Krisis Selat Hormuz Berlarut, Permintaan Minyak Global Terancam Turun
Selat Hormuz. Daftar Jalur Distribusi Minyak Paling Penting di Dunia, Nomor 1 Bukan Selat Hormuz(Wikimedia Commons/Earth Science and Remote Sensing Unit, NASA Johnson Space Center. Kenapa Iran Kembali Menutup Selat Hormuz Setelah Kurang dari 24 Jam Dibuka?)
21:56
25 April 2026

Krisis Selat Hormuz Berlarut, Permintaan Minyak Global Terancam Turun

– Guncangan pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz mulai menunjukkan dampak yang lebih luas. Meski sejauh ini permintaan belum anjlok drastis, pelaku pasar memperingatkan bahwa penyesuaian besar hampir tak terhindarkan jika krisis terus berlanjut.

Negara-negara maju saat ini masih mengandalkan cadangan energi dan bersedia membayar lebih mahal demi menjaga pasokan tetap aman. Namun, strategi ini dinilai hanya bersifat sementara.

Cadangan menipis, tekanan mulai terasa

Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (25/4/2026), para trader memperkirakan, semakin lama jalur vital tersebut tidak dibuka kembali, konsumsi minyak global harus turun untuk menyesuaikan dengan pasokan yang telah menyusut setidaknya 10 persen.

Baca juga: Militer Iran Kukuh Kendalikan Selat Hormuz, Siap Hadapi Blokade AS

Penurunan ini bisa terjadi karena harga yang semakin mahal atau kebijakan pemerintah yang membatasi konsumsi.

Kehilangan pasokan diperkirakan mencapai sekitar 1 miliar barel. Angka ini lebih dari dua kali lipat cadangan darurat yang sempat dilepas pemerintah di awal konflik pada akhir Februari.

Cadangan tersebut kini terus terkuras. Meski untuk sementara mampu menahan lonjakan harga, kondisi ini tidak bisa bertahan lama.

Setelah memasuki minggu kesembilan penutupan Selat Hormuz, dampak mulai merembet dari sektor yang sebelumnya kurang terlihat.

Ilustrasi kapal kontainer.Freepik/Slon.Pics Ilustrasi kapal kontainer.

Dampak awal dari Asia, kini menyebar secara global

Penurunan permintaan awalnya terjadi di sektor petrokimia di Asia. Namun kini, dampaknya mulai terasa di pasar yang lebih luas, termasuk kebutuhan energi sehari-hari.

Ekonom kepala Trafigura, Saad Rahim, mengatakan penurunan permintaan sebenarnya sudah berlangsung meski belum sepenuhnya terlihat di pusat harga utama.

Baca juga: AS dan Iran Sama-sama Dianggap Langgar Hukum Internasional di Selat Hormuz

“Penyesuaian itu sudah terjadi, tetapi jika kondisi ini berlanjut, skalanya harus semakin besar. Kita berada di titik kritis,” ujarnya dalam forum FT Commodities Global Summit di Lausanne.

Sektor yang paling bergantung pada energi menjadi yang pertama terpukul. Industri petrokimia di Asia dan Timur Tengah serta distribusi LPG di India langsung terdampak setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari.

Kini, dampaknya mulai bergeser ke wilayah Barat dan menyentuh sektor yang lebih dekat dengan aktivitas masyarakat.

Maskapai pangkas penerbangan, BBM mulai tertekan

Maskapai penerbangan di Eropa dan Amerika Serikat (AS) mulai memangkas ribuan jadwal penerbangan. Tekanan biaya bahan bakar menjadi salah satu pemicunya.

Di saat yang sama, konsumsi bensin mulai melemah. Di Amerika Serikat, harga bensin telah menembus 4 dollar AS per galon.

Meski pengeluaran masyarakat meningkat, volume pembelian justru turun sekitar 5 persen dibandingkan tahun lalu.

Baca juga: Jerman Turun Tangan Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Siap Kirim Kapal

Permintaan diesel, yang menjadi tulang punggung distribusi barang dan aktivitas industri, juga mulai tertekan.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak global bulan ini akan mencatat penurunan terbesar dalam lima tahun terakhir.

Ilustrasi kilang minyak.FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

Risiko resesi kian terbuka

Perusahaan perdagangan energi Gunvor memperkirakan gangguan pasokan bisa mencapai 5 juta barel per hari pada bulan depan atau sekitar 5 persen dari total pasokan dunia.

Sejumlah pelaku pasar lainnya menilai dampak saat ini sudah mendekati 4 juta barel per hari.

Tekanan tersebut mulai tercermin pada ekonomi global. Jerman memangkas setengah proyeksi pertumbuhan ekonominya, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) juga menurunkan proyeksi global akibat konflik.

Dalam skenario terburuk Bank Sentral Eropa, harga minyak Brent bisa mencapai 145 dollar AS per barel dan memangkas pertumbuhan ekonomi kawasan hingga setengahnya. Saat ini, harga Brent berada di kisaran 105 dollar AS per barel.

Baca juga: AS Rayu Eropa untuk Bantu Buka Selat Hormuz, Mulai Kewalahan?

Harga minyak dunia bisa melonjak lebih tinggi

Konsultan energi FGE NexantECA memperkirakan gangguan selama 12 minggu dapat mendorong harga minyak dunia menembus 154 dollar AS per barel.

Direktur Transisi Energi FGE, Cuneyt Kazokoglu, menilai banyak pihak belum menyadari besarnya dampak krisis ini.

“Karena belum terlihat krisis besar di Barat, banyak yang mengira dampaknya hanya sebatas kenaikan harga. Padahal, penurunan permintaan akan datang dalam gelombang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Asia menjadi wilayah pertama yang terdampak, disusul Afrika, sementara Eropa mulai merasakan tekanan.

Dalam skenario ekstrem, harga minyak bahkan diperkirakan bisa melonjak hingga 250 dollar AS per barel untuk memaksa pasar mencapai keseimbangan baru.

Baca juga: Sulit bagi Negara Teluk Bangun Kembali Kepercayaan ke Iran, Butuh Waktu Lama

Diesel jadi titik kritis

Salah satu sektor paling rentan adalah distilat menengah seperti diesel. Harga diesel di Eropa sempat melampaui 200 dollar AS per barel bulan lalu, tertinggi sejak 2022.

Di India, operator truk mulai bersiap menghadapi potensi pembatasan pasokan dan kenaikan harga.

Analis Macquarie Group, Vikas Dwivedi, mengingatkan bahwa gangguan pada diesel akan berdampak luas.

“Beberapa minggu ke depan, kita akan melihat masalah dalam pasokan diesel. Ini adalah tulang punggung ekonomi global untuk distribusi barang,” katanya.

Industri penerbangan ikut terpukul

Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling cepat merasakan dampak. Maskapai di Asia seperti Air New Zealand dan operator Vietnam telah lebih dulu memangkas rute.

Dampaknya kini meluas ke Eropa dan Amerika. Lufthansa menghapus sekitar 20.000 penerbangan jarak pendek dari jadwal musim panas, sementara KLM mengurangi operasional.

Di Amerika Serikat, United Airlines menurunkan target pertumbuhan sekitar 5 persen. Kapasitas penerbangan pada paruh kedua 2026 diperkirakan hanya stagnan atau naik tipis.

Baca juga: IRGC Sergap 2 Kapal Kargo Terkait Israel di Selat Hormuz, Tensi Memanas

Dunia “meminjam” pasokan

Pada awal konflik, negara-negara konsumen mencoba meredam krisis dengan melepas cadangan minyak. Negara anggota IEA seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang menggelontorkan sekitar 400 juta barel. China juga memanfaatkan stoknya.

Namun, langkah ini dinilai hanya memberi waktu tambahan, bukan solusi jangka panjang.

CEO Vitol, Russell Hardy, menyebut kondisi ini sebagai bentuk “meminjam pasokan”.

“Kita seperti meminjam pasokan, tetapi itu tidak bisa berlangsung selamanya. Akan ada konsekuensi resesi ketika permintaan harus dijatah,” ujarnya.

Tag:  #krisis #selat #hormuz #berlarut #permintaan #minyak #global #terancam #turun

KOMENTAR