Buka-Tutup Selat Hormuz, Kapan Harga Plastik Bisa Turun?
Warga memilih gelas plastik di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). Harga produk berbahan plastik di pasar tersebut beranjak naik sejak awal April 2026 akibat terganggunya impor bahan baku dari Timur Tengah, seperti nafta sebagai bahan utama yang menyebabkan pasokan berkurang dan biaya produksi serta distribusi meningkat sehingga mendorong kenaikan harga jual di tingkat pedagang berkisar Rp4.000 - Rp10.000 per produk atau sekitar 30 hingga 80 persen.
06:17
20 April 2026

Buka-Tutup Selat Hormuz, Kapan Harga Plastik Bisa Turun?

- Selat Hormuz kembali ditutup setelah Iran sempat membuka jalur penting perdagangan dunia tersebut pada Jumat pekan lalu.

Hal ini dipicu oleh laporan serangan terhadap kapal-kapal yang mencoba melintas di sana.

Padahal banyak pihak memandang pembukaan Selat Hormuz tersebut dapat berpengaruh pada perbaikan dampak yang terjadi di Tanah Air, seperti kenaikan harga kemasan plastik.

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menjelaskan, bahan baku pembuatan plastik yang merupakan produk petrokimia memang mendapatkan sentimen positif dari pembukaan Selat Hormuz ini.

Kelancaran lalu lintas membuat pasokan dapat pulih seperti sedia kala.

"Walaupun kelancarannya tidak langsung ya serta merta, mungkin ada leg waktu, jadi tidak bisa terlalu cepat pulih," ungkap dia kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Baca juga: Menperin Kumpulkan Produsen Plastik, Sebut Stok Aman

Dengan demikian, kondisi tersebut juga akan tercermin pada harga komoditas lain seperti minyak dan gas.

"Yang jelas dengan pembukaan Selat Hormuz mestinya memberikan efek positif pada penurunan harga," terang dia.

Sebagai catatan, produk yang akan terpengaruh dengan adanya pembukaan Selat Hormuz ini adalah minyak, gas, dan produk petrokimia.

"Yang akan kembali lebih lancar dengan pembukaan Selat Hormuz adalah lalu lintas minyak, gas, dan petrokimia," kata dia.

Faisal memerinci, perbaikan rantai pasok petrokimia akan memengaruhi produksi plastik. Sedangkan komoditas seperti minyak dan gas punya pengaruh sampai ke industri penerbangan yang harga tiketnya naik karena kenaikan harga avtur.

Baca juga: Harga Plastik Melonjak, Industri Diminta Tak Bergantung Satu Pemasok Bahan Baku dan Perkuat Stok

Selat Hormuz sempat terbuka, harga plastik tak langsung turun

Selat Hormuz yang sempat dibuka pada akhir pekan kemarin tidak bisa ditarik lurus sebagai sinyal penurunan harga kemasan plastik.

Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang, Syafruddin Karimi menjelaskan, jalur pelayaran yang dibuka kembali memang dapat menurunkan tekanan akut pada harga minyak dan memperbaiki ekspektasi pasar.

Meskipun demikian, harga plastik dibentuk oleh rantai yang lebih panjang dan lebih rumit daripada crude oil saja.

Plastik bergantung pada feedstock seperti nafta dan propana, lalu pada olefin seperti etilena dan propilena, lalu pada kapasitas operasi kompleks petrokimia.

"Masalahnya, dua risiko terakhir belum sepenuhnya pulih," ungkap dia.

Ilustrasi Selat Hormuz.Wikimedia Commons/Earth Science and Remote Sensing Unit, NASA Johnson Space Center. Kenapa Iran Kembali Menutup Selat Hormuz Setelah Kurang dari 24 Jam Dibuka? Ilustrasi Selat Hormuz.Data feedstock menunjukkan level tinggi, dengan Naphtha CIF NWE seharga 950 dollar AS per ton, Naphtha 1H 1.135 dollar AS, Naphtha 2H 1.006 dollar AS, dan Propane C+F sekitar 900,75 dollar AS.

Di saat yang sama, masih terdapat serangan terhadap kompleks petrokimia Asaluyeh dan Marvdasht. Artinya, walau risiko maritim menurun, risiko pada pusat produksi petrokimia masih besar.

"Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar tetap akan membeli kepastian dengan harga tinggi, menahan stok, dan memasukkan premi risiko ke harga resin. Karena itu, pembukaan Hormuz lebih tepat dibaca sebagai sinyal meredanya tekanan, bukan sinyal otomatis turunnya harga plastik," ungkap dia.

Pembukaan Selat Hormuz bisa redakan risiko jangka pendek

Syafruddin menjelaskan, pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat terjadi kemarin dapat dibaca sebagai peredaan risiko jangka pendek, bukan pemulihan penuh.

"Efek pertamanya memang positif, tekanan pada pasar energi mereda, harga minyak turun dari sekitar 95 dollar AS per barrel ke bawah 89 dollar AS per barrel, dan sentimen pasar global membaik," ujar dia.

Namun demikiain, ia menilai pembukaan kembali jalur ini mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) karena turunnya harga energi dinilai dapat mengurangi tekanan inflasi.

"Bagi Indonesia, perkembangan ini penting karena biaya impor energi, biaya transportasi, dan tekanan inflasi impor bisa sedikit melunak bila penurunan harga itu bertahan," imbuh dia.

Akan tetapi, ia bilang, pembukaan Hormuz tidak menghapus fakta bahwa sebelumnya perang telah memangkas lalu lintas kapal menjadi hanya sebagian kecil dari level normal. Hal ini membuat ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut terjebak di kawasan teluk.

Itu berarti ekonomi Indonesia tetap menghadapi risiko dari ongkos logistik, lead time, dan premi keamanan yang belum sepenuhnya normal.

"Jadi, cara paling tepat memahami efek pembukaan Hormuz adalah ini, ia menurunkan suhu krisis, tetapi belum memulihkan fondasi pasokan dan perdagangan ke keadaan aman," terang dia.

Dampak pembukaan Selat Hormuz pada berbagai sektor

Syafruddin menjabarkan, sektor yang terdampak langsung adalah sektor yang sangat sensitif terhadap energi, logistik, dan bahan baku petrokimia.

Sedengakan industri makanan dan minuman, farmasi, otomotif, elektronik, konstruksi, logistik, dan barang konsumsi akan merasakan dampak paling cepat karena mereka memakai kemasan, film, botol, wadah, pipa, atau komponen berbasis resin.

Data harga menunjukkan, resin utama masih berada di level tinggi, misalnya PP Injection FEA dengan harga 1.320 dollar AS per ton dan HDPE Film FEA dengan harga 1.300 dollar AS.

Pada level hulu, harga Ethylene NEA berada di level 1.435 dollar AS per ton dan Propylene Korea di 1.305 dollar AS per ton. Hal ini menegaskan tekanan biaya pada bahan baku plastik belum hilang.

"Sektor terdampak tidak langsung mencakup UMKM, perdagangan ritel, jasa distribusi, dan rumah tangga, karena kenaikan harga kemasan dan barang turunan pada akhirnya akan diteruskan ke harga jual," ucap dia.

Tak hanya itu, Syafruddin menyampaikan, rumah tangga berpendapatan rendah akan merasakan dampak paling berat saat harga air minum kemasan, makanan olahan, produk kebersihan, dan kebutuhan harian lainnya ikut naik.

"Jadi, pembukaan Hormuz tidak hanya menyentuh sektor energi. Dampaknya menjalar ke struktur biaya industri dan biaya hidup masyarakat," ucap dia.

Efek konflik geopolitik, harga kemasan plastik melambung

Di tengah konflik geopolitik yang terjadi, harga plastik di Tanah Air melonjak tajam dalam waktu singkat.

Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyebut pasar telah masuk fase baru, yakni “ganti harga”.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono mengatakan lonjakan dipicu gangguan pasokan global. Tekanan utama berasal dari konflik di Timur Tengah, terutama di jalur Selat Hormuz.

“Harga bahan baku plastik yang sebelumnya sekitar 1.000 dollar AS per metrik ton, kini sudah naik hingga 1.800 dollar AS. Artinya kenaikannya hampir 80 persen,” ujar Fajar dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).

Kenaikan mulai terasa di sektor hilir. Harga produk plastik jadi naik antara 40 persen hingga 80 persen.

Kenaikan mencakup kemasan yang banyak digunakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Fajar menyebut dampak sudah dirasakan masyarakat. Pedagang makanan dan pelaku UMKM mulai mengeluhkan lonjakan harga kemasan.

Selat Hormuz kembali ditutup

Kabar teranyar menyebutkan, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz kembali diberlakukan, kurang dari sehari setelah jalur tersebut sempat dibuka untuk lalu lintas pelayaran.

Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan, selat akan tetap ditutup hingga blokade Amerika Serikat dicabut.

Iran juga memperingatkan tidak ada kapal yang boleh bergerak dari area jangkar di Teluk Persia dan Laut Oman.

Setiap kapal yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap bekerja sama dengan musuh dan berpotensi menjadi target.

Penutupan ini terjadi setelah Iran sebelumnya menyatakan pada Jumat Selat Hormuz dibuka untuk kapal komersial selama masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

Sementara itu, penutupan kembali dilakukan karena Amerika Serikat tidak memenuhi kesepakatan.

Iran menuduh AS tetap menjalankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Tag:  #buka #tutup #selat #hormuz #kapan #harga #plastik #bisa #turun

KOMENTAR