IHSG Diproyeksi Rawan Koreksi, 6 Saham Ini Diprediksi Bisa Cuan
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan Selasa (28/4/2026), seiring meningkatnya ketidakpastian global imbas geopolitik di Timur Tengah.
Adapun, IHSG melemah 22,969 atau 0,32 persen ke level 7.106,520 saat penutupan perdagangan di awal pekan ini.
Analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, memprediksi IHSG bergerak dengan level support di 7.022 dan resistance di 7.177. Pergerakan indeks masih dibayangi oleh dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta fluktuasi harga komoditas minyak mentah yang menjadi perhatian pelaku pasar saat ini.
“Untuk besok (Selasa) kami perkirakan IHSG masih rawan terkoreksi dengan support 7.022 dan resistance 7.177, dimana investor masih mencermati kondisi Timur Tengah dan juga pergerakan harga komoditas minyak mentah,” ujar Herditya saat dihubungi Kompas.com, Senin malam (27/4/2026).
Baca juga: IHSG Melemah Imbas Net Sell Asing Rp 2 Triliun, Bebani 5 Saham Big Caps
Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, memandang tekanan IHSG masih disebabkan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026.
Dari sisi global, pasar masih dibayangi ketidakpastian akibat belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, terutama dari kawasan Timur Tengah yang memiliki peran strategis melalui jalur distribusi minyak seperti Selat Hormuz.
Situasi tersebut membuat harga energi berpotensi tetap tinggi, yang pada akhirnya dapat menahan laju penurunan inflasi global. Dampaknya, ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat juga kembali mengarah lebih ketat, tercermin dari yield US Treasury yang masih bertahan tinggi. Hal ini menambah tekanan bagi aset berisiko, terutama saham berbasis pertumbuhan.
Di dalam negeri, tekanan datang dari penyesuaian harga BBM non-subsidi serta pelemahan rupiah. Kenaikan harga BBM jenis Pertamax dan Dex Series sejak 18 April dipandang sebagai respons atas tingginya harga energi global sekaligus upaya menjaga kredibilitas fiskal.
Pasar pun mulai mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi, khususnya pada sektor transportasi dan logistik yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 April 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan ini disertai intervensi di pasar valas dan optimalisasi instrumen moneter untuk meredam volatilitas.
Namun demikian, pelemahan rupiah tetap meningkatkan risiko inflasi impor dan memperbesar potensi arus keluar dana asing, terutama dari pasar obligasi.
Secara keseluruhan, kombinasi tekanan global dan domestik membuat pasar cenderung bergerak hati-hati dalam jangka pendek. Arah pergerakan IHSG ke depan akan sangat ditentukan oleh efektivitas kebijakan dalam menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi teknikal, IHSG diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Setelah menutup gap di area 7.308–7.346, indeks kini menguji support krusial di rentang 7.100-7.150.
Jika level tersebut gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke area 7.022-7.080 hingga mendekati support psikologis di kisaran 6.917. Meski demikian, kondisi oversold membuka peluang terjadinya technical rebound jangka pendek, meskipun ruang penguatannya dinilai terbatas.
Dari sisi sektoral, sektor energi diperkirakan tetap menjadi penopang utama seiring harga komoditas yang masih tinggi. Sementara itu, sektor transportasi dan logistik juga dinilai relatif lebih tahan terhadap volatilitas.
Dalam kondisi ini, investor disarankan menerapkan strategi defensif dengan tetap disiplin dalam manajemen risiko serta memilih saham yang memiliki kekuatan relatif dan katalis fundamental yang solid.
Berikut rekomendasi saham dari dua analis untuk perdagangan Selasa (28/4/3026).
Indo Premier Sekuritas
PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) direkomendasikan beli pada area Rp 805, dengan target harga Rp 900 dan batas stop loss di Rp 765.
PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) direkomendasikan beli pada harga Rp 945 dengan target harga Rp 1.045 dan stop loss di Rp 890.
Adapun PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) direkomendasikan beli di area Rp 404, dengan target harga Rp 442 dan stop loss di Rp 388.
MNC Sekuritas
Di sisi lain, investor ritel juga dapat mencermati pergerakan saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) pada kisaran Rp 1.720- Rp 1.780, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) di rentang Rp 348- Rp 360, serta PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) pada area Rp 358- Rp 402.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ihsg #diproyeksi #rawan #koreksi #saham #diprediksi #bisa #cuan