Iran Kembali ke Pakistan, Tapi Trump Pilih Negosiasi via Telepon
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat turun dari pesawat kepresidenan Air Force One, ketika tiba di Bandara Internasional Harry Reid, Las Vegas, Negara Bagian Nevada, 16 April 2026.(AFP/JIM WATSON)
08:24
27 April 2026

Iran Kembali ke Pakistan, Tapi Trump Pilih Negosiasi via Telepon

– Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali singgah sebentar di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (26/4/2026), di tengah upaya menghidupkan kembali perundingan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari CNBC, Senin (27/4/2026), kunjungan singkat ini terjadi saat pemerintah sipil dan militer Pakistan berupaya mempertemukan kembali kedua pihak. Namun, Presiden AS Donald Trump justru menyatakan pembicaraan bisa dilakukan melalui sambungan telepon tanpa perlu mengirim utusan.

Araghchi sebelumnya sempat meninggalkan ibu kota Pakistan pada Sabtu malam, memicu kebingungan terkait rencana putaran kedua pembicaraan. Ia kemudian kembali ke Islamabad sebelum melanjutkan perjalanan ke Moskow pada Minggu, menurut media pemerintah Iran.

Baca juga: Apakah Trump Akan Ambil Opsi Serangan Lanjutan di Iran?

Sebelumnya, Araghchi juga berada di Oman, negara yang pernah menjadi mediator dalam perundingan dan terletak di sisi lain Selat Hormuz yang strategis.

Pekan lalu, Gedung Putih sempat mengumumkan rencana pengiriman utusan, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad untuk menindaklanjuti pertemuan langsung bersejarah awal bulan ini. Namun, rencana tersebut dibatalkan Trump karena dinilai tidak ada kemajuan signifikan.

“Jika mereka mau, kita bisa bicara, tapi kami tidak mengirim orang,” kata Trump kepada Fox News. Ia juga menulis di media sosial, “Yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!!!”

Meski demikian, dua pejabat Pakistan menyebut pembicaraan tidak langsung antara kedua negara masih berlangsung. Mereka meminta identitas dirahasiakan karena tidak berwenang berbicara ke media.

Baca juga: Dari Daerah hingga Korporasi, Trump Serok Obligasi Ratusan Juta Dollar AS

Trump sebelumnya memperpanjang gencatan senjata yang disepakati pada 7 April 2026 tanpa batas waktu.

Kesepakatan itu sebagian besar menghentikan pertempuran yang pecah sejak serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari. Namun, penyelesaian permanen konflik yang telah menewaskan ribuan orang masih belum tercapai.

Selat Hormuz jadi titik krusial

Ketegangan masih berpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia. Iran membatasi pergerakan kapal di wilayah tersebut, sementara AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Iran disebut ingin meyakinkan Oman agar mendukung mekanisme penarikan biaya dari kapal-kapal yang melintas di selat tersebut. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur ini dalam kondisi normal.

Namun, belum ada kejelasan sikap Oman terkait usulan tersebut.

Baca juga: Trump Batal Kirim Utusan ke Pakistan, Klaim AS Pegang Semua Kartu

Seorang pejabat kawasan yang terlibat dalam upaya mediasi menyebut Iran bersikeras blokade AS harus diakhiri sebelum putaran baru perundingan dimulai.

Sementara itu, mediator yang dipimpin Pakistan masih berupaya menjembatani perbedaan besar antara kedua negara.

Pada Minggu (26/4/2026), Araghchi juga melakukan pembicaraan via telepon dengan mitranya di Qatar dan Arab Saudi.

Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya menegaskan bahwa setiap perundingan akan tetap berlangsung secara tidak langsung, dengan Pakistan sebagai perantara.

Sikap ini mencerminkan kehati-hatian Teheran setelah pengalaman perundingan sebelumnya berujung pada serangan dari AS dan Israel.

Baca juga: Iran Sebut Negosiasi Tidak Akan Terwujud jika AS Masih Lakukan Tekanan

Proposal baru dari Iran

Trump mengklaim Iran telah mengajukan proposal yang “jauh lebih baik” tak lama setelah ia membatalkan pengiriman utusan ke Pakistan. Namun, ia tidak merinci isi proposal tersebut.

Trump menegaskan salah satu syarat utama AS adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Isu ini telah lama menjadi sumber ketegangan.

Menurut badan pengawas nuklir PBB, Iran saat ini memiliki 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan 60 persen—hanya selangkah lagi secara teknis menuju tingkat senjata.

Dampak ekonomi dan ancaman militer

Memasuki dua bulan konflik, dampak ekonomi global semakin terasa. Distribusi minyak, gas alam cair, pupuk, dan berbagai komoditas lainnya terganggu akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz.

Ketegangan militer juga terus meningkat. Komando militer gabungan Iran memperingatkan akan memberikan “respons kuat” jika AS melanjutkan aksi militer agresif, termasuk blokade laut.

Baca juga: Trump Undang Pemegang Koin Meme, Nilai Token Justru Anjlok

Di sisi lain, Trump memerintahkan militer untuk “menembak dan menghancurkan” kapal kecil yang diduga memasang ranjau di perairan tersebut.

Korban terus bertambah

Sejak konflik pecah, sedikitnya 3.375 orang tewas di Iran dan 2.509 orang di Lebanon, tempat pertempuran antara Israel dan kelompok Hezbollah kembali memanas dua hari setelah perang Iran dimulai.

Selain itu, 23 orang tewas di Israel dan lebih dari selusin di negara-negara Teluk Arab.

Korban juga mencakup 15 tentara Israel di Lebanon, 13 personel militer AS di kawasan, serta enam pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan.

Gencatan senjata lain antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran juga diperpanjang selama tiga pekan, meski Hezbollah tidak terlibat dalam diplomasi yang dimediasi Washington.

Analis politik independen Pakistan, Syed Mohammad Ali, menilai penundaan perundingan tidak bisa langsung dianggap sebagai kemunduran.

Menurut dia, pembicaraan tidak langsung tetap berjalan dan membutuhkan waktu.

“Hal yang positif adalah gencatan senjata masih bertahan, dan kedua pihak sama-sama ingin mengakhiri konflik tanpa menimbulkan dampak buruk di dalam negeri,” ujarnya.

Tag:  #iran #kembali #pakistan #tapi #trump #pilih #negosiasi #telepon

KOMENTAR