Harga Plastik Melambung, Pelaku UMKM Bagai Makan Buah Simalakama
Abdul Mustafa, pedagang plastik di Pasar Baru, Kota Balikpapan, mengaku harga plastik terus mengalami kenaikan setiap tiga hari sekali.(KOMPAS.COM/Erik Alfian)
07:16
13 April 2026

Harga Plastik Melambung, Pelaku UMKM Bagai Makan Buah Simalakama

- Harga plastik kemasan yang melambung menjadi beban bagi pelaku UMKM khususnya yang bergerak di bisnis makanan dan minuman.

Tanpa intervensi dari pemerintah, para pedagang saat ini bagai makan buah simalakama. Para penjual yang tidak menaikkan harga produk di tengah kenaikan harga plastik terancam mengalami penyusutan laba.

Di sisi lain, pedagang yang menaikkan harga produk karena kenaikan harga plastik kemasan juga berpotensi ditinggal pelanggan.

Seorang pedagang angkringan di Sleman. D.I. Yogyakarta bernama Slamet (56) mengatakan, harga plastik yang naik usai Lebaran kemarin menjadi tambahan pengeluaran baru yang tidak disangka.

Sebagai pedagang angkringan, kebutuhan plastik bening sebagai pembungkus es hingga gorengan tidak bisa dilepaskan. Belum lagi, ia juga harus menyediakan plastik kresek untuk pembelian dalam jumlah yang lebih besar.

"Ini plastik (bening) ini sebelum Lebaran harganya Rp 36.000, kemarin beli sudah Rp 42.000," ujar dia ketika ditemui Kompas.com.

Baca juga: Tak Cuma RI, Harga Plastik di Malaysia Juga Naik 40 Persen

Slamet menceritakan, satu pak plastik bening tersebut biasanya habis dalam tiga hari. Otomatis dalam seminggu sekurang-kurangnya ia akan membutuhkan dua pak plastik kiloan tersebut.

Kendati demikian, ia tidak langsung menaikkan harga es atau makanan di angkringannya dengan adanya kenaikan harga plastik kemasan tersebut.

Ia mengaku akan menanggung kenaikan harga plastik tersebut meskipun menggerus laba penjualan hariannya. Ia berharap harga plastik akan kembali ke nominal sebelumnya.

"Ya biar aja, nanti moga-moga turun lagi harganya," ucap dia.

Sepenanggungan, Tari seorang pengusaha laundry di kawasan Sleman juga mengeluhkan hal yang serupa. Ia mengaku, kenaikan harga plastik laundry terasa lebih berat ketika membeli dalam partai besar.

Tari biasanya membeli plastik pembungkus baju laundry dalam jumlah yang besar seharga Rp 800.000 per pak dengan berat mencapai 20 kg.

"Sekarang harganya bisa Rp 1,2 juta," ucap dia.

Baca juga: Babak Belur UMKM, Terpukul Lonjakan Harga Plastik

Tari juga tak dapat langsung menaikkan harga laundry dengan adanya kenaikan harga plastik tersebut. Namun di sisi lain, ia juga harus merelakan keuntungan yang biaya dikantongi menjadi pengeluaran untuk membeli plastik ini.

Sementara itu, Teguh seorang penjual pempek gerobakan di kawasan Kemandoran, Jakarta Selatan juga mengakui kenaikan harga plastik ini menjadi faktor yang memberatkan.

Ia menjelaskan, plastik yang semula harganya Rp 6.000 per pak kecil harganya bisa mencapai Rp 10.000 saat ini.

"Kemarin itu naiknya Rp 2.000 per hari, saya juga nggak tahu kenapa bisa gitu, padahal itu plastik yang paling cocok," ucap dia.

Kenaikan harga plastik kemasan tersebut membuat Teguh harus bersiasat. Kini ia terpaksa berganti merek plastik yang kualitasnya berada di bawah kemasan biasanya dengan harga yang sama dengan sebelumnya.

"Saya pakai yang lain, harganya masih Rp 6.000, tapi isinya memang lebih sedikit," ucap dia.

Kenaikan harga plastik ini juga membuat ia tidak pernah membeli stok plastik dalam jumlah yang besar.

Ia berharap harga plastik dapat turun kembali dalam waktu dekat. Pasalnya, harga bahan baku pembuatan pempeknya juga banyak yang sudah naik.

"Yang jadi soal kalau (plastik) tiba-tiba habis waktu jualan, saya bingung cari plastiknya di mana," ucap dia.

Teguh menjelaskan, kenaikan harga pada plastik kresek lebih tinggi dibandingkand dengan plastik bening untuk makanan.

Kenaikan harga plastik di Jakarta capai 40 persen

Kenaikan harga plastik di Provinsi Jakarta mencapai 30–40 persen sejak akhir Maret 2026. Kawasan dengan lonjakan paling tinggi terjadi di wilayah Jakarta Barat.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo mengatakan, kenaikan ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Wilayah tersebut merupakan salah satu pusat produksi petrokimia dunia karena ketersediaan minyak dan gas sebagai bahan baku utama plastik.

Kondisi tersebut menyebabkan rantai pasokan bahan baku plastik global terganggu hingga saat ini.

Kenaikan harga ini terjadi pada berbagai jenis plastik di seluruh wilayah Jakarta.

"Jenis plastik seperti kantong kresek, plastik kemasan makanan atau minuman berjenis Polyethylene Terephthalate (PET) dan Polyethylene (PE) mengalami kenaikan harga di seluruh wilayah," ucap dia dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Sabtu (11/4/2026).

Kantong kresek mengalami kenaikan sekitar 40 persen menjadi Rp 17.000 per pak dari sebelumnya Rp 11.000.

Kenaikan tertinggi terjadi di Jakarta Barat yang mencapai Rp 19.000, sedangkan terendah di Jakarta Selatan sebesar Rp 14.833.

Sementara itu, plastik kemasan makanan atau minuman berbahan PET juga mengalami kenaikan sekitar 35 persen menjadi Rp 22.000 per pak dari sebelumnya Rp 15.771.

Kenaikan tertinggi kembali terjadi di Jakarta Barat hingga Rp 24.600, sedangkan terendah di Jakarta Selatan sebesar Rp 18.111.

Di sisi lain, produksi domestik disebut baru mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan bahan baku plastik nasional.

Kenaikan harga plastik dipengaruhi faktor global

Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga (UNAIR), Atik Purmiyati, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik di Indonesia berkisar antara 30 persen hingga 80 persen hingga April 2026.

Menurut dia, lonjakan tersebut tidak terlepas dari konflik geopolitik global yang berdampak pada pasokan minyak dunia.

“Kenaikan tersebut karena bahan baku utama pembuatan plastik di Indonesia bergantung pada impor sebesar 60 persen,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (10/4/2026).

Ketergantungan pada impor ini membuat harga plastik domestik sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok global.

Ketika distribusi terganggu dan harga minyak mentah meningkat, biaya bahan baku plastik pun ikut terdorong naik.

Kondisi serupa juga disampaikan oleh pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M Sri Wahyudi Suliswanto.

Ia menilai lonjakan harga plastik hingga 100 persen dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dan bahan baku akibat konflik global.

“Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi.

Pelaku UMKM dihadapkan pada dua pilihan sulit

Kenaikan biaya produksi akibat mahalnya plastik menempatkan pelaku UMKM dalam posisi sulit. Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berisiko. Hal ini ibarat menelan buah simalakama.

Ketika pelaku usaha menaikkan harga jual produk, ada kemungkinan konsumen akan beralih ke alternatif lain, terutama di tengah daya beli masyarakat yang masih terbatas.

Namun, jika harga tetap ditahan, margin keuntungan akan semakin tergerus dan berpotensi mengancam kelangsungan usaha.

Wahyudi menggambarkan kondisi ini sebagai dilema serius. UMKM harus memilih antara mempertahankan pelanggan atau menjaga keberlanjutan bisnisnya.

Tag:  #harga #plastik #melambung #pelaku #umkm #bagai #makan #buah #simalakama

KOMENTAR