Berapa Idealnya Menabung dan Investasi dari Gaji? Ini Rekomendasinya
Menentukan berapa persen penghasilan yang sebaiknya dialokasikan untuk investasi kerap menjadi pertanyaan dasar bagi banyak orang yang mulai mengelola keuangan.
Tidak sedikit yang merasa ragu: apakah harus langsung besar, atau cukup mulai dari kecil?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua orang. Namun, ada sejumlah panduan umum yang bisa dijadikan titik awal, sekaligus membantu membangun kebiasaan investasi secara bertahap.
Baca juga: Investasi Tanpa Ribet, Ini Strategi 90/10 ala Warren Buffett
Ilustrasi investasi.
Investasi dimulai dari kebiasaan, bukan nominal besar
Salah satu pesan utama adalah bahwa investasi bukan soal angka absolut, melainkan konsistensi.
Banyak orang menunda investasi karena merasa penghasilannya belum cukup besar, padahal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan sejak dini.
Dalam praktiknya, seseorang dengan penghasilan lebih kecil tetapi disiplin berinvestasi justru bisa mengumpulkan hasil yang lebih baik dibanding mereka yang berpenghasilan besar namun tidak rutin menyisihkan dana.
Kisaran ideal: dari “cukup baik” hingga “sangat baik”
Ada beberapa kategori umum untuk mengukur alokasi investasi dari penghasilan, yakni sebagai berikut.
- Sekitar 10 persen dari penghasilan dapat dianggap sebagai awal yang baik
- 15 persen atau lebih sering disebut sebagai target yang lebih ideal
- 20 persen atau lebih masuk kategori sangat baik atau agresif
Baca juga: Jumlah Investor Ritel RI Melejit, Ini Kesalahan Investasi Tiap Generasi
Angka-angka ini tidak bersifat mutlak. Setiap individu memiliki kondisi keuangan yang berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan juga perlu disesuaikan.
Tidak harus langsung tinggi, yang penting mulai dulu
Ilustrasi investasi
Bagi banyak orang, terutama yang masih memiliki beban pengeluaran besar, menyisihkan 15 sampai 20 persen penghasilan bisa terasa berat. Dalam kondisi seperti ini, langkah kecil tetap dinilai penting.
Bahkan, memulai dari 3 sampai 5 persen sudah cukup untuk membangun kebiasaan investasi. Seiring waktu, porsi tersebut dapat ditingkatkan secara bertahap.
Matt Rogers, perencana keuangan bersertifikat dan direktur perencanaan keuangan di eMoney Advisor, menekankan pentingnya pendekatan bertahap ini.
Baca juga: Bingung Pilih Tabungan atau Investasi? Ini Cara Menentukannya
“Jika Anda tidak investasi sama sekali, investasi sebagian kecil dari penghasilan Anda pun merupakan awal yang baik," kata Rogers, dikutip dari CNBC, Jumat (17/4/2026).
Menurut dia, langkah awal, meski kecil, tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kebiasaan finansial jangka panjang.
Prioritas: lunasi utang dan bangun fondasi keuangan
Selain menentukan porsi investasi, Anda juga perlu memahami pentingnya urutan prioritas dalam pengelolaan keuangan. Sebelum meningkatkan investasi secara agresif, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Melunasi utang berbunga tinggi
- Membangun dana darurat
- Baru meningkatkan investasi
Rogers juga mengingatkan, strategi keuangan harus melihat keseluruhan kondisi, bukan hanya investasi. Ia menekankan bahwa keputusan alokasi dana perlu mempertimbangkan kewajiban finansial lain yang dimiliki seseorang.
Baca juga: Tokenized Stocks Buka Peluang Investasi Saham Global bagi Investor Ritel
Dana darurat jadi penyangga utama
Investasi tidak berdiri sendiri. Salah satu komponen penting yang perlu disiapkan adalah dana darurat.
Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah
Idealnya, dana darurat mencakup tiga sampai enam bulan biaya hidup. Dana ini berfungsi sebagai bantalan ketika terjadi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendesak.
Tanpa dana darurat, seseorang berisiko harus mencairkan investasi pada saat yang tidak tepat, misalnya ketika pasar sedang turun.
Menyesuaikan dengan tahap kehidupan
Besaran investasi juga dipengaruhi oleh fase kehidupan:
- Usia muda cenderung bisa lebih agresif karena memiliki waktu lebih panjang
- Usia menengah mulai menyeimbangkan antara investasi dan kebutuhan keluarga
- Mendekati pensiun, fokus pada stabilitas dan perlindungan aset
Semakin dini seseorang mulai berinvestasi, semakin besar manfaat dari efek compounding.
Baca juga: Bingung Mulai Investasi? Ini Cara Menentukan Tujuan yang Tepat
Aturan sederhana sebagai panduan
Untuk mempermudah pengelolaan keuangan, ada beberapa pendekatan yang sering digunakan, seperti aturan 50/30/20, yakni sebagai berikut.
- 50 persen untuk kebutuhan
- 30 persen untuk keinginan
- 20 persen untuk tabungan dan investasi
Aturan ini membantu memberikan gambaran awal tentang bagaimana membagi penghasilan secara proporsional.
Tantangan nyata: biaya hidup dan tekanan finansial
Dalam praktiknya, banyak orang menghadapi tantangan seperti kenaikan biaya hidup dan tekanan ekonomi. Hal ini membuat target investasi ideal sulit dicapai.
Baca juga: BSI Tawarkan Investasi Emas Seharga Secangkir Kopi untuk Investor Pemula
Dalam konteks ini, fleksibilitas menjadi penting. Tidak ada angka yang wajib dipenuhi, selama seseorang tetap bergerak ke arah yang lebih baik.
Ilustrasi investasi. Cara beli ORI028. Kupon ORI028. Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI028.
Konsistensi lebih penting dari timing
Banyak investor pemula terjebak pada pertanyaan tentang waktu terbaik untuk mulai investasi.
Namun, pendekatan yang lebih relevan adalah memulai sesegera mungkin dan melakukannya secara konsisten.
Dengan investasi rutin, risiko akibat fluktuasi pasar jangka pendek dapat ditekan. Strategi ini membantu menjaga disiplin tanpa harus menebak pergerakan pasar.
Baca juga: Edukasi Jadi Kunci Pengembangan Investasi Aset Kripto
Menentukan target berdasarkan tujuan
Besaran investasi ideal juga bergantung pada tujuan finansial masing-masing, seperti misalnya sebagai berikut.
- Dana pensiun
- Pembelian rumah
- Pendidikan anak
- Kebebasan finansial
Semakin besar target dan semakin singkat waktu yang tersedia, semakin besar pula alokasi investasi yang dibutuhkan.
Disiplin dan otomatisasi
Salah satu strategi yang disarankan adalah mengotomatisasi investasi, misalnya melalui pemotongan otomatis dari rekening setiap bulan.
Cara ini membantu menjaga konsistensi dan mengurangi kemungkinan dana digunakan untuk kebutuhan konsumtif.
Baca juga: WEF Ungkap Tren Investasi Gen Z, Lebih Cepat dan Lebih Berani Risiko
Rogers juga menekankan pentingnya konsistensi dalam jangka panjang, bukan sekadar besaran awal. Fokus pada kebiasaan dinilai lebih menentukan hasil dibanding upaya sesaat yang tidak berkelanjutan.
Ilustrasi investasi. Reksa dana. Reksa dana pasar uang. Reksadana pasar uang.
Tidak ada angka universal
Pada akhirnya, tidak ada angka tunggal yang bisa diterapkan untuk semua orang. Kondisi keuangan setiap individu berbeda, mulai dari tingkat pendapatan hingga tanggungan dan tujuan finansial.
Angka seperti 10 persen, 15 persen, atau 20 persen sebaiknya dipahami sebagai panduan, bukan kewajiban.
Fokus pada arah, bukan kesempurnaan
Bagi investor ritel, langkah terpenting adalah memulai dan menjaga konsistensi. Memulai dari angka kecil, lalu meningkatkannya secara bertahap, merupakan pendekatan yang lebih realistis.
Baca juga: Konglomerat Mulai Gemar Investasi ke Perhiasan, Apa Sebabnya?
Seperti disampaikan Rogers, bahkan langkah kecil tetap berarti selama dilakukan secara konsisten. Pendekatan ini membuat investasi menjadi bagian dari kebiasaan finansial, bukan beban yang sulit dijalankan.
Tag: #berapa #idealnya #menabung #investasi #dari #gaji #rekomendasinya