Rupiah Bertahan di Atas Rp 17.100, Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Global
Ilustrasi rupiah. (Shutterstock/Travis182)
16:00
16 April 2026

Rupiah Bertahan di Atas Rp 17.100, Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Global

Nilai tukar rupiah di pasar spot masih bertahan di atas Rp 17.100 per dollar AS.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah ditutup menguat tipis 0,03 persen ke level Rp 17.138 pada Kamis (16/4/2026). Posisi ini naik 4 poin dibandingkan penutupan Rabu di Rp 17.143 per dollar AS.

Penguatan rupiah didorong meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai sentimen positif muncul setelah pernyataan Gedung Putih yang membuka peluang kesepakatan.

“Gedung Putih menyatakan optimisme pada hari Rabu tentang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran, sambil juga memperingatkan peningkatan tekanan ekonomi terhadap Teheran jika tetap menentang,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Kamis sore ini.

Baca juga: Rupiah Melemah, Inflasi Meninggi: Saatnya Bertahan atau Berubah?

Meski begitu, tekanan terhadap Iran belum mereda. Washington menegaskan akan meningkatkan tekanan ekonomi jika negosiasi gagal.

Teheran disebut dapat mempertimbangkan membuka jalur pelayaran di sisi Oman, Selat Hormuz, jika kesepakatan tercapai.

Selat Hormuz memegang peran penting dalam distribusi energi global. Sekitar 20 persen minyak dunia dan gas alam cair melewati jalur ini.

Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sebelumnya sempat mengganggu pasokan energi global. Gangguan terjadi akibat hambatan logistik di Selat Hormuz.

Upaya diplomasi masih berlangsung. Pejabat kedua negara mempertimbangkan melanjutkan pembicaraan di Pakistan.

Kepala militer Pakistan juga telah tiba di Teheran untuk mendorong mediasi dan mencegah eskalasi.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade terhadap pengiriman dari pelabuhan Iran. Kebijakan ini menghentikan aktivitas perdagangan laut negara tersebut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan tidak akan memperpanjang pengecualian pembelian minyak Iran dan Rusia tanpa sanksi.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti kenaikan utang luar negeri Indonesia.

Baca juga: Rupiah Melemah, CPO Menguat: Keuntungan Ganda Pengusaha Sawit RI

Posisi utang luar negeri mencapai 437,9 miliar dollar AS pada Februari 2026. Angka ini naik dari Januari sebesar 434,9 miliar dollar AS.

Secara tahunan, utang luar negeri tumbuh 2,5 persen. Laju ini lebih tinggi dibandingkan Januari yang tumbuh 1,7 persen.

Kenaikan terutama berasal dari sektor publik, khususnya bank sentral. Arus modal asing masuk ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ikut mendorong peningkatan.

Sebaliknya, utang luar negeri sektor swasta mengalami penurunan.

Utang pemerintah tercatat sebesar 215,9 miliar dollar AS. Posisi ini tumbuh 5,5 persen secara tahunan, meski sedikit melambat dari bulan sebelumnya.

Perkembangan ini dipengaruhi penyesuaian pada instrumen surat utang negara. Ibrahim juga mengingatkan tekanan fiskal mulai meningkat.

Defisit anggaran hingga Maret 2026 mencapai 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Nilainya setara Rp 240 triliun.

Angka ini melonjak dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 0,4 persen atau Rp 100 triliun.

Ia menilai pemerintah berpotensi merevisi asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Agustus.

Risiko muncul jika harga minyak bertahan di kisaran 100 dollar AS per barrel. Angka ini jauh di atas asumsi awal 70 dollar AS per barrel.

“Risiko kenaikan harga BBM bersubsidi membayangi untuk menahan laju defisit agar tidak menjebol batas 3 persen , sebuah langkah yang berisiko memicu stagflasi,” paparnya.

Tag:  #rupiah #bertahan #atas #17100 #menguat #tipis #tengah #ketegangan #global

KOMENTAR