Strategi Investor Ritel Saat IHSG Turun: Hindari Saham Ini, Pilih yang Likuid
ilustrasi IHSG (canva.com)
10:16
22 April 2026

Strategi Investor Ritel Saat IHSG Turun: Hindari Saham Ini, Pilih yang Likuid

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengharuskan investor ritel menata ulang strategi trading dan investasinya.

Di tengah ketidakpastian arah pasar, investor ritel disarankan mengurangi eksposur pada saham dengan free float rendah dan kategori High Shareholding Concentration (HSC). Sebagai gantinya, ritel mulai beralih ke emiten yang lebih likuid hingga memiliki fundamental kuat.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai strategi investasi yang tepat saat ini bukan menahan diri sepenuhnya, melainkan menjadi lebih selektif dan terukur dalam memilih saham.

Baca juga: Teknologi AI Real-Time Dorong Investor Ritel Lebih Adaptif di Pasar Saham

Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.

“Strategi investasi yang bijak bukan berarti berdiam diri, melainkan menjadi lebih selektif dan terukur. Investor disarankan untuk mengurangi eksposur pada saham dengan free float rendah atau yang masuk kategori HSC, sambil mengalihkan fokus ke emiten berlikuiditas tinggi, free float besar, dan fundamental yang solid,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2026).

Satu hal yang perlu dicermati investor ritel adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan kenaikan bobot saham Indonesia dalam indeks globalnya.

Menurutnya, keputusan tersebut bukan sekadar urusan teknis indeks, dampaknya bersifat struktural dan berjangka menengah.

Pembekuan berarti kapasitas pasar modal Indonesia untuk menyerap aliran dana dari investor institusi global, seperti dana indeks pasif dan ETF, menjadi semakin terbatas ke depannya.

Baca juga: Saham Kandidat MSCI Melemah, Investor Ritel Disarankan Tenang dan Tak Panic Selling

Karena itu, saham-saham berkategori HSC seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menghadapi risiko penurunan visibilitas di mata investor asing, dan dana pasif kemungkinan telah mulai mengurangi posisi secara bertahap.

Ilustrasi saham, laba bersih. Freepik Ilustrasi saham, laba bersih.

“Namun penting untuk tidak bereaksi berlebihan, ini bukan krisis fundamental ekonomi, melainkan sinyal bahwa reformasi pasar modal harus dibuktikan lewat implementasi nyata bukan sekadar janji kebijakan di atas kertas,” paparnya.

Secara teknikal, IHSG masih menyimpan potensi rebound, dan pemulihan lebih kokoh ketika ada kejelasan dari review MSCI berikutnya disertai bukti konkret reformasi pasar.

Secara teknikal, IHSG dinilai masih memiliki peluang rebound. Namun, penguatan yang lebih solid akan sangat bergantung pada kejelasan hasil review MSCI berikutnya, serta bukti konkret dari implementasi reformasi pasar.

Baca juga: IHSG Diprediksi Bergerak Terbatas, Ritel Bisa Cermati Saham MDKA, BBRI, hingga NCKL

Ia juga mencatat, momentum untuk kembali masuk ke saham-saham berbasis MSCI umumnya lebih optimal setelah tekanan jual mereda dan arah kebijakan mulai terlihat.

Dalam kondisi seperti ini, manajemen risiko menjadi faktor kunci untuk menjaga portofolio tetap stabil.

Sejumlah saham dinilai layak dicermati investor ritel diantaranya;

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menjadi kandidat swing trade dengan potensi keuntungan sekitar 6-7 persen serta batas risiko yang terukur.

Baca juga: Tenggat MSCI Kian Dekat, Investor Ritel Bisa Incar Saham Fundamenal yang Bagi Dividen

Sementara itu, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) menarik diperhatikan seiring isu geopolitik yang mempengaruhi jalur pelayaran global, dengan target harga hingga Rp 570 dari area beli Rp 535.

Adapun PT PP Presisi Tbk (PPRE) dinilai cocok untuk strategi day trade, dengan target di kisaran Rp 153- Rp 156 dari level masuk Rp 147.

“Di tengah pasar yang masih mencari arah, disiplin pada level beli, target, dan setop loss bukan sekadar strategi, melainkan pembeda antara investor yang bertahan dan yang tersapu arus ketidakpastian,” ujar Hendra.

Sementara itu, Investment Specialist PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mencatat bahwa IHSG berhasil memangkas pelemahan setelah sempat dibuka melemah hampir 1 persen dan ditutup turun 0,46 persen pada perdagangan Selasa (21/4/2026).

Baca juga: Jumlah Investor Ritel RI Melejit, Ini Kesalahan Investasi Tiap Generasi

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Sektor industrial menahan pelemahan indeks dengan menguat sebesar 2,58 persen ditopang oleh saham BNBR yang menguat 11,65 persen.

Meskipun mencatatkan pelemahan, 9 dari 11 sektor justru mencatatkan penguatan.

Ia memperkirakan IHSG pada perdagangan Rabu (22/4/2026) menguat terbatas.

Indeks diprediksi akan bergerak dengan level resistance terdekat di kisaran 7.780, sementara area support di level 7.500.

Baca juga: 18 Emiten Didepak dari BEI, Ini Hak dan Risiko Investor Ritel yang Pegang Sahamnya

Sejalan dengan proyeksi tersebut, sejumlah saham dapat dicermati untuk strategi trading jangka pendek.

PT PP Presisi Tbk (PPRE) direkomendasikan untuk trading buy pada area Rp 135 - Rp 147, dengan target harga di kisaran Rp 163 hingga Rp 170, serta batas risiko (setop loss) di bawah Rp 130.

Selain itu, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) juga menarik diperhatikan dengan strategi trading buy di rentang Rp 640 hingga Rp 660.

Saham ini memiliki potensi kenaikan menuju target harga Rp 685 hingga Rp 700, dengan setop loss di bawah level Rp 630.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #strategi #investor #ritel #saat #ihsg #turun #hindari #saham #pilih #yang #likuid

KOMENTAR