Studi Temukan Fenomena “AI Brain Fry”, Pekerja Alami Beban Mental Baru
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). (shutterstock)
14:28
16 April 2026

Studi Temukan Fenomena “AI Brain Fry”, Pekerja Alami Beban Mental Baru

— Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) selama ini dipromosikan sebagai alat yang dapat memangkas beban kerja manusia.

Narasi yang berkembang menyebut AI sebagai “asisten digital” yang mampu mengambil alih tugas-tugas rutin, sehingga pekerja bisa lebih fokus pada pekerjaan strategis.

Namun, temuan terbaru justru menunjukkan sisi lain dari adopsi teknologi ini.

Baca juga: Airlangga: Ekonomi RI Tumbuh 5,39 Persen, Digitalisasi dan AI Jadi Motor Baru

Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). WIKIMEDIA COMMONS/JERNEJ FURMAN Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Alih-alih meringankan pekerjaan, penggunaan AI yang intensif dalam beberapa kasus justru memicu kelelahan mental baru yang kini dikenal sebagai “AI brain fry”.

Istilah tersebut merujuk pada kondisi kelelahan kognitif akibat penggunaan atau pengawasan AI yang melampaui kapasitas mental manusia.

Fenomena ini menjadi sorotan dalam laporan terbaru yang dirilis dalam Harvard Business Review.

Ketika AI menambah beban, bukan mengurangi

Secara konsep, AI dirancang untuk meningkatkan efisiensi kerja.

Baca juga: Studi Visa: Penggunaan AI Naik, Kepercayaan Jadi Hambatan

Namun dalam praktiknya, penggunaan AI sering kali menuntut manusia untuk tetap berada dalam loop pengawasan, memeriksa, mengedit, dan memastikan hasil kerja AI tetap akurat.

Dikutip dari CNN, Kamis (16/4/2026), AI brain fry didefinisikan sebagai kelelahan mental yang muncul akibat penggunaan atau pengawasan AI yang berlebihan melampaui kapasitas kognitif seseorang.

Alih-alih memberikan waktu luang, pekerja justru dihadapkan pada pola kerja baru yang ditandai dengan multitasking intensif.

Boston Consulting Group (BCG) dalam studinya mencatat, pekerjaan kini sering kali berubah menjadi aktivitas mengelola berbagai agen AI secara bersamaan, mulai dari chatbot, generator konten, hingga sistem otomatis lainnya.

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.Alibaba Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca juga: Elon Musk Minta Bank Besar Langganan Grok AI untuk Ikut IPO SpaceX

“Bertentangan dengan janji memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada pekerjaan bermakna, juggling dan multitasking justru menjadi ciri utama bekerja dengan AI,” tulis peneliti dalam laporan tersebut.

Kondisi ini memicu tekanan mental yang tidak selalu terlihat, tetapi berdampak langsung pada kualitas kerja.

“Seperti ada banyak tab di otak”

Dampak dari AI brain fry tidak hanya bersifat abstrak. Para pekerja yang mengalami kondisi ini menggambarkannya sebagai sensasi “kabut mental” atau bahkan “dengungan” di kepala.

Seorang manajer teknik senior dalam studi tersebut menggambarkan pengalamannya: “Seperti ada selusin tab browser di kepala saya, semuanya berebut perhatian.”

Baca juga: Ambisi Baru Elon Musk, Siapkan Terafab untuk Produksi Chip AI

Ia juga mengaku harus membaca ulang pekerjaan berkali-kali, lebih sering meragukan keputusan sendiri, serta menjadi lebih mudah kehilangan fokus.

Kondisi ini menunjukkan bahwa beban kognitif yang dihasilkan AI tidak sekadar tambahan pekerjaan, melainkan perubahan cara otak bekerja.

Dalam studi yang dilakukan BCG yang melibatkan 1.488 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat (AS), ditemukan bahwa penggunaan AI dalam jumlah besar tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas.

Produktivitas memang meningkat ketika pekerja menggunakan hingga tiga alat AI. Namun, ketika jumlahnya mencapai empat atau lebih, produktivitas justru menurun.

Baca juga: Hadapi Tantangan AI, Pendidikan RI Dituntut Lebih Adaptif

Beban kognitif yang terukur

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI dengan tingkat pengawasan tinggi, misalnya membaca dan mengoreksi hasil AI, menuntut energi mental yang lebih besar dibandingkan tugas otomatis.

Ilustrasi kelelahanfreepik.com Ilustrasi kelelahan

Pekerja yang berada dalam kondisi tersebut dilaporkan mengeluarkan 14 persen lebih banyak usaha mental, mengalami 12 persen peningkatan kelelahan, dan 19 persen peningkatan overload informasi.

Julie Bedard, Managing Director dan Partner BCG sekaligus penulis studi, menjelaskan kondisi ini sebagai tekanan akibat percepatan ritme kerja.

“Orang-orang menggunakan alat ini dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, tetapi juga merasa mencapai batas kapasitas otak mereka,” ujarnya.

Baca juga: Efisiensi Berbasis AI, Meta Disebut Bakal PHK 20 Persen Karyawan

“Segalanya bergerak terlalu cepat, dan mereka tidak memiliki kapasitas kognitif untuk memproses semua informasi dan membuat semua keputusan," tutur Bedard.

Dengan kata lain, AI bukan hanya mempercepat pekerjaan, tetapi juga mempercepat tekanan dalam pengambilan keputusan.

Dampak nyata: error hingga keinginan resign

Konsekuensi dari AI brain fry tidak berhenti pada kelelahan.

Studi menunjukkan adanya peningkatan kesalahan kerja, kelelahan dalam mengambil keputusan (decision fatigue), hingga meningkatnya keinginan untuk keluar dari pekerjaan.

Baca juga: Perusahaan Mulai Andalkan AI Real-Time untuk Baca Peluang Bisnis

Peneliti BCG mencatat bahwa kondisi ini membawa biaya signifikan berupa peningkatan kesalahan, kelelahan keputusan, dan niat untuk resign.

Dalam studi BCG, sekitar 34 persen pekerja yang mengalami AI brain fry menyatakan keinginan untuk meninggalkan pekerjaan mereka. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 25 persen pada pekerja yang tidak mengalami kondisi tersebut.

Selain itu, fenomena ini juga berpotensi berdampak pada perusahaan secara finansial. Keputusan yang tidak optimal akibat kelelahan kognitif dapat menimbulkan kerugian signifikan.

Paradoks produktivitas AI

Temuan mengenai AI brain fry menambah panjang perdebatan soal dampak AI terhadap produktivitas.

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) dapat menciptakan deepfake berbau pornografi.Telegraph Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) dapat menciptakan deepfake berbau pornografi.

Baca juga: Operator Parkir Mulai Gunakan AI, Keamanan Kendaraan Jadi Prioritas

Di satu sisi, sejumlah laporan menunjukkan bahwa AI mampu meningkatkan efisiensi kerja.

Namun di sisi lain, bukti empiris menunjukkan bahwa peningkatan tersebut tidak selalu konsisten di tingkat organisasi secara keseluruhan.

Analisis Goldman Sachs, misalnya, tidak menemukan hubungan berarti antara adopsi AI dan produktivitas pada tingkat ekonomi secara keseluruhan, kecuali pada sektor tertentu seperti layanan pelanggan dan pengembangan perangkat lunak.

Sementara itu, studi lain menunjukkan bahwa AI justru dapat meningkatkan beban kerja karena pekerja harus memproses lebih banyak informasi dalam waktu yang sama.

Baca juga: Dari SEO ke GEO, Strategi Baru Brand di Era AI Generatif

Francesco Bonacci, CEO Cua AI, menggambarkan fenomena ini sebagai “vibe coding paralysis”.

“Saya mengakhiri hari dengan kelelahan, bukan karena pekerjaannya, tetapi karena mengelola pekerjaan itu," tuturnya.

Pernyataan ini mencerminkan perubahan mendasar: pekerjaan bukan lagi sekadar menyelesaikan tugas, melainkan mengelola sistem yang menghasilkan tugas.

AI sebagai “manajer baru”

Salah satu akar masalah AI brain fry adalah perubahan peran manusia dalam proses kerja.

Baca juga: Amazon Tetap Sediakan AI Claude, Kecuali untuk Proyek Militer

Jika sebelumnya pekerja bertindak sebagai pelaksana, kini mereka beralih menjadi “manajer” bagi sistem AI.

Namun, seperti halnya mengelola tim manusia, mengelola AI juga membutuhkan keterampilan tersendiri, mulai dari menentukan instruksi, memverifikasi hasil, hingga mengoreksi kesalahan.

Peneliti menyamakan pengalaman ini dengan seseorang yang baru belajar mengemudi tetapi langsung diberikan mobil berkecepatan tinggi.

Ilustrasi artificial intelligence (AI).canva.com Ilustrasi artificial intelligence (AI).

“Ini adalah alat yang belum pernah kita miliki sebelumnya," ungkap Matthew Kropp, Managing Director BCG dan co-author studi tersebut.

Baca juga: Agen Asuransi Tak Bisa Digantikan AI, Apa Alasannya?

Perubahan ini membuat banyak pekerja belum sepenuhnya siap secara kognitif maupun sistem kerja.

Perlu penyesuaian, bukan penolakan

Meski menimbulkan tantangan, para peneliti menekankan bahwa solusi bukanlah menghindari AI, melainkan mengelolanya dengan lebih baik.

Bedard menilai banyak perusahaan melakukan kesalahan dengan menambahkan AI ke dalam beban kerja yang sudah ada, tanpa mendesain ulang peran karyawan.

Pendekatan tersebut justru memperparah tekanan kerja karena pekerja harus menggabungkan sistem lama dan baru secara bersamaan.

Baca juga: China Jadikan AI Tulang Punggung Ekonomi dalam Rencana Pembangunan 5 Tahun

Sebaliknya, perusahaan disarankan untuk memberikan pelatihan, mengatur prioritas, serta membatasi jumlah alat AI yang digunakan secara simultan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa dukungan manajemen dan pelatihan dapat menurunkan tingkat AI brain fry.

Selain itu, pekerja dianjurkan untuk mengatur penggunaan AI dalam blok waktu tertentu dan memberikan jeda sebelum mengambil keputusan penting.

Antara adaptasi dan risiko jangka panjang

Fenomena AI brain fry masih tergolong baru dan berpotensi merupakan bagian dari fase adaptasi terhadap teknologi.

Baca juga: Accenture: Era Baru Perbankan Dimulai dengan AI dan Mata Uang Digital

Namun, temuan awal menunjukkan bahwa tanpa pengelolaan yang tepat, AI dapat menciptakan tekanan baru dalam dunia kerja modern, terutama terkait beban kognitif dan kualitas pengambilan keputusan.

Di tengah percepatan adopsi AI secara global, perusahaan dan pekerja dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan antara produktivitas dan kapasitas manusia.

Alih-alih sekadar mengandalkan teknologi untuk meningkatkan output, pendekatan yang lebih terukur dalam penggunaan AI menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kinerja dan kesehatan mental tenaga kerja.

Tag:  #studi #temukan #fenomena #brain #pekerja #alami #beban #mental #baru

KOMENTAR