Wall Street Reli, Pasar Abaikan Gagalnya Perundingan AS-Iran dan Fokus ke Data Ekonomi
- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Selasa (15/4/2026) waktu setempat, meski pasar sempat dibayangi kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Investor tetap menunjukkan optimisme bahwa peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka, sehingga sentimen risiko kembali membaik.
Mengutip CNBC pada Rabu (15/4/2026), penguatan dipimpin oleh indeks S&P 500 yang naik 1,18 persen ke level 6.967,38, mendekati posisi tertinggi dalam 52 minggu terakhir dengan selisih kurang dari 1 persen.
Baca juga: BRI (BBRI) Bagikan Dividen Rp 346 per Saham, Cek Jadwal
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 317,74 poin atau 0,66 persen ke 48.535,99, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,96 persen ke 23.639,08.
Kenaikan Wall Street terutama ditopang oleh saham sektor teknologi.
Oracle mencatat lonjakan 4,7 persen, melanjutkan reli lebih dari 12 persen pada sesi sebelumnya.
Saham Nvidia dan Palantir Technologies juga naik.
Meski negosiasi AS-Iran pada akhir pekan dilaporkan gagal, pasar terlihat tidak terlalu bereaksi negatif.
Presiden AS Donald Trump menyebut adanya sinyal komunikasi dari pihak Iran yang masih membuka peluang kesepakatan.
Pernyataan tersebut dinilai cukup untuk meredam kekhawatiran investor dalam jangka pendek.
Penguatan yang terjadi bahkan mampu menghapus seluruh tekanan yang sempat dialami S&P 500 sejak konflik Iran memanas.
Ahli strategi investasi Baird, Ross Mayfield, menilai pasar saat ini telah mengantisipasi sebagian besar risiko dari konflik tersebut.
“Saya tidak ingin menutup kemungkinan bahwa bisa terjadi eskalasi kembali dan penurunan lebih lanjut dari sini, tetapi saya pikir hal itu kecil kemungkinannya. Saya menilai pasar sudah memperhitungkan sebagian tingkat kekhawatiran terhadap Iran,” ujar Ross Mayfield.
Ia memproyeksikan kemungkinan eskalasi lanjutan relatif kecil, dengan posisi pasar yang kini kembali mendekati level tertinggi sepanjang masa, didukung oleh musim laporan keuangan yang berpotensi memperkuat sentimen positif.
“Sepertinya kita telah kembali mendekati level tertinggi sepanjang masa dengan posisi pasar yang jauh lebih bersih, didukung oleh insentif dan latar belakang yang lebih kondusif, serta berada di tengah musim laporan keuangan yang berpotensi mendorong sentimen bullish,” paparnya.
Dari sisi energi, harga minyak mentah justru mengalami koreksi tajam.
Kontrak West Texas Intermediate (WTI) turun 7,87 persen ke level 91,28 dollar AS per barrel, sedangkan Brent melemah 4,6 persen ke 94,79 dollar AS per barrel.
Penurunan ini turut membantu meredakan tekanan inflasi global.
Sentimen positif juga datang dari data ekonomi.
Indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) AS untuk Maret tercatat naik lebih rendah dari ekspektasi pasar, mengindikasikan tekanan inflasi di tingkat produsen mulai mereda.
Namun demikian, tidak semua saham bergerak positif.
Saham Wells Fargo terkoreksi lebih dari 5 persen setelah membukukan kinerja yang mengecewakan.
Sementara itu, JPMorgan Chase memang mencatat laba kuartal I yang melampaui ekspektasi, tetapi penurunan proyeksi pendapatan bunga bersih membuat sahamnya bergerak terbatas di zona negatif.
Baca juga: Bersih-bersih BEI Bakal Delisting 18 Saham, Bos Bursa: Jadi Early Warning buat Investor
Tag: #wall #street #reli #pasar #abaikan #gagalnya #perundingan #iran #fokus #data #ekonomi