Niat Puasa Arafah Digabung Qadha Ramadan, Bayar Utang Sekaligus Hapus Dosa 2 Tahun
Puasa Arafah menjadi salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam menjelang Hari Raya Iduladha. Puasa yang dilaksanakan setiap 9 Zulhijah ini memiliki keutamaan besar, yakni dapat menghapus dosa selama dua tahun.
Namun, tak sedikit umat Muslim yang masih memiliki utang puasa Ramadan dan bertanya-tanya, apakah puasa Arafah boleh digabung dengan qadha Ramadan? Lalu bagaimana niatnya dan apa hukumnya menurut ulama?
Berikut penjelasan lengkap mengenai niat puasa Arafah sekaligus qadha Ramadan beserta hukum dan dalilnya.
Hukum Menggabungkan Puasa Arafah dengan Qadha Ramadan
Mayoritas ulama membolehkan menggabungkan niat puasa sunnah Arafah dengan puasa qadha Ramadan. Artinya, seseorang tetap bisa mengganti utang puasa Ramadan sekaligus berharap memperoleh pahala puasa Arafah.
Dalam fikih, penggabungan ibadah seperti ini dikenal dengan istilah tasyrik an-niyyah atau menggabungkan dua niat dalam satu amalan.
Meski demikian, para ulama memang memiliki perbedaan pendapat terkait apakah pahala sunnah Arafah diperoleh secara sempurna atau tidak ketika digabung dengan puasa wajib qadha Ramadan.
Namun secara umum, puasanya tetap sah untuk qadha Ramadan dan diharapkan tetap mendapat keutamaan puasa Arafah.
Sebagian ulama juga menyarankan agar utang puasa Ramadan didahulukan karena hukumnya wajib, sedangkan puasa Arafah merupakan sunnah.
Namun jika waktu terbatas dan bertepatan dengan 9 Zulhijah, menggabungkan keduanya tetap diperbolehkan.
Dalil Keutamaan Puasa Arafah
Keutamaan puasa Arafah dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW:
“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR Muslim)
Karena keutamaannya yang besar inilah banyak umat Islam tetap ingin menjalankan puasa Arafah meski masih memiliki utang puasa Ramadan.
Dalil Kewajiban Qadha Ramadan
Kewajiban mengganti puasa Ramadan terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 184:
“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka wajib menggantinya pada hari-hari yang lain.”
Ayat tersebut menjadi dasar bahwa qadha puasa Ramadan hukumnya wajib bagi orang yang meninggalkan puasa karena uzur syar’i.
Berikut bacaan niat puasa Arafah sekaligus qadha Ramadan:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ وَالْقَضَاءِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin
Nawaitu shauma ‘Arafata wal qadha’i lillaahi ta’aalaa.
Artinya
“Saya berniat puasa Arafah sekaligus mengqadha puasa Ramadan karena Allah Ta’ala.”
Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa niat utama cukup diarahkan untuk qadha Ramadan karena hukumnya wajib, sementara pahala puasa Arafah diharapkan mengikuti.
Jika ingin memisahkan niat, berikut bacaan niat qadha Ramadan:
Tulisan Arab
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhaana lillaahi ta’aalaa.
Artinya
“Saya berniat mengganti puasa wajib Ramadan karena Allah Ta’ala.”
Waktu Membaca Niat
Karena qadha Ramadan termasuk puasa wajib, niat sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Hal ini berdasarkan hadis Nabi SAW:
“Siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”
Karena itu, dianjurkan membaca niat sejak malam hari atau saat sahur agar puasa qadha yang dilakukan sah.
Menggabungkan puasa Arafah dengan qadha Ramadan diperbolehkan menurut banyak ulama terutama mazhab Syafii. Dengan satu kali puasa, seseorang dapat menunaikan kewajiban mengganti puasa Ramadan sekaligus berharap memperoleh keutamaan puasa Arafah.
Meski ada perbedaan pendapat mengenai kesempurnaan pahala sunnahnya, amalan tersebut tetap sah dan banyak dipraktikkan umat Islam, terutama ketika waktu menuju Iduladha sudah dekat.
Tag: #niat #puasa #arafah #digabung #qadha #ramadan #bayar #utang #sekaligus #hapus #dosa #tahun