BBG Dinilai Solusi Energi Masa Depan: Hemat Biaya dan Ramah Lingkungan
Bahan Bakar Gas (BBG) dinilai mampu menjadi solusi kebutuhan energi di masa depan.
Secara teknis, BBG dapat menjadi energi alternatif sekaligus menjadi standar baru yang mendukung performa mesin kendaraan lebih optimal dan ramah lingkungan.
Direktur Operasi dan Komersial PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) Maisalina mengatakan, BBG mengandung nilai oktan (Research Octane Number/RON) yang tinggi di kisaran 120 hingga 130.
Baca juga: Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
“Hal ini memungkinan mesin beroperasi dengan rasio kompresi yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan efisiensi termal mesin secara optimal,” kata Maisalina dalam keterangan resmi, Jumat (17/4/2026).
Maisalina mengatakan, sebagai bahan bakar yang kandungan utamanya adalah metana (CH4), pembakaran BBG pada mesin lebih sempurna dan ramah lingkungan.
Dia menjelaskan, BBG juga menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah sekitar 20 persen dibandingkan bahan bakar minyak (BBM) dan tidak meninggalkan residu pada komponen mesin.
“Dengan manfaat yang optimal pada mesin, penggunaan BBG dapat membuat mesin lebih awet dan mengurangi biaya perawatan,” ujarnya.
Baca juga: PGN Siagakan Bengkel BBG di Jalur Pantura Jelang Mudik Lebaran
Maisalina mengatakan, kendaraan yang menggunakan BBG menggunakan tangki khusus yang menampung BBG hingga 15 liter gas per tangki.
Tangki BBG dirancang dengan standar keamanan yang tinggi.
Apabila ada kebocoran, gas akan segera naik dan mengurai di udara sehingga tidak menimbulkan ledakan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir mengenai aspek keamanan, karena pemasangan setiap converter kit maupun tangki BBG melalui standar yang keselamatan internasional oleh tenaga ahli yang kompeten,” jelas Maisalina.
Baca juga: PGN Ajak Jurnalis Naik Taksi BBG dalam Roadshow AJP 2025 Teritori Jatimbalinus
Adapun rata-rata pemakaian BBG pada kendaraan pribadi sebesar 10 liter setara pertalite (LSP) per hari, taksi 20 LSP per hari, bajaj dan angkot 15 sampai 20 LSP per hari.
Sedangkan untuk kendaraan jenis truk atau bis rata-rata pemakaian 125 hingga 165 LSP per hari.
Untuk pemakaian 1 LSP dapat menempuh jarak hingga 10 KM.
“Harga BBG juga stabil di angka Rp 4.500 per LSP, sangat bersahabat karena sumber gasnya berasal dari sumber domestik,” ujar Maisalina.
Baca juga: Bengkel Keliling BBG PGN Menyasar Kota Besar, Hemat dan Ramah Lingkungan
“Dengan banyak manfaat yang dapat dirasakan, kami berharap minat terhadap BBG semakin meningkat,” lanjut Maisalina.
Sebagai bagian dari Subholding Gas Pertamina, Maisalina mengatakan bahwa pihaknya juga terus memperkuat kapabilitas agar layanan BBG semakin massif dan optimal sebagai solusi bahan bakar yang andal bagi masyarakat di berbagai wilayah.
BBG dapat dikonversi ke beberapa jenis kendaraan yang dedicated BBG fuel dan kendaraan yang menerapkan sistem dual fuel, di mana kendaraan dipasang converter kit sebagai switch sehingga dapat menggunakan BBG dan BBM secara bergantian.
Sistem tersebut juga dapat membuat jarak tempuh kendaraan semakin panjang.
Baca juga: Dukung Pencapaian NZE, PGN Pasang Converter Kit BBG di 67 Taksi Online
Saat ini BBG telah banyak dipakai oleh, taksi konvensional, taksi online, bajaj, kendaraan pribadi, angkot dan transjakarta.
Maisalina menegaskan bahwa Gagas juga menjalin kemitraan dengan Komunitas Mobil Gas (Komogas) yang ikut berperan penting dalam membangun ekosistem BBG di Indonesia yang relevan dengan masyarakat.
Ketua Komogas, Andy Lala, menjelaskan bahwa penggunaan BBG dipilih anggota komunitas karena harga BBM yang semakin tinggi, ruang bakar yang lebih bersih, serta keterbatasan anggaran untuk membeli kendaraan listrik baru, sehingga BBG menjadi solusi yang terjangkau dan efisien.
“Untuk itu, kami berharap dukungan kendaraan dengan BBG dapat diperkuat, termasuk ketersediaan bengkel khusus BBG yang mudah dijangkau, seperti Bengkel Keliling BBG,” ujar Andy.
Baca juga: Subholding Gas Pertamina Utamakan Keamanan dan Keselamatan Program Pemanfaatan BBG untuk Kendaraan
“Keberadaan Bengkel Keliling BBG sangat bermanfaat karena memudahkan perawatan dan perbaikan kendaraan BBG, mengurangi kesulitan mencari bengkel khusus, dan membantu menjaga waktu kerja pengemudi,” tegas Andy.
Sebelumnya, Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Tony Setia Boedi Hoesodo, memilih menggunakan BBG untuk kendaraan pribadinya sebagai bagian dari komitmen terhadap energi yang lebih bersih.
Ia melengkapi mobilnya dengan converter kit yang memungkinkan sistem bahan bakar ganda (dual fuel), sehingga kendaraan dapat beroperasi menggunakan BBG maupun bahan bakar minyak (BBM).
Langkah tersebut disebut sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Baca juga: Gandeng JNE, PGN Implementasikan Konversi BBG untuk Efisiensi Kendaraan Logistik
“Kami ingin memberikan contoh nyata bahwa pemakaian BBG adalah pilihan yang cerdas untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Tony dalam keterangan resminya, Jumat (3/4/2026).
Selama periode angkutan Lebaran 2026, PGN turut menghadirkan layanan Bengkel Keliling Compressed Natural Gas (CNG) di wilayah Cirebon, Jawa Barat.
Fasilitas ini disediakan untuk memastikan kendaraan berbahan bakar gas tetap dalam kondisi aman dan prima, khususnya saat digunakan untuk perjalanan jarak jauh.
Inisiatif tersebut merupakan hasil kolaborasi PGN, Gagas, dan Komogas.
Baca juga: Pilot Project Konversi Sepeda Motor BBG Libatkan Mitra Ojol
Layanan ini difokuskan bagi pengemudi transportasi daring serta angkutan harian yang memanfaatkan BBG sebagai sumber energi utama.
Tag: #dinilai #solusi #energi #masa #depan #hemat #biaya #ramah #lingkungan