indonesia atau RLCO juga terkoreksi 14,23 persen ke posisi Rp 5.275.
Saham ini dibuka di angka tinggi sekitar Rp 6.150, namun langsung mengalami tekanan jual hingga menjelang akhir perdagangan.
Saham DSSA melemah 7,67 persen ke Rp 64.975.
Pergerakan menunjukkan penurunan tajam di awal sesi sebelum bergerak stabil di kisaran Rp 64.000– Rp 66.000.
Selanjutnya, Barito Renewables Energy alias BREN turun 9,38 persen ke Rp 4.350.
Harga sempat tertekan hingga Rp 4.170, sebelum pulih, namun belum kembali ke level pembukaan.
Di sisi lain, saham Ifishdeco atau IFSH mencatatkan penguatan paling signifikan sebesar 24,79 persen ke Rp 2.240.
Saham ini melonjak dari posis Rp 1.530 dan bertahan di area tinggi hingga menjelang akhir sesi perdagangan hari ini.
Untuk diketahui, BEI sebelumnya telah merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan transparansi pasar sekaligus memberikan informasi tambahan bagi investor dalam mempertimbangkan keputusan investasi.
Pelaksana tugas Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa status HSC tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap ketentuan _free float_ di pasar modal. “Tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran,” ujar Jeffrey.
Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, saat ditemui di gedung BEI, Rabu (11/2/2026)Meski demikian, BEI mendorong emiten yang masuk dalam daftar tersebut untuk meningkatkan porsi kepemilikan publik.
Setelah melakukan perbaikan, emiten dapat melaporkan kepada BEI untuk dilakukan evaluasi ulang.
Jika konsentrasi kepemilikan telah menurun, maka status HSC dapat dicabut.
Senada, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi memastikan publikasi daftar tersebut tidak akan mengganggu mekanisme pasar.
Ia menambahkan, data tersebut dapat menjadi informasi tambahan yang berfungsi sebagai peringatan dini bagi investor dalam mengambil keputusan. “Ini bukan karena pelanggaran tertentu, tetapi untuk membuka informasi terkait saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi pada segelintir pihak,” kata Hasan.
OJK bersama _Self-Regulatory Organization_ (SRO), termasuk BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terus melakukan sosialisasi kebijakan ini guna meningkatkan pemahaman pelaku pasar.
Ke depan, OJK juga akan memperkuat komunikasi dengan penyedia indeks global serta menghimpun masukan dari investor untuk meningkatkan kualitas transparansi di pasar modal Indonesia.
Baca juga: Masuk Daftar Saham HSC, DSSA Sebut Free Float 20 Persen